PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Memulai aktifitas


__ADS_3

" Mas kamu masih rajin konsultasikan ke tempat prakteknya dokter Arif?", tanya Bu Aryanti pada Arjuna.


" Iya Ma".


" Syukurlah, bagaimana perkembangan yang sekarang? Mas kan sudah menikahi Kania, bahkan status mah sekarang sebagai seorang ayah dari baby Sheila, semoga kehadiran mereka berdua benar-benar berarti baginya ya Mas", Bu Yanti mengusap lembut untuk sang putra.


" Entahlah mah, Mas hanya merasa tidak tega saja saat tahu teman sekolahku membutuhkan pertolongan, seakan-akan mas teringat dengan dosa-dosa mas yang lalu lalu yang tidak pernah bisa Mas lupakan mungkin hingga nyawa ini terlepas dari raga mas, Ma!", ujar Arjuna dengan nada penuh kesedihan.


" Belajarlah untuk menerima kehadiran mereka Mas, jika berniat menolong jangan hanya setengah-setengah", ujar bu Aryanti lembut.


" Mas juga menolong mereka secara total, hingga menikahinya itu hal yang luar biasa dalam hidupku mah, tetapi soal cinta mengenai perasaan dan hati tidak bisa dipaksakan, kelahiran Shaila memang yang membuat aku senang tetapi..... ". Arjuna menghentikan ucapannya, Iya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.


" Ada apa?", tanya Bu Aryanti dengan hati-hati.


" Tidak!, Sheila anak yang lucu dan menggemaskan tentu mas sangat menyayanginya mah, dan suatu hari nanti jika dia sudah bisa berbicara mas sangat ingin mendengar dia memanggil mas dengan sebutan papa".


" iya iya dan mama juga menunggu dia bisa menyebut nenek atau Oma kepadaku dengan senyum lucunya dan itu adalah momen yang sangat membahagiakan".


" iya ", Arjuna hanya menjawab dengan kata yang singkat seperti tak bernyawa entahlah Apa yang sedang dia pikirkan.


" mah, jika suatu hari nanti aku menemukannya dan mendapati kenyataan bahwa diriku telah menikah apa yang akan terjadi ya Ma? mungkinkah Dia sanggup memaafkan dosa-dosaku, Aku menyesal mah, keegoisanku telah mencelakai hidupku sendiri", Arjuna tertunduk lesu kalau mengingat seseorang dari masa lalunya.


" Jadi kan semuanya itu pelajaran, karena kamu sudah mengambil keputusan untuk menikahi Kania jadi belajarlah untuk mencintainya, menerima dia sepenuhnya sebelum akhirnya kamu juga menyesal dengan keputusan baikmu itu", Bu Aryanti kemudian pergi meninggalkan putranya, meskipun ratusan atau bahkan ribuan kali Bu ArYanti menyarankan agar supaya Arjuna mencintai Kania tetapi sepertinya hingga hari ini jawaban Arjuna masih sama.


" Maaa.... kenapa meninggalkanku?", suara Arjuna menggema membuat waryanti menoleh kembali tubuhnya kearah Arjuna.


" Sudah istirahat saja, dan setelah kontrak kerja Kania usai sebaiknya jangan kau izinkan dia untuk mengambil kontrak-kontrak berikutnya, biarkan dia di rumah saja merawatmu dan juga merawat anaknya".


" Mah.... jika aku menemukannya apa yang harus aku lakukan mah?", Arjuna masih berharap mamahnya berada di dekatnya, masih banyak yang ingin dia ceritakan pada mamanya tersebut.

__ADS_1


" Meminta maaf, agar supaya hidupmu tenang mas, dan lanjutkan hidupmu bersama Kania, semoga dia pun telah menemukan orang yang tepat dan bisa menerima dia apa adanya".


Arjuna mendesah, ucapan mamanya seakan tak terdengar sama sekali, harapannya tidak seperti itu, namun jika mengingat kondisinya yang sekarang wajar jika sang mama menyarankan hal seperti itu.


" Mampukah Aku hidup dengan orang yang tidak aku cintai, apakah salah langkah yang aku ambil sejauh ini, aku hanya berniat menolongnya untuk menyelamatkan status anaknya, Hufffttt....", Arjuna membuang nafasnya kasar serta marah wajahnya Ada hal yang membuatnya gusar dan mungkin itu itu yang membuat akhir-akhir ini seperti ada sesuatu yang kambuh dalam dirinya.


" Aku berharap segeralah hari Senin dan proyek itu segera dimulai", batin Arjuna dia tersenyum miring atas dirinya sendiri mentertawakan nasibnya saat ini hanya karena foto yang belum jelas siapa yang berada disana pikirannya sudah melayang-layang jauh seakan yakin jika orang itu adalah orang yang selama ini telah membuatnya tertidur dalam kehampaan.


🌹


" Hilmi.... anak Bunda yang sholeh, yang baik... selama Bunda bekerja tidak boleh nakal ya jadilah anak yang manis sekolah yang betul pr-nya di kerjain dan jangan merepotkan suster Yeyen, Bunda bekerja dulu nanti jika pulangnya Bunda nggak sore tetaplah sabar menunggu bunda di sini ya", Mutia mengusap lembut kepala anaknya kemudian mencium pipi kanan dan kiri Hilmi.


" Iya Bunda, Hilmi anak yang manis kok, gamis oleh di sini, Bunda ndak boleh khawatir", bocah itu mengangguk meyakinkan bundanya bahwa dia seharian ini akan ditinggal bundanya bekerja dia akan baik-baik saja di tempat ini.


" Suster... titip Hilmy ya... nanti jika aku pulang telat aku kabari dulu, terima kasih", Mutia pun kemudian berpamitan kepada sang putra dan juga kepada pengasuhnya yang merupakan guru pengajarnya Hilmi juga.


" Baik Bunda, insyaallah Hilmi aman disini, wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh", jawab pengasuh HIlmi dengan lembut.


Mutia pun kemudian berangkat ke kantor sedikit agak tergesa karena Pak Jodi meminta mutiara untuk datang ke kantor lebih awal mengingat hari ini mereka akan mengerjakan proyek bersama dengan PT MM.


Tidak butuh waktu lama bagi Mutia kurang dari 20 menit sudah sampai kantor dengan selamat mengendarai motor matic nya yang masih dia cicil bulanan nya.


Sebetulnya Mutia kurang suka cara mengkredit seperti ini untuk memiliki barang, selain harganya lebih mahal juga karena merasa terbebani harus membayar cicilan tiap bulannya.


Namun karena keterbatasan dana dan Mutia sangat membutuhkan kendaraan ini untuk menunjang kelancaran aktivitasnya pulang pergi ke kantor, akhirnya Mutia mencicil motor matic nya.


" Selamat pagi bu Mumut.... ", siapa Irvan ramah.


" Pagi, kok masih dikantor, kapan berangkat ke proyek?", tanya Mutia.

__ADS_1


" Penerbangan sore, ini mau urusin perlengkapannya dulu, sekalian ketemu kamu", Irfan tergelak lebar.


" Haisstttt..... Iya deh, harus salam perpisahan dulu ya, kan mau lama tuh disana!", Mutia pun ikut tergelak.


" Sukses ya untuk proyekmu", Doa Irfan jntuk Mutia.


" Iya, semoga.... begitupun untuk proyekmu ya Fan, semoga lancar dan pulang bawa gebetan", Mutia terkekeh.


" Nah itu, doa yang bagus", Jawab Irfan.


" Iya dong aku kan teman baikmu tentu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu", Jawab Mutia.


" Oke, aku lanjut prepare dulu, silahkan lanjut juga kerjamu", Ucap Irfan.


" Aku sebentar lagi otewe proyek tinggal berangkat saja, ini mau ke ruangan pak Jodi", jawab Mutia.


" Oke, lancar selalu bu Mumut", Irfan akhirnya meninggalkan ruangan kerja Mutia dan menuju ruangannya sendiri untuk mempersiapkan berkas di oroyek barunya.


" Oke thanks! Jangan lupa. kabar kabaran jika sudah disana, jangan sibuk cari ciwi saja", Mutia tergelak, Irfanpun membalas ucapan Mutia dengan kedua jempol tangannya yang mengacung keatas.


Mutiapun segera bersiap menuju ruang pak Jodi dan segera bersiap untuk menuju proyek barunya.


" Bismillahirohmanirohim.... semoga lancar", Mutia melafalkan doa sebelum menutup pintu ruangannya.


-


-


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2