PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
98


__ADS_3

" Irfan, ternyata Mutia sedang berada dinegeri kincir angin, Belanda ", Ujar Jihan saat mereka habis istirahat makan siang


" Mba tahu dari mana?".


" Dari postingannya Mutia, dia menggunggah sebuah Foto gambar kincir angin dan juga tumpukan keju, sepertinya Mutia mengunjungi sebuah pabrik keju", Jihan menunjukkan postingan Mutia pada Urfan.


" Hmm, iya .. ". Irfan mengangguk setelah memandang foto yang diposting Mutia.


" Bisa lama dia cuti ", Ungkap Jihan.


" Ya, mungkin dia tak diijinkan lagi bekerja mba, secara suaminya anak tunggal dan mertuanya tajir, iya kan?", Jawab Irfan.


" Iya", Jawab Jihan dengan wajah sendu


" Bakal kehilangan patnert kerja yang solid aku jika Mutia resign".


" Sama mbak, apa lagi aku yang menangani proyek perusahaan ini secara langsung terjun kelapangan, merasa kehilangan dengannya, dia itu cekatan sekali dalam bekerja, tidak banyak bicara dan fokus kerja", Irfan pun sama sendunya.


" Iya sih".


" Mbak juga sebentar lagi cuti melahirkan".


" Waduuhh.... makin sepi nih ruangan jika nggak ada kalian berdua", Bertbahlah sendu Irfan.


" Tenang nanti pasti ada penggantinya aku harap seorang wanita yang cantik cerdas gesit dan juga baik hati yang bisa menggantikan Mutia di hatimu juga", Jihan terkekeh lebar.


" Waahhh.... kalau itu aku aminkan banget tuh", Irfan pun tertawa.


" Hussttt.... ngaco kamu!, ingat Andini, jangan cari masalah dengan ortumu!".


" Mbak, dia masih anak anak, belum dewasa, dan lagian juga bukan seleraku", Jawab Irfan kesal.


" Tapi dia menantu idaman orang tua mu Fan, coba dulu kenali dia dulu lah, emang umurnya berapa kok masih anak anak?!", Tanya Jihan.

__ADS_1


" Baru saja lulus kuliah mba, beda enam tahunlah sama aku", Jawab Irfan jujur.


" Halah cuma beda 6 tahun, sikat aja, segitu itu pas Fan, jangan terlalu pilih pilih entar malah jadi bujang lapuk, kalau suka yang dewasa kenapa dulu tidak dekatin mbak saja coba, usia kita juga beda 4 tahun tuaan mbak!", Jihan tertawa lebar dan cukup keras setelahnya.


" Kalau aku dan Mutia beda 3-4 tahun itu pas mba, lagian Mutia itu pembawaannya tenang dan dewasa jadi siapapun pastinya nyaman berada didekatnya, kalau sama mba Jihan aku dari dulu takut di teladung di pathok gitu lho mba, soalnya mbak itu terlihat gahar", Kali ini Irfan langsung tertawa.


" Ngawur kamu ngatain aku gahar, aku ini preman berhati helo kity jika tidak mana bisa mas Andre bisa menaklukkan aku".


" Iya deh percaya, Heloo kity!", Irfan kembali mesem.


Mereka terkekeh bersama, rasanya pekerjaan mereka terasa sedikit ringan jika dikerjakan dengan selingan canda tawa seperti ini.


***


" Mas, kamu jangan terlalu ketus sama mbak Kania takutnya nanti dia tambah sakit hati dan imbasnya pada aku dan juga Hilmy", ujar Mutia ketika mereka sudah meninggalkan putik dan berjalan menyusuri pinggir sungai yang nampak jernih dan indah.


" Bukan Ketus, Mas juga pengennya selalu baik dengan dia, Mas cuma berharap dia itu bisa menghargai Mas sebagai seorang teman yang telah menolong dia dan menjadikan dia istri dan sekarang harusnya dan menghargaiku sebagai mantan suaminya".


" Tulus!, tulus banget malah, ikhlas!, putrinya juga sampai sekarang akta kelahirannya atas nama Mas walaupun bukan darah daging Mas, cuma Mas berharap jangan mengada-ngada mencari alasan untuk aku bisa menemui anaknya, namun ada punya maksud terselubung".


" Jangan suudzon, barangkali memang putrinya memang merindukanmu Mas".


" aku rasa anak itu masih terlalu kecil untuk bisa mengenaliku, bahkan mungkin saat kita bertemu dia bahkan sudah melupakanku".


" Mas harap apapun yang dikatakan Kania jangan langsung dicerna mentah-mentah mas hanya takut dia ingin mengganggu rumah tangga kita".


" Aku tahu, mas jangan khawatir".


" Maafkan Aku, karena aku harus mengambil keputusan untuk menikahinya di saat aku belum menemukanmu, padahal sebulan Setelah kepergianmu aku selalu menyesali keputusan ku untuk tidak menikahimu, seharusnya saat itu aku tidak menikahinya apalagi hanya atas dasar karena iba".


" Sudahlah mas jangan disesali, mungkin juga karena kebaikanmu menikahi dia dan memberikan nama kamu di atas akta kelahirannya seperti Mas Aldi yang juga melakukan hal yang sama kepadaku dan juga Hilmi".


" Yank, kok kamu malah nyebutin Aldi, iya iya karena kesalahanku itu mah, aku yang salah sehingga anak ku tak memiliki akta kelahirannya atas nama aku namun disana tertulis nama Aldiano sebagai ayahnya", jar Arjuna sedih.

__ADS_1


" Dan aku juga seorang janda dari Mas Aldi sahabatmu, jangan lupakan itu!", Mutia terkekeh seraya menoleh hidung suaminya yang kini tengah cemberut tidak suka karena Mutia menyebutkan nama Aldi saat mereka sedang jalan berdua.


" Upss.... iya, hampir saja aku melupakan status Bunda Hilmi sebelum menjadi nyonya Arjuna", ujar Arjuna dengan wajah masam.


" Menyesal, karena menikahiku yang seorang janda? ", Mutia terkikik memperhatikan wajah suaminya yang makin terlihat kesal.


" jika begini mah tidak jadilah kita jalan-jalannya , kita pulang saja ke hotel, bagian ke pabrik keju masih butuh waktu 10 menit lagi untuk kita sampai sana dengan berjalan kaki", ujar Arjuna yang berniat menarik Mutia ke sebuah halte untuk menumpang bus menuju hotel.


" Nggak mau, 10 menit itu sebentar nggak lama udah jauh-jauh kesini masa sih kita nggak berkunjung ke pabrik keju, Aku mau mencicipi aneka rasa keju asli dari sini", Mutia merajuk.


" Makanya sudah jangan bahas terus tentang mantan suami kamu itu!".


" Siap bos, eh Suami tersayang aku", Mutia mencium punggung tangan Arjuna yang menggenggam tangannya.


Arjuna tersenyum cerah tak lagi cemberut seperti tadi, kini mereka sudah berada di pabrik Keju dan Mutia berfoto dan mengunggah ke media sosialnya.


Setelah mencicipi aneka rasa keju akhirnya mutiara dan Arjuna membeli beberapa yang menjadi pilihan mereka dan mereka segera pulang menuju hotel.


" Cape?", tanya Arjuna ketika melihat Mutia langsung merebahkan diri diatas pembaringan ketika memasuki kamar mereka.


" Sedikit, maklumlah jika di negeri sendiri kemana-mana tidak pernah jalan kaki paling tidak naik motor atau naik angkutan umum giliran di sini kita banyak jalan kaki lumayan cukup pegal", pacar Mutia seraya tersenyum lebar pada sang suami.


" Makanya sering-seringlah olahraga untuk melatih otot kaki selain juga tubuh kita menjadi bugar", Arjuna ikut merebahkan diri di samping Mutia.


" Mau nanti kalau sudah pulang, insyaallah mau rajin olahraga", jawab Mutia dengan tersenyum kembali.


" Ganti baju dulu kalau mau tidur", UjarArjuna.


" Tarik Mas tanganku rasanya males banget bangun", Mutia menjulurkan tangannya supaya ditarik oleh sang suami dan bangun untuk mengganti bajunya.


" Bersih-bersih dulu kaki tangannya baru rebahan ini sudah aku pesankan camilan", jl Arjuna seraya mengutak-atik ponselnya untuk memesan makanan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2