
" Pah, mbak, Mas... apa keputusanku menerima lamaran Arjuna salah ya mbak ya Mas? Kok Mutia jadi murung begitu, Aku hanya tidak mau melihat Mutia sendiri terus, sampai saat ini aku belum bisa memaafkan Arjuna sepenuhnya, tapi aku juga ingin sembuh dan ingin melihat Mutia punya pendamping Arjuna menawariku biaya untuk berobat namun dia mengajukan saran untuk menerima lamarannya untuk meminang Mutia dia berjanji jika dia sudah berubah dan dia menceritakan semuanya nya, hatiku pun kemudian luluh", ujar Bu Meri dengan sendu.
" Jujur aku juga sangat terkejut Mer!, kenapa kamu yang dulu sangat menentang dengan Arjuna dan sekarang malah menerima lamaran dia mendadak lagi, aku sempat bingung bahkan Mas Bahar juga sampai mencerna beberapa kali ceritamu, kenapa keputusanmu sekarang terbalik seperti ini, kemudian kami menelpon Aldi kami pun berunding, kemudian Aldi meyakinkan jika memang Arjuna sudah berubah barulah Aku akhirnya memutuskan untuk kemari hari ini", ujarku Hera dengan lembut kepada bu Meri.
" aku juga akhirnya mencari tahu setelah Arjuna cerita padaku dua hari yang lalu sebelum aku pulang dari rumah sakit sorenya aku langsung mencari tahu tentang kebenaran semua cerita Arjuna kepadaku, aku bertanya kepada orangtuanya kepada asisten bapaknya kepada asistennya pula, semua saya minta cerita dan akhirnya malam itu aku menelpon Arjuna dan mengatakan jika Oke! aku setuju menerima lamaran Arjuna untuk Mutia dengan tawaran yang dia berikan, yakni membantu biaya berobat aku di luar negeri", ujar Bu Meri sendu.
" Tapi setelah mengetahui reaksi Mutia Aku jadi sangat merasa bersalah, seakan aku telah mengorbankan perasaannya hanya untuk sebuah biaya untuk berobat betapa egoisnya aku aku pamrih menolongnya aku tidak tulus, kalau Mutia mau menolak nggak apa-apa katakan katakan padanya mbak, Pah.... biarin aku berobat dengan biaya seadanya, tidak perlu keluar negeri seperti saran dokter", pemerintah pun berbicara dengan wajah penuh penyesalan membuat Bu Hera Pak Bahar dan suaminya hanya terdiam tidak bisa memberikan usulan apapun.
" Mer, biar nanti Mbak yang bicara sama Mutia, tapi kamu harus ikhlas ya jika Mutia menolak Arjuna bagaimanapun Arjuna pernah begitu egois menolak Mutia wajar jika sampai saat ini Mutia tidak mau menerima Arjuna dengan mudah, Mutia adalah wanita yang penuh harga diri jadi dia tidak akan menyerahkan hatinya pada lelaki yang tidak punya perjuangan untuk mendapatkannya, mbak yakin sebenarnya Mutia mau hanya saja Mutia butuh bukti perjuangan Arjuna untuk meraih hatinya", ujar Bu Hera sambil membelai lembut tangan adiknya.
" Iyah, Aku ikhlas Mbak kalau pada akhirnya Mutia tidak mau menerima Arjuna, Mutia adalah wanita yang menjaga harga dirinya dengan baik dan juga dia bisa menguasai emosinya dengan tenang".
__ADS_1
" Bu, jangan bahas mengenai lamaran dulu ya Mutia baru saja mau mencicipi makanan takut nanti mood makan nya hilang, dia masih syok, wajar sih Ibu mendadak sekali menerima lamaran orang yang selama ini Mutia hindari", Winda mendekati sang Ibu juga anggota keluarganya yang lain dan memberitahu keadaan Mutia saat ini.
" Kasih tau dia Win, jika dia hendak menolak itu hanya kami tidak memaksakan!", ujar bu Hera.
" Iya bude, sudah kok! Jujur aku juga tidak tega dia langsung sedih begitu, nampak bingung dan juga frustasi, pacar banget kita aja langsung syok", jawab Winda.
" Mamah sih terima lamaran orang main iya-iya saja, sudah mamah tidak usah khawatir Mutia menolak atau menerima lamaran Arjuna insya Allah kita ada rezeki mama bisa berobat, adi berobatnya mamah bukan semata-mata karena Arjuna melamar Mutia tetapi karena usaha kita terutama papa, jadi Mama yang sabar dan ikhlas menghadapi cobaan sakit ini ya, kita akan berusaha mencari biaya untuk mamah berobat", ujar suami Bu Meri dengan lembut.
" Iya pah".
" kalau saya sebenarnya ada embel-embel untuk biaya berobat ataupun tidak, Tapi saya lebih melihat pada keseriusan Arjuna untuk melamar Mutia, itu artinya Arjuna selama ini berpikir dan menyesali perbuatannya yang lalu, makanya dia hendak melamar Mutia, karena aku sendiri berfikir begini, istri Arjuna yang kemarin itu wanita yang cantik dan juga prestasinya luar biasa tetapi Arjuna mengaku jika dia tidak pernah mencintai istrinya tidak pernah menyentuh istrinya dia menikahinya karena menolong itu artinya apa, sebenarnya hati Arjuna selama ini sudah terpaut pada Mutia, hanya saja mereka baru di pertemukan Setelah 5 tahun berpisah, dan Arjuna telah menikah, dan saat pertemuan itu Arjuna meyakinkan hatinya akan perasaannya kepada Mutia, dan setelah dia yakin akan perasaannya makanya dia melepaskan istrinya, itu kesimpulan yang aku dapat dari cerita Arjuna serta orang tuanya diperkuat oleh pendapat Aldi sebagai teman yang sudah lama mengenal Arjuna", Pak Bahar menyampaikan pendapatnya panjang lebar pada suaminya dan juga istrinya termasuk juga Winda.
__ADS_1
" Saya setuju dengan pendapat pakde, tetapi Mutia kan tidak semudah itu untuk memahaminya pakde karena dia yang pernah merasakan kecewa dan sakit dia juga yang berjuang untuk hamil dan melahirkan dan membesarkan HIlmi seorang diri, wajar jika Mutia membentengi hatinya begitu kuat untuk Arjuna", Winda langsung mengutarakan pendapatnya.
" Oke kalau begitu kita berikan waktu dan kesempatan untuk Mutia berfikir jangan ada yang memaksa dan jangan sampai Mutia tahu jika mamah kamu menerima lamaran Arjuna karena alasan untuk berobat, rahasiakan ini dulu dari Mutia agar dia tidak terbebani pikirannya", ujar Bu Hera.
Semuanya pun mengangguk setuju, ternyata masalah yang kemarin dipikir Bu Meri rumit dan berat mengenai biaya berobat nya, namun setelah ada pembicaraan dengan keluarga dengan baik-baik seperti ini Bu Meri pun menjadi lega bahwa ternyata suaminya sangat peduli juga saudaranya yakni Bu Hera dan Pak Bahar juga sangat peduli pada sakitnya.
itu membuat Bu Meri sangat bersyukur jika dirinya nanti bisa berubah tanpa harus mengorbankan perasaan Mutia.
" ibu.... maaf semuanya saya nyusul kalian ke sini, makan siang kali ini menunya enak enak Bu terima kasih, namun mengenai lamaran Pak Arjuna akan Mutia pikirkan dulu, Mutia mau minta petunjuk-Nya, Mutia yakin jika segala sesuatu yang dirundingkan dulu dengan yang maha tahu maka apapun nanti keputusan Mutia itu adalah yang terbaik karena mendapat ridha-nya", ujar Mutia yang tiba-tiba saja datang ke tempat mereka berkumpul.
Mutia langsung mendekati Bu Meri dan membelai lembut punggung tangannya saat berbicara seperti itu, yang membuat semua langsung mengangguk pertanda mereka setuju dengan yang diucapkan Mutia.
__ADS_1
Bersambung....