
Mutia saat ini sudah berada di Rumah Sakit bersama sang putra kesayangan.
Tidak ada gelisah sama sekali di raut wajahnya, putranya sudah dibeti pengertian jika akan diambil sedikit darahnya untuk test kesehatan agar supaya jikaada penyakit langsung ketahuan, ujar Mutia memberi pengertian pada Putranya dan bacah itupun mengerti dan menurut.
Saat hendak diambil darahnya malah Arjuna yang terlihat tidak tega dia beberapa kali mengusap kepala bocah itu dengan wajah yang pucat karena khawatir.
" Tarik naas ya biar tidak sakit, Ayah akan bantu dengan mengusap pelan", Ujarnya pada Hilmy, bocah itu hanya mengangguk santai, sementara Mutia pura pura tak mendengar ucapan Arjuna.
" Kok Ayah Oom? Hilmy kan sudah punya papa Aldi?", Ujar bocah itu mengerucutkan bibirnya.
" Iya betul Papa Hilmy adalah papa Aldiano tapi Hilmy boleh panggil Oom Ayah, Hilmy mau kan?", Tanya Arjuna lembut.
Hilmy menatap nanar pada Arjuna krmudian pindah pada Mutia seakan minta persetujuan bundanya tersebut.
" Memang boleh bunda?", Tanya bocah itu polos.
" Tanya saja sama Oom, nanti anak Oom marah tidak jika Hilmy panggil ayah atau istri Oom?", Ujar Mutia seraya mengendikkan bahunya.
Bocah itu menirukan ucapan bundanya dengan suara pelan takut takut.
Dan Arjuna langsung menjawab dengan cepat.
" Tidak, tidak ada yang akan marah pada Hilmy, malah Hilmy banyak yang menyayangi, ada Opa dan juga Oma, Opa yang malam malam ke rumah Hilmy dan bicara sama bunda itu, masih ingat?", Ucap Arjuna.
Bocah itu nampak berfikir dengan menengadahkan wajahnya dan jari jemarinya dimulut ia gerak gerakan seakan berfikir berat.
" Hummm.... Tapi papa ku, papa Aldi, Hilmy mau tanya dulu, takutnya dia nanti marah", Ucap bocah itu kembali mengerucutkan bibirnya.
Mendengar hal itu kontan saja Arjuna merasa tersayat hatinya perih sangat, tapi apalah daya penyesalan tiada guna.
Mata Arjuna berkaca kaca mendenar penuturan putranya.
" Papa Aldi baik dia tidak akam marah kok", Rajuk Arjuna, sangat berharap putranya mau menakuinya sebagai atau sekedar memanggilnya Ayah.
" Nanti bunda yang bilang pada papa, jika Hilmy disuruh Oom Arjuna panggil Ayah", Ujar Mutia, baginya kepalang tanggung, tidak mau egois juga, semua sudah ketahuan lebih baik membiasakan Hilmy memanggil Ayah pada Arjuna, namun untuk urusan masa depannya Mutia tidak akan lagi berhubunan dengan Arjuna selain urusan Hilmy.
" Baik Ay-yah!", Suara Hilmy masih ragu.
Arjuna langsung memeluk erat Hilmy dan menciuminya dengan erat, rasanya semua rasa yang ia tahan semenjak saat pertama bertemu Hilmy akan ia curahkan saat ini. Hatinya membuncah sangat bahagia.
__ADS_1
" Sudah Oom eh Ayah, Hilmy tidak suka diuwek uwek... nanti rambut Hilmy jadi berantakan", Bocah itu berlari menghindar dari Arjuna menuju Mutia.
Kata kata Hilmy membuat Arjuna makin gemas.
" Oke siap siap ya sebentar lagi dokternya datang kita sama sama mau diambil darahnya sedikit, setelah itu kita jalan jalannya ya beli mainan", Rayu Arjuna pada Hilmy.
" Hilmy mau makan, sudah lapar, boleh ya bunda kita beli chicken goreng yang besar yang ada kentang, burger dan ada saosnya", Ujar nocah itu. Mutia tahu jika putranya meminta sepertiitu berarti ia sangat lapar dan ia berharap jika pengambilan darah ini tidak akan lama agar segera menuju tempat makan dan anaknya segera makan malam.
" Mari sini anak ganteng, Kenalan dulu siapa namanya?", tanya dokter dengan sangat ramah.
" Hilmy ", jawabnya lantang.
" Hilmi nama yang bagus ya sudah sekolah atau belum?", tanya Dokter kembali seraya menyuntikkan jarum dan menyedot darah Hilmy berapa cc.
" Uuhhh.... Sakiit", mata Hilmi berkaca-kaca namun Arjuna yang memang memangku Hilmi langsung mengusap lembut serta menciumi kepala putranya tersebut sementara itu Mutia kemudian mendekat dan juga tersenyum pada Hilmi di depannya.
" Sakit? sedikit ya sudah tuh, nanti juga Tidak kok", Mutia menyemangati anaknya sementara itu Arjuna yang memangku Hilmi malah berkaca-kaca rasanya tidak tega melihat anaknya tersakiti seperti itu.
" Maafkan ayah nak, sini digendong sama ayah", lirih Arjuna langsung membopong Arjuna dan mengusap punggungnya dengan lembut.
" Yang menyuntik dokter kok Ayah yang minta maaf?", tanya bocah itu dengan nada protes.
" karena Ayah sayang sama kamu kalau bisa rasanya ayah saja yang disuntik HIlmi tidak usah tapi kita berdua sama-sama disuntik", jawab Arjuna.
" Ah iya maaf ayah salah bicara". Ucap Arjuna mengalah pada putranya
Mutia memperhatikan interaksi Arjuna dan putranya, ada rasa lega meskipun Arjuna memiliki anak dari istrinya namun masih bisa memberikan perhatiannya pada Hilmy.
" Biarkan saja lah memang dia bapaknya, tidak bisa aku pungkiri jika rasa nyaman diantara keduanya akan terjalin dengan nalurinya".
" Hasilnya dua minggu lagi ya, nanti akan dikabari", Ucap dokter.
" Iya dok, terima kasih kami permisi".
" Pamit dulu sama dokter", Ujar Mutia pada Hilmy, bocah itu turun dari gendongan Arjuna dan mengajak dokter untuk bersalaman.
" Pamit ya dokter, besok besok jangan ambil darah aku lagi ya, sakit tahu!", Ujar Hilmy ketus ala anak anak.
" Aduuhhh maaf ya, Maafkan dokter ya", Dokter itu mengusap kepala Hilmy dengan lembut dan bocah itu mengangguk saja.
__ADS_1
" Lho kok gitu sama dokter?", Mutia menegur putranya.
" Sakit bunda ", Jawab Hilmy dengan wajah memelas.
" Iya bunda, dokter minta maaf ya", Dokter itupun langsung menyahuti.
" Ya sudah, ini yang terakhir ya Dok, besok besok jangan diambil lagi darah Hilmy kesayangan ayah ini ya", Arjuna langsung membopong kembali putranya.
" Tidak lagi lagi dong, Hilmy kan sehat ya".
" Kami permisi dok, Assalamualaikum".
" Mari mari.... waaalaikum salam".
" Ayah Hilmy lapaaarrr sangat", Ujarnya manja pada Arjuna ketika sampai parkiran.
Sekarang ini mereka menaiki mobil Arjuna karena tadi Arjuna sedikit memaksa Mutia untuk bareng bersama saat hendak berangkat ke Rumah Sakit
Sedikit tergesa Arjuna mengendarai mobilnya menuju Mall yang tidak jauh dari Rumah Sakit tersebut.
Sampai di Mall Arjuna dan Mutia segera mrnuju konter maksnan siap saji yang sedari tadi diinginkan Hilmy.
" Mau pilih sendiri atau Ayah yang pilihkan?", Tanya Arjuna lembut.
" Hilmy mau yang itu", Hilmy menunjuk pada gambar yang tertera didalam ruangan itu.
" Ya itu satu, yang itu satu dan.... Bunda mau yang mana?", Arjuna bertanya pada Mutia meskipun ada sedikit rasa ragu karena menyebut Mutia dengan sebutan bunda tanpa permisi dulu.
" Mau burger saja sama salad ", Jawab Mutia.
" Ya sudah itu mbak", Ujar Arjuna dan membayarnya kemudian mencari tempat duduk.
" Masih sakit hemmm?", Tanya Arjuna pada Hilmy karena bocah itu hanya diam saja.
" Laparrr.... ".
" Uuhhh ... Kasihann", Mutia mengusap putranya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.....