
" Mbak!, Mutia dimana ya? Kok dikamar bu Meri tidak ada?", Arjuna kebingungan sendiri mencari Arjuna.
" Tidak, bukannya barusan di dapur?", jawab Winda.
" Bu, lihat Mutia?", Wajah Arjuna langsung pucat pasi ketika bertanya pada ibunya mengenai keberadaan Mutia yang tak terlihat oleh pandangan matanya.
" Mutia? Tadi ada kok, kemana ya?", Bu Aryanti malah bingung sendiri melihat kepanikan Arjuna.
" Mutia...", Arjuna menuju dapur namun juga tidak menemukan yang dicari.
" kamu kenapa panik begitu Jun?", Tanya pak Bahar yang baru saja ditemuainya filorong menuju mushola keluarga bu Meri.
" Lihat Mutia tidak pak?", Tanya Arjuna gugup.
" Ada noo, dimushola dia", Tunjuk pak Bahar santai.
" Makasih pak", Arjuna berlalu dengan cepat menuju mushola tidak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah ditunjuk oleh Pak Bahar.
Dan benar saja Arjuna melihat sosok wanita yang tengah mengenakan mukena tertunduk khusyuk berdoa terdengar sesekali ada sedikit ******* mungkinkah Mutia menangis.
" Bun.... aku mencarimu sedari tadi", ucer Arjuna terduduk lesu di samping Mutia.
Mutia setengah terjingkat karena kaget tiba-tiba saja ada suara di sampingnya sedangkan dirinya tengah tertunduk kyusuk.
" Bukannya Mas pergi meninggalkanku", lirik suara Mutia terdengar.
" Tidak Bunda, mana mungkin, Bunda salah paham, tadi aku berlari ke halaman belakang untuk mencari Hilmi karena saking bahagianya aku tidak sabar ingin segera memeluk putra kita juga ingin segera bersujud mengucapkan syukur kepada ilahi robbi langsung ke bumi ciptaan-Nya", Arjuna mencoba menjelaskan pada Mutia yang betul kata bapaknya jika terjadi salah paham di sini.
" Maaf jika aku membuatmu salah paham, aku terharu Bunda aku benar-benar bahagia hari ini", Arjuna kemudian menatap mati ah dengan intens untuk meyakinkan ucapannya.
__ADS_1
" Maaf aku juga sudah salah sangka, Aku kira hem... ay-ayah ... marah karena harus menunggu jawabanku selama satu minggu", ujar Mutia dengan terbata bingung harus memanggil apa saat ini pada Arjuna.
Mendengar Mutia memanggil dirinya Ayah Arjuna langsung tersenyum lebar rasa bahagianya berlipat-lipat, ternyata betul jika orang bilang obat dari segala penyakit adalah berpasrah menerima semua kondisi dengan mendekatkan diri secara ikhlas semata-mata karena ibadah kepada Robb-Nya.
" Ah Bunda... Terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku, Aku akan berusaha memperbaiki diri agar bisa pantas menjadi imammu", ucap Arjuna tulus.
Mutia mengangguk kemudian tersenyum menatap Arjuna.
" Apakah sudah sholat?", tanya Mutia kemudian.
" Belum?, sebaiknya aku lekas sholat", Arjuna beranjak berdiri untuk mengambil air wudhu.
" Ajaklah putra kita", Mutia mengingatkan Arjuna agar membawa serta Hilmi untuk menunaikan ibadah salat zuhur.
" Baiklah, ayah akan panggil dia dulu", Arjuna bergegas meninggalkan mushola untuk kembali ke taman belakang memanggil Hilmi dan Kenzo untuk diajaknya salat berjamaah.
" Bunda.... Hilmi mau salat lagi bareng dengan ayah, ada Kak Kenzo juga", Hilmi berdiri di depan Mutia dengan senyum lebar yang menampakkan wajahnya basah bekas air wudhu.
" Masya Allah... Iya sayang ibunda senang sekali", Matia menjawab dengan senyum lebar yang membuat Hilmi kemudian berjingkrak-jingkrak berlari menuju ke arah Arjuna yang sudah siap untuk memulai salat.
" Ayo siapa yang bisa iqomah?", tanya Arjuna sebelum memulai salat nya.
" Kak Kenzo aja ayah dia kan lebih besar", jawab Hilmi.
" kamu saja, Kamu kan udah pinter ngaji juga sudah pernah sholat ke masjid, Kakak belum pernah soalnya papi sibuk terus", Kenzo rupanya mengelak ketika dirinya ditunjuk oleh Hilmi.
" ih kakak, masa udah gede anak laki-laki enggak bisa iqomah, Hilmi aja suka iqomah di tempat sekolah", Hilmi sedikit mengejek kepada kakaknya tersebut.
" Iya makanya kamu aja Hilmi, besok gantian Kakak deh!", jawab Kenzo.
__ADS_1
Akhirnya Ilmi yang melaksanakan iqomah.
Mutia dari jarak yang tidak terlalu jauh karena mushola itu memang tidak terlalu besar hanya bisa tersenyum melihat 3 laki-laki di depannya yang tengah melaksanakan salat berjamaah.
" Ya Allah semoga kami bisa terlebih baik terus mendekatkan diri kepada-Mu, ampunkanlah dosa-dosaku ya Allah", Mutia menatap punggung laki-laki yang melamarnya 1 minggu yang lalu itu dengan tatapan haru dan doa tulus yang ia panjatkan.
" Hei ... kalian di sini? Oh sedang salat ya, jika sudah beres kita semua sudah menunggu di ruang makan ya", ternyata Mbak Winda menyusul mereka dan berkata berbisik kepada Mutia.
" Iya mbak setelah mereka selesai salat kita ke sana", jawab Mutia, dan Winda pun mengangguk kemudian bergegas meninggalkan mereka berempat menuju ke ruang keluarga tempat berkumpul semua anggota keluarga dan juga kamu undangan yakni ayah dan ibu Arjuna.
" Mereka sedang sholat, mau dimulai aja silakan sebaiknya yang tengah berbahagia nanti juga menyusul", ujar Mbak Winda sambil terkekeh yang membuat Bu Yanti dan tante Mery pun ikut terkekeh lebar.
" Sepertinya yang lagi senang memang tidak punya rasa lapar, kita yang sudah pengantin basi udah sangat lapar nih!", Jawab Bu Aryanti seraya menuju tempat hidangan makan siang tersaji.
" Ayo Ayo silakan silakan mari dimulai saja makan siangnya, betul kata Bu Aryanti yang tengah bahagia sepertinya memang tidak memiliki rasa lapar, sebaiknya kita tinggal makan duluan saja", tu Meri mempersilahkan para tamunya untuk segera akan mendahului Arjuna dan Mutia.
" Wajar jika putra saya itu tidak punya lapar hari ini saking bahagianya mungkin, hampir 5 tahun dia menantikan hari ini, hidup dalam penyesalan tentunya tidak enak bahkan sampai depresi, jujur waktu itu saya juga hampir putus asa, secara Arjuna putra saya satu-satunya, Saya sempat ikut depresi, namun sekuat tenaga saya berjuang untuk tidak sampai jatuh, keyakinan saya Arjuna pasti sembuh dan Mutia pasti kembali dan akan menjadi menantu ku ternyata Allah mengabulkan doa-doa ku", cerita Pak Abdul Muis pada Pak Bahar dan suami Bu Meri dengan sesekali mengusap dadanya.
" Amazing!, doa tulus orang tua untuk anaknya ternyata dahsyat tembus ke langit ke-7", jawab Pak Bahar dengan tersenyum lebar.
" Aamiin ", jawab Pak Abdul singkat kemudian mereka mengambil makan siang secara bersamaan.
" Oma Opa, Ayah sama Bunda mau jadi pengantin sudah tahu belum?", Hilmi yang baru masuk ke ruangan tersebut terlihat nafasnya tersengal dengan rambut yang sedikit basah oleh keringat pun langsung bercerita gembira kepada Bu Mery dan suaminya.
" Oh ya, tahu dari mana Hilmi?", ucap renyah Bu Meri menanggapi cerita Hilmi.
Yang lain yang tengah asyik menikmati makan siang mendengar Hilmi berkata seperti itu pun mereka ikut tersenyum.
Bersambung ...
__ADS_1