PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Syok


__ADS_3

Setelah berbincang dan berbicara secara terbuka dengan Pak Jodi hati Mutia pun sedikit merasa lega, setidaknya mengenal pak Jodi seperti mempunyai orang yang bisa dipercaya.


Menurut Mutia begitu, namun berbeda dengan pak Jodi, tindakan Mutia membagi makanan siang itu memberikan pelajaran yang sangat berharga menurut Pak Jodi.


Ternyata membagi sedikit rezeki itu adalah hal yang sangat menyenangkan selama ini dirinya tidak pernah melakukan hal itu, namun bukan berarti pelit hanya saja beliau akan membagi rezeki itu hanya kepada orang-orang tertentu saja misalnya orangtua saudara atau orang-orang yang bekerja di rumahnya saja, tukang becak atau tukang sapu di sekitar tempat tinggalnya saja, ternyata memberi makan siang kepada kulit juga itu hal yang sangat menakjubkan menurut Pak Jodi.


Ternyata kejadian yang itu sampai juga di telinga Tristan Pak Fajar dan Arjuna bahkan hal itu sampai terdengar juga oleh Pak Abdul Muis sebagai pimpinan utama PT AMM.


" Bagaimana hasil penyelidikan kamu, Sudah sampai mana?", pertanyaan dingin dan Ketus mengalir begitu saja dari mulut Arjuna.


" Tidak banyak bos, tapi semoga bos bisa menerima dan tidak mati penasaran", ucap Tristan.


" Haissttt.... berani sekali kamu menyumpahi untuk mati, apa tadi kamu bilang mati penasaran, awas aja Apa kamu sudah bosan bekerja dengan ku?", suara Arjuna bukan lagi dingin dan jenis namun kali ini sorot matanya pun tajam Mbak pedang menghunjam Tristan.


" Bukan begitu bos, maksud saya saya belum mendapatkan berita yang banyak dan akurat namun hanya sedikit namun Saya yakin jika hal ini sangat akurat", jawab Tristan.


" Cepat katakan!".


" Nama aslinya Mutiara Aini, usianya baru 24 bos, lulusan terbaik dari universitas XX jurusan Akuntansi keuangan, statusnya janda beranak satu laki laki bernama Hilmy... Hilmy... Meidiawan Muiz bos... salah kali ya??", Tristan


? mengerutkan alisnya ketika membaca nama dari anak Mutia dia merasa ada kejanggalan di situ.


Deg


Tubuh Arjuna bagaikan tersengat listrik dengan sangat hebatnya kedua lututnya pun sampai bergetar dan tidak bisa digerakkan terasa lemas ototnya bagaikan luruh seperti tidak bertenaga bahkan tulang-tulangnya pun terasa ikut melemas.


Tak ada satu katapun keluar dari mulut Arjuna, mulutnya yang menganga dan matanya yang terbuka lebar seperti habis melihat hantu yang paling menyeramkan di dunia ini.

__ADS_1


Sekilas orang melihatnya Arjuna seperti orang yang kaku membeku namun berbanding terbalik dengan yang dirasakan saat ini sekujur tubuhnya lemas tidak bertenaga sama sekali.


" Aini.... ", desisnya pelan hampir tak terdengar.


" Bos mungkinkah Bu Mutia adalah masa lalu anda?", Tristan yang berada di hadapan Arjuna tidak sepenuhnya memperhatikan kondisi Arjuna saat ini bahkan dengan gamblangnya dia menimpali dengan pertanyaan kembali.


" Atur waktu aku ingin bertemu dengannya empat mata, secepatnya!, di tempat yang privasi", meskipun bibirnya bergerak untuk mengucapkan kata-kata barusan namun pikiran dan hati Arjuna seakan melayang ke angkasa seperti terbang tidak berpijak di bumi sedikitpun.


" Baik bos!", Tristan mengangguk dengan cepat kali ini matanya sempat menatap atasannya itu yang terlihat pucat dan keringat dingin mengalir di dahinya.


" Bos minum dulu untuk menenangkan perasaan Anda", pada akhirnya Tristan sadar jika atasannya itu tengah syok berat ia pun memberikan air minum yang sedari tadi sudah tersedia di atas meja kerja Arjuna.


perlahan Arjuna pun menerima air minum tersebut dan menenggaknya sampai habis seperti orang yang habis berlari maraton namun anehnya matanya seperti kosong seperti mata yang tidak bernyawa.


" Istighfar bos, penyelidikan baru segini bos jangan kesambet dulu", meskipun Tristan juga ikut gemetaran melihat reaksi bosnya saat ini namun dia masih melontarkan kata-kata bernada candaan walau sebenarnya hatinya pun juga khawatir mengingat bosnya ini memiliki riwayat depresi hebat.


" Tris..... tolong bantu aku duduk di sofa, kakiku seperti tidak bertulang Tris!", Arjuna mengulurkan tangannya untuk meminta dipapah oleh Tristan menuju sofa.


" Tidak perlu, bantu aku memasangkan oksigen aja setelah duduk santai di sofa".


" Baik bos", Tristan pun dengan cekatan kemudian membantu segala keperluan Arjuna.


" Bos.... jika memang kondisinya tidak memungkinkan saya akan panggilkan dokter", ucap Tristan penuh kekhawatiran.


Arjuna kemudian melambaikan tangannya memberikan isyarat jika itu tidak perlu dilakukan oleh Tristan, kemudian Dia menepuk sisi sofanya agar Tristan duduk di sana.


" Iya bos".

__ADS_1


Perlu waktu hampir 10 menit untuk Arjuna bisa kembali normal setelah memakai bantuan tabung oksigen dalam pernapasannya.


" Tolong lepas Tris!". tita Arjuna pada Tristan setelah sesak di dadanya berangsur membaik.


" Apa yang terjadi bos, maafkan saya jika kabar dari saya benar-benar membuat bos shock seperti ini tentu kabar itu tidak akan saya sampaikan kepada anda!", Tristan berbicara dengan wajah penuh penyesalan.


" ini bukan salahmu Tris, ini hanya proses yang harus saya lalui, aku sok tidak menyangka jika kegelisahanku yang hampir 5 tahun mengganggu setiap malam ku ini akhirnya akan menemukan titik temu di mana sebenarnya penyebab depresi ku berawal dan semoga ini akan menjadi obat bagiku untuk sembuh Tris", ucap Arjuna ngasih dengan suara yang sangat lemah.


" Iya pak, namun bapak masih harus bersabar ya, Saya tidak mau mempertemukan Bapak dengan ibu Mutia jika kondisi bapak belum sehat seperti sedia kala", ucap Kristen yang memang masih sangat khawatir dengan kondisi Arjuna.


" Iya Tris, aku juga tidak mau bertemu dengan Bu Mutia jika kondisi ku seperti ini, Aku ingin terlihat sehat dan tegar di hadapannya, aku malu jika ketahuan Aku punya depresi", suara Tristan masih tersengal dan lemah.


" Oh iya satu lagi bos, setiap hari Jumat karyawan yang bekerja di proyek yang kita kerjakan bersama PT persada akan mendapatkan makan siang gratis, namun dananya semua murni dari PT persada bos bukan kita yang mengeluarkan".


" ide yang sangat cemerlang, aku secara pribadi sangat menyukainya dan sangat setuju Tris, mungkin kita juga bisa melakukan paling tidak untuk karyawan saat kita sendiri yang berada di perusahaan", meskipun masih terlihat sangat lemas namun Arjuna tidak keberatan ikut membahas masalah ini bersama Tristan.


" Baik Pak nanti akan saya sampaikan jika kita mengadakan rapat agar bisa menjadi perhatian semua pihak di perusahaan ini", jawab Tristan.


Sebetulnya di perusahaan Arjuna semua karyawan sudah disediakan makan siang oleh perusahaan, namon setiap hari Jumat muleh minggu ini akan dirubah menunya menjadi lebih baik lagi. Yakni menu yang spesial.


" Yang perlu kamu kerjakan segera adalah membuat janji temu dengan Bu Mutia dan pastikan dia datang sendiri atau berdua bersama putranya, Oh ya sampaikan jika yang hendak bertemu adalah Tristan bukan Arjuna".


" Kok saya bos!", Tristan benar-benar terkejut namun tatapan tajam dari Arjuna sangat tak terbantahkan.


-


-

__ADS_1


-


Bersambung .....


__ADS_2