PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Peletakan Batu Pertama


__ADS_3

" Mbak Mutia inilah lokasi proyek baru kita, sebentar lagi yang punyanya katanya sih sudah dalam perjalanan mau datang ke tempat di sini", ujar Pak Jodi kepada Mutia.


" Cukup luas ya pak, semoga yang punya ini betul-betul orang yang dermawan dan memang penuh perhatian terhadap kaum disable", mata Mutia beredar mengelilingi melihat tempat proyek barunya yang ternyata cukup luas di tempat yang lumayan strategis dan jika dilihat dari denah rencana pembangunan ini memang sudah dipikirkan secara matang oleh pemiliknya juga didanai dengan dana yang cukup besar, sehingga membuat nyaman semua penghuni sekolah luar biasa ini nanti.


" Iya memang, biasanya sekolah-sekolah seperti ini langsung milik negara namun pemilik lahan ini sengaja membuat ini untuk anak-anak yang memang membutuhkan sekolah seperti ini, dengar-dengar sih putra pemilik lahan ini punya masalah tertentu sehingga orang tuanya sengaja mendedikasikan tempat ini untuk kaum disable Mbak", Pak Jodi memberikan sedikit yang ia ketahui tentang sekolah luar biasa ini.


" Oh, begitu ya pak.... bagus bagus kalau saya Pak", Mutia manggut-manggut menanggapi ucapan Pak Jodi.


" Senengnya jika bisa mengelola sekolah seperti ini... hemm.... sepertihidup kita berarti", Bathin Mutia.


" Loh itu ada mobil yang baru datang pak", Mutia memperhatikan dari jarak yang lumayan cukup jauh melihat dua buah mobil memasuki area proyek tersebut.


" Oh bisa jadi itu Pak Abdul atau mungkin sekretarisnya Mbak mari kita ke sana", Pak Jodi pun mengajak Mutia bergegas untuk menyambut kedatangan dua mobil tersebut.


" Selamat pagi menjelang siang pak, wah.... rupanya Anda Sudah santai saja di tempat ini pak", ucap Tristan Ramah seraya mengulurkan tangannya untuk menyalami pak Jodi dan Mutia.


" Ya pagi .... ini masih cukup pagi kok pak Tristan, Anda datang bersama siapa?", Pak Jodi mencoba mencari tahu siapakah gerangan yang berada di dalam mobil yang satunya


" Oh saya datang bersama dengan Pak fajar dan juga putra dari Pak Abdul, Pak Arjuna", jawab Tristan seraya menoleh pada mobil yang belum juga membuka pintunya yang tepat terparkir di belakang mobil miliknya.


Deg


Hati Mutia bagai disambar petir lututnya terasa lemas hatinya pun berdendang hebat dagdigdug tidak karuan jantungnya berirama.


Mutia atau betul siapa sosok lelaki yang kini tengah membuka pintu dan turun dari mobilnya.

__ADS_1


" Arjuna...", Batin lirih Mutia menjerit sekuat tenaga namun tentu itu hanya di dalam hatinya.


Butuh waktu hingga beberapa saat untuk Mutia menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menguasai keadaan masker yang tadinya sudah ia lepaskan Ia betul kan kembali.


Begitupun dengan Arjuna Setelah turun dari mobil kemudian dia menatap sang sekretaris Tristan dan matanya berpindah kepada Pak Jodi dia tersenyum ramah dan mengulurkan tangan menyebut namanya, " saya Arjuna Pak, putra dari Pak Abdul Muis pemilik lahan sekaligus yang mendanai sekolah ini", siapa Juna ramah kepada Pak Jodi


Setelah Pak Jodi merespon dengan baik sapaan Arjuna dan Arjuna pun manggut kemudian matanya beralih pada sesosok wanita yang pernah berdiri di sebelah sedikit agak di belakang Pak Jodi.


" Oh Pak Arjuna, kenalkan saya Jodi dari perusahaan persada yang akan menjadi konsultan keuangan bagi proyek Anda ini, memperkenalkan ini partner kerja saya ibu Mutia".


Mata Arjuna pun langsung terarah pada Mutia dan grep! pandangannya terhenti dan langsung menyorot tajam pada mata Mutia.


" Mutia Pak selamat pagi menjelang siang", Mutia pun mampu menentukan kepala sebagai tanda penghormatan kepada Arjuna yang akan menjadi rekanan kerja saat ini, tentu dengan suasana hati yang sedari tadi sudah Mutia persiapkan sedemikian rupa agar tidak terlihat gugup.


" Pak Juna mau di sini atau kita mau langsung ke ke tempat bangunan yang pertama kita akan mulai?", tanya Pak fajar melihat sang majikan tertegun hingga seperti kehilangan kata-kata.


" Oh, iya... kita langsung ke tempat pembangunan karena acara hari ini kan peletakan batu pertama Pak, gimana sih kok pakai tanya pak Fajar ini", Arjuna setengah menggerutu untuk menutupi rasa kegugupannya karena sepertinya orang di sekelilingnya tahu jika dirinya seperti terkejut ketika melihat Mutia.


" Mari mari kita ke sana sekarang, mumpung mataharinya belum terlalu terik", Pak Jodi kemudian menjadi pemimpin jalan ke arah tempat tersebut.


Di sepanjang mereka berjalan terlihat sekali jika Arjuna mencuri-curi pandang pada Mutia.


" Tris.... kamu tahu siapa wanita itu?", Arjuna berbisik lirih pada Tristan sekretarisnya.


" Namanya Mutia Pak, dia karyawan yang bekerja di PT Persada belum terlalu lama hampir 2 tahun lah kurang, namun karena kecerdasannya dia sudah diterjunkan di beberapa project hampir kurun waktu setahun ini, dia pintar sekali mengelola keuangan sehingga mendapat kepercayaan penuh dari perusahaan", jawab Tristan sambil berbisik.

__ADS_1


" Cari tahu tentang dia Tris... ", bisik Arjuna kembali.


" Maksud Bapak?", jelas dong Tristan penasaran, bukannya bosnya ini sudah punya anak istri kok langsung kecantol dengan partner kerjanya yang baru ditemuinya, menurut Tristan itu aneh.


" Cari tahu saja, kan menurut info kamu tanya orangnya cerdas, wajar dong kalau aku penasaran siapa tahu proyek-proyek kita selanjutnya bisa datangin oleh dia, dan itu akan membuat aku lebih percaya juga tahu latar belakangnya, itu saja penasaran kau itu Tristan", Arjuna kemudian mendengus sinis menatap Tristan.


" Pak acaranya akan segera dimulai, dan Anda harus melakukan peletakan batu pertama, harap segera bersiap", bisik Fajar yang berada di sebelah kiri Arjuna.


Arjuna melirik sekilas pada Mutia, rasa penasaran terus bergejolak didadanya, ingin tahu lebih mengenai siapa Mutia terus mengusik hatinya.


" Iya, baiklah pak Fajar.... Selamat siang semuanya, Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh.... salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita semua selalu dalam lindungan yang Maha kuasa, selalu dilancarkan serta rencana kita dalam pembangunan sekolah Luar Biasa ini mendapat Ridhonya sehinga bisa mendapat manfaat serta bisa membantu bagi setiap yang membutuhkan, bisa berkembang lebih maju juga bisa menjadi pijakan untuk masa depan semua siswa yang belajar ditempat ini dengan berbagai bekal ketrampilan yang nantinya akan disediakan disekolah ini, Aamiin.


Untuk itu saya mohon kerja samanya dengan baik dari semua yang membantu atas berdirinya sekolah ini....


Dan pidato Arjuna terus berlanjut hingga sepuluh menit berlalu yang sesekali Arjuna mencuri pandang pada Mutia.


Dan mulai hari ini pembangunan Sekolah Luar Biasa ini akan mulai dibangun dengan prosesi peletaan batu pertama dari saya,peletakan batu pertama akan segera dimulai... terima kasih pada semua yang terlibat dalam pembangunan Sekolah ini, Wasalam.


Arjuna melangkah mendekati tempat yang telah disediakan untuk meletakkan satu bongkah batu kemudian ia lapisin adukan semen yang sudah disediakan oleh panitya.


-


-


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2