PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Bertemu Kania


__ADS_3

Semenjak malam itu kemudian hari-hari selanjutnya muda dan Arjuna sedikit lebih sering bertemu terutama untuk membahas tentang pengerjaan proyek hotel.


Apalagi semenjak Pak jadi sering sakit-sakitan sehingga mutiara lebih banyak terjun untuk mengurus kerjasama perusahaannya dengan perusahaan milik Arjuna itu.


Hingga beberapa bulan kemudian, Kania meminta Tristan untuk menghubungi Mutia dan meminta waktunya untuk mereka berbicara berdua di sebuah kafe yang sudah mereka sepakati.


Kania mewanti-wanti Tristan untuk tidak menceritakan hal ini kepada Arjuna.


Dan kini Mutia sudah menunggu Kanya dengan santai di sebuah ruangan kafe yang cukup sejuk dengan pemandangan di balik kaca yang lumayan indah.


Sesekali Mutia melihat jam tangannya karena sudah menunggu lebih dari 10 menit Tapi orang yang menginginkan bertemu dengannya belum juga menampakkan batang hidungnya.


Tiba-tiba saja saat Mutia sedang asyik memainkan ponselnya terdengar pintu kaca terdorong dengan penampakan sesosok wanita cantik dari baliknya.


" Selamat siang, Duh... Maaf terlambat, ada sedikit insiden tadi di jalan selain macet karena buru-buru aku sempat menyenggol motor seseorang, maafkan atas keterlambatan saya", ujar wanita itu seraya berjalan tergopoh-gopoh mendekati bangku Mutia.


Sejenak Mutia terpana dengan kecantikan wanita yang ada dihadapannya sekarang.


" Oh, Mbak Tania ya? terus sekarang bagaimana kondisinya Mbak, baik mbak maupun yang anda serempet?", setelah Kania duduk kemudian Mutia menanggapi ceritanya barusan.


" Tidak apa-apa, motornya sedikit lecet dan spionnya pecah, dan saya sudah memberikan uang sebagai penggantinya", jawab Kania tersenyum ramah kemudian mengulurkan tangannya pada Mutia.


" Maaf karena saya telah meminta waktu Mbak Mutia untuk pertemuan ini", ujar Kania kemudian.

__ADS_1


" Oh iya Tidak apa-apa kok, semoga ini menjadi hubungan silaturahmi kita kedepannya Mutia, saya panggil Mutia saja ya soalnya usiaku jauh diatas kamu", Ujar Kania.


" Sudah pesan makan dan minum?", tanyakan ia kemudian melihat di depan meja Mutia masih kosong.


" Belum Mbak mari kita pesan bareng-bareng saja", jawab Mutia.


Kemudian mereka memanggil pelayan untuk memesan makan siang mereka dan merekapun makan bersama setelahnya mereka baru melanjutkan perbincangan nya.


" Boleh saya mau mulai bercerita? karena saya meminta waktu Mbak Mutia di sini memang sebenarnya hanya ingin bercerita dan saya meminta waktu Mbak Mutia untuk mendengarkannya".


" Silahkan semoga saya bisa mendengarkan dan mengerti maksud cerita mbak Kania".


" Saya mengenal Arjuna sudah cukup lama bahkan mungkin lebih dari separoh usia ku, saat SMA kami begitu dekat, bahkan bisa dibilang satu geng, setelah kuliah kami mengambil jurusan yang berbeda namun masih di satu kampus yang sama, lamanya waktu kami saling mengenal saya lumayan tahu banyak mengenai Arjuna, Dia seorang lelaki pemuja jika sedang jatuh cinta, dan Luna lah yang menjadi wanita beruntung saat itu saat kami SMA dan kami kuliah, Arjuna sangat sangat perhatian dengan Luna sangat melindunginya dan kemudian mereka menikah dan terjadilah kecelakaan itu maaf", Kania menatap Mutia dengan penuh selidik ke arah mata Mutia seakan mencari sesuatu yang ingin dia selami.


" Hampir 3 tahun aku menikah dengan Arjuna dan dalam waktu 3 tahun ini saya mengerti ternyata selama ini Arjuna tidak mencintai Luna sebesar cintanya kepada Mu Mutia, aku pasti kan itu".


Mutia mendongak menatap Kania saya akan mencari keyakinan atas pernyataan Kania barusan.


" Saya rasa pernyataan Mbak Kania itu tidak benar, kami sebelumnya tidak pernah kenal dan saat kecelakaan itu terjadi keadaan lampu dalam keadaan mati, dan setelah itu hingga saat ini 5 tahun setelah kejadian kami tidak juga begitu dekat hanya sesekali bertemu untuk membahas putra kami, Saya rasa pernyataan Anda barusan salah Mbak Kania, anda salah paham mengenai Pak Arjuna, jika dia masih punya rasa cinta itu hanya kepada mbak Luna bukan untuk saya, dan mungkin jika telah berubah ya untuk Mbak Kania sebagai istrinya, kami tidak pernah dekat atau pun saling mengenal setelahnya pun kami hanya sesekali bertemu dan berbicara dan itupun lebih banyak mengenai pekerjaan atau mengenai putra kami", Mutia menyayangkan atas pernyataan Kania sangat-sangat tidak yakin jika arjuna menaruh hati padanya.


" Saya rasa kali ini mbak Kania salah paham, sekalipun itu benar maka saya akan membentengi diri sekuat mungkin untuk tidak jadi perempuan perusak rumah tangga mba, saya jamin hati saya tidak akan tega berbuat demikian... jadii.... ", Mutiah merasa tidak enak hati karena dia tidak ingin merusak rumah tangga orang.


Mendengar pernyataan Mutia yang jelas sangat ragu tentang Arjuna dan ia hanya tersenyum dan juga belum menjawab apapun matanya masih menelisik menatap Mutia dengan penuh perhatian seakan ingin menandai secara fisik pada wanita yang berada di hadapannya kini.

__ADS_1


" Jika memang iya Mas Arjuna terpaut hati pada mu Mutia apakah anda mau memaafkan dan menerimanya kembali?", tanya Kania dengan menatap Mutia tajam.


Mutia langsung gelagapan jelas dia tidak siap dengan pertanyaan barusan apalagi tatapan mata dari Kania seakan sangat-sangat menuntut jawaban dengan sangat Jujur dari hatinya.


" Saya rasa itu tidak mungkin, di sini Mbak Tania benar-benar salah paham, Arjuna tidak pernah menginginkan saya, untuk sekedar mengenal pribadi saya pun sepertinya dia juga tidak mau apa lagi sampai jatuh cinta impossible sekali mbak", Mutia terkekeh bukan tanpa alasan dia tidak percaya karena memang dari awal Arjuna menolak mentah-mentah tentang dirinya.


Kania menatap dalam pada manik mata Mutia mencari kebenaran atas ucapan Mutia barusan.


" Mutia... Kamu tahukan jika mas Arjuna depresi karena rasa bersalahnya padamu, karena penyesalannya yang begitu dalam, itu bukan tanpa sebab tetapi karena dia tidak bisa melupan dirimu, bahkan mas Arjuna tidak bisa tidur karena jika matanya terpejam dia selalu melihat mata Mutia yang tidak bisa dia lupakan, dan itu berjalan hingga waktu yang cukup lama hingga akhirnya harus dibantu dengan obat penenang".


" Aku mohon maafkan mas Arjuna Mutia, aku bukan siapa siapa lagi baginya, dan aku juga bukan penghalang, tolong buka hati dan maaf mu untuk mas Arjuna", Kania berkata dengan sangat memohon pada Mutia.


" Maaf mbak, Kita makan dulu mbak, nanti dilanjutkan lagi obrolan kita, nanti keburu dingin", Kania tersenyum pada Mutia kemudian merekapun makan bersama.


" Berapa usia putranu Mutia?", Tanya Kania setelah usai makan.


" Sebentar lagi 5 tahun mbak".


" Oh! laki-laki ya, pasti mirip dengan mas Arjuna".


Mutia tersenyum tidak mengiyakan tidak juga menampik, karena nyatanya Hilmy lebih banya mirip dirinya, bahkan matanya, hanya postur tubuh serta pembawaan yang benar-benar mengikuti Arjuna.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2