
Hari pun terus berlalu, ingat proyek yang dikerjakan Irfan selesai dan dia sudah kembali bekerja di kantor seperti sebelumnya.
Pagi itu Irfan menunggu seseorang di lobi seseorang yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak pernah IA temui.
" Mbak biasanya Bu Mutia datang ke kantor ini jam berapa?", tanya Irfan pada resepsionis yang sudah berada di kantor pagi itu.
" Biasanya sih jam 8 kurang Pak paling sebentar lagi", mendengar jawaban dari resepsionis tersebut Irfan langsung melihat jam di pergelangan tangannya.
" Oke mbak terima kasih", Irfan kembali mendudukkan bokongnya kursi tunggu.
5 menit pun berlalu dan Mutia terlihat memasuki kantor dengan sedikit berjalan lebih cepat dengan tergopoh-gopoh.
" Mutia... ", suara Irfan lantang memanggil Mutia membuat Mutia langsung menoleh mencari sumber suara.
" Haiii ... apa kabar? akhirnya masuk lagi ke kantor kirain sudah lupa jalan mau ke kantor?", Mutia pun langsung mendekat kearah Irfan dan mereka ber tos untuk saling menyapa.
" kabar Aku baik alhamdulillah, seperti yang kamu lihat aku makin hitam tapi makin kuat dong", Irfan terkekeh seraya menunjukkan lengannya yang memang lebih gelap dari sebelum berangkat.
" Tidak masalah makin kece kok hitam-hitam kereta api yang penting sehat... biarpun hitam banyak kok cewek-cewek yang antri", Mutia pun akhirnya terbahak lebar.
" Antri apa nih? ", tiba-tiba saja Jihan langsung bergabung dengan mereka dan langsung menepuk bahu Irfan cukup keras.
" Aduuhhh biyunggg", Irfan terkejut dan langsung berteriak karena ditepuk punggungnya oleh Jihan.
" Heh!, baru saja tepuk segitu aja lo udah jerit-jerit kayak anak perawan aja loh kirain makin hitam makin kuat masih sama aja lo, apa kabar? pulang bawa bini kagak", cerocos Jihan langsung mengintrogasi Irfan.
" Sakit tahu Mbak, pagi-pagi begini langsung kena bogem tukang pukul untung punggungku ini kuat kalau nggak remuk dah, jadi merasa beruntung di proyek menjemur badan ketika pulang ke kantor dapat serangan langsung bisa bertahan ", Irfan Hunter Bahar lebar begitupun dengan Jihan dan Mutia.
" Mana bini lo, masak di proyek berbulan-bulan lamanya pulang hanya tangan hampa bawa oleh-oleh kek, kalau enggak pin Iya minimal pacar begitu!", oceh Jihan.
__ADS_1
" Gak usah mulai deh Mbak, tadinya mau aku bawa oleh-oleh buat Mbak Jihan gitu? tapi kira-kira Mbak Jihan mau nggak kalau duda?", Irfan berbicara seperti orang yang sangat serius.
" Ngaco lu kalau bicara, kalau sudah mah di sini banyak, udah ayo sambil jalan menuju ruangan", Mereka pun bertiga bercanda tertawa sambil menuju ruangan mereka.
" kok Mbak Jihan di sini bukannya Mbak di lantai 4 ya?", Irfan merasa terheran karena memang meskipun mereka sangat akrab namun mereka tidak berada di satu lantai.
" udah deh lo enggak usah protes gua dipindahin biar deket sama lu kalian semua kita di lantai yang sama nih sekarang", jawab Jihan yang dianggukin oleh Irfan.
" Wah jika Mbak Jihan satu ruangan kalau aku mau ngecengin Mutia haduh....", Irfan menepuk jidatnya sendiri.
" kenapa lo, panik gitu kita berada di ruangan yang sama, hmmm... modus Ya ketahuan?", Jihan menunjuk ke arah Irfan dengan jari telunjuk yang digerak-gerakkan.
" Modus apanya mbak, aku ini orangnya apa adanya nggak usah pakai trik-trik modus apa yang aku inginkan pasti ke sampeyan ya nggak", Irfan terkekeh menertawakan ucapannya sendiri menurutnya itu ucapannya ngelantur karena kenyataannya tidak seperti itu.
" Mut.... Tenang! Kamu aman ada aku disini", Jihan menepuk dad*nya sendiri seperti orang yang merasa kuat.
Mutia terkekeh melihat tingkah Jihan, " Iya deh mbak, siapa yang berani dengan mbak Jihan".
Jihan dan Mutia pun terkekeh lebar dibuatnya.
" Jangan mau Mut, Irfan bagianku", Mendengar Jihan berkata seperti itu Irfan langsung bersungut dan menuju meja kerjanya barulah dia menjawab ucapan Jihan.
" Mbak Jihan dapat salam dari pak Andre, Menejer pemasaran ", Ujar Irfan.
Jihan yang mendengar ucapan Irfan langsung melotot, " Sama kamu saja, pak Andre sudah duda".
" Ogah, aku cintanya sama Mutia mbak", Irfan mencebikkan bibirnya.
" Masalahnya Mutia tidak mau sama kamu", Jawab Jihan mengedip ngedipkan matanya pada Irfan.
__ADS_1
" aku harus berusaha Mbak, supaya Mutia mau sama aku", jawab Irfan percaya diri.
" iya, berusahalah sekuat hatimu untuk menaklukkannya Mbak dukung, tapi ingat kamu harus bisa menerima dia dengan paketannya tidak boleh kamu mencelanya sedikitpun kamu harus melindungi dan menerima dia dengan bersungguh-sungguh", ucap Jihan pada Irfan seperti seorang kakak yang memberikan nasehat kepada adiknya.
" Doakan Mbak, semoga aku bisa menaklukkan hatinya, sangat sulit untuk menjadi dekat saja cukup susah, dia memang spesial", Irfan kembali berbisik pada Jihan.
" Aku tahu kalian pada membahas apa, bisak bisik aja dari tadi, jangan ngomongin janda pagi-pagi yang diomongin dengar!", Mutia terkekeh, meskipun pendiam sebenarnya Mutia itu cukup humoris.
" Sorry gue tidak lagi membahas janda, tetapi sedang membahas jones Irfan", mendengar jihad menjawab seperti itu pada Mutia Irfan langsung melotot pada Jihan tidak terima dibilang jomblo ngenes.
" Apa lu nggak terima dibilang jones? terus harus di bilang apa dong? jomblo paten?", Jihan tersenyum dan kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Mbak sebaiknya sebelum memulai bekerja itu berdoa bukan membully teman, sudah lama enggak bertemu begitu ketemu eh malah dibully, kasihan sekali hidupku Mbak", ucap Irfan dengan wajah memelas Dan membuat Mutia serta Jihan tertawa lebar dibuatnya.
" Sudah yuk kita serius, sudah molor 3 hari ini untuk pembukaan pembangunan hotel, selain karena libur weekend juga menunggu Pak Arjuna sembuh dan besok mudah-mudahan tidak ada halangan lagi dan benar-benar bisa dilaksanakan", ucap Mutia.
" Wah akhirnya.... proyek pembangunan hotel itu berada dalam proyek mu, selamat", ujar Irfan.
" Setelah proyek yang di kota A beres selanjutnya di mana? tanya Mutia ada Irfan.
" Masih di kota ini, ada proyek pembuatan jembatan serta pemasangan marka jalan sepanjang yang 200 km", jawab Irfan.
" Semoga proyek-proyek kalian sukses ya, terutama ibu satu ini, yang masih baru Namun langsung dipercaya dengan proyek yang cukup besar semoga kedepannya sukses dan semakin besar lagi", ucap Jihan.
" Aamiin mbak, saya dapat proyek ini karena Mbak Jihan mundur dari pengerjaan proyek-proyek ini dan lebih senang stay di kantor Terima kasih ya Mbak ini pengalaman terbaik dalam hidup saya", ucap Mutia tulus.
" Hidup itu harus berputar Mutia, aku merasa sudah cukup berada di luar untuk mengerjakan proyek-proyek seperti ini cukuplah aku disini menjadi pendorong buat kalian supaya semangat terus", ucap Jihan, membuat Mutia dan juga Irfan mengangguk senang.
-
__ADS_1
-
Bersambung....