PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Curahan hati Irfan


__ADS_3

" Apa kabar Mas?", siapa Mutia pagi itu pada Irfan.


Semenjak mereka putus mereka berdua memang jarang sekali bertemu, terutama Mutia sekarang sedikit menjaga jarak dengan Irfan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


" hai Mutia... Alhamdulillah kabarku baik, kamu sendiri bagaimana?", sapa Irvan balik dengan ramah.


" Alhamdulillah saya juga baik Mas, sekarang proyek di mana jarang ke kantor?", Mutia menjawab kemudian disertakan pertanyaan.


" Aku masih mengerjakan proyek yang di luar kota Mut, syukurlah kalau kamu baik-baik saja kenapa kamu jarang sekali menghubungiku untuk sekedar berkirim warta", ujar Irfan menatap Mutia.


" Halah .. nggak ada warta berita yang harus disampaikan ya mau menghubungi apa ya sekarang", Mutia tersenyum tipis.


" iya juga ya", Irfan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Bagaimana kabar Andini?", tanya mutiara kemudian, bukan pertanyaan basa-basi tapi memang pertanyaan tulus dari dalam hati Mutia.


" Ya baik mungkin!", Irfan menjawab dengan salah tingkah.


Mendengar jawaban Irfan kening Mutia mengkerut, merasa heran karena jawaban Irfan tidak meyakinkan.


" Kok mungkin! ", ujar Mutia.


" ya karena aku sudah lama juga tidak bertemu dengannya, tidak berkirim kabar juga tidak ingin tahu", jawab Irfan jujur.


" Kenapa memangnya, Mas nggak mencoba untuk mengenalnya?", tanya Mutia.


" Tasanya aneh baru juga kita putus masa aku langsung mau mengenal dia biarkan saja lah kalau memang jodohku dia ya nanti ada caranya", jawab Irfan seperti orang yang pasrah.

__ADS_1


" ya harus usaha Mas, kalau Mas kayak gini nggak mau mengenal nggak mau mendekati ya nanti dia diambil orang", ujar mutiara kesal karena Irfan tidak ada usahanya untuk menuruti kemauan orangtuanya.


" ya biarin saja berarti bukan jodohku", jawab Irfan sekenanya.


" Nakal kamu Mas!", umpat Mutia kesal, Irfan hanya terkekeh lebar.


" Kamu sendiri apa kabar dengan ayahnya Hilmi?", tanya Irfan kemudian.


" Baik-baik saja", jawab Mutia dingin seakan malas dengan pertanyaan Irfan tersebut.


" Aku dengar jauh sudah pisah dengan istrinya", ucap Irfan kemudian.


" Bodo ah bukan urusanku, mau dia pisah atau punya istri kembali ya biarkan saja enggak ada hubungannya denganku", ujar Mutia kemudian.


" yakin jika dia nikah lagi dengan orang lain kamu enggak merasa kecewa?", goda Irfan pada Mutia.


" Nggak juga, setiap orang kan mempunyai takdir hidupnya sendiri sendiri Mas, meskipun bercerai dari isterinya bukan berarti terus dia memilihku, karena dari dulu dia tidak menginginkanku", ujar Mutia apa adanya itulah yang dirasakan sampai saat ini, meskipun terkadang feeling-nya jika ada Arjuna datang ke rumahnya Mutia seperti merasa jika Arjuna menyukai dirinya tapi jika mengingat kata-katanya dulu rasanya mustahil juga.


" wah wah wah wah wah sahabatku ini sudah pintar sekali mengarang bebas rupanya, seperti wartawan tahu sekali detailnya tentang gosip tetangga", Mutia terkekeh lebar.


" Aku mendapatkan kabar tersebut dari orang yang akurat bisa dipercaya, bukan berita abal-abal", jawab Irfan kemudian namun Mutia masih saja terkekeh tidak mau peduli juga sebetulnya.


" Saya tidak tertarik membicarakan tentang Arjuna pagi ini ketika ketemu teman saya yang sudah lama mengerjakan proyek di luar kota aku lebih tertarik tentang calon istrinya yang bernama Andini aku mau kenal rasanya ingin memberitahu jika calon suaminya adalah lelaki yang baik", ujar Mutia terkekeh lebar.


" Belum ada niatan untuk mengenalkannya pada orang lain karena dia pun juga belum mengenal dia", jawab Irfan mengenai pernyataan mutiara tentang Andini.


" Makanya cepatlah kau kenali calon istrimu insya Allah dia wanita yang cocok untuk dicintai mas Irfan dan pasti bisa membahagiakanmu karena ada doa restu Ibu mu di sana", cermati yang memberikan semangat kepada Irfan, meskipun Mutia dan Irfan pernah memiliki hubungan Namun waktu yang saat ini sudah benar-benar melepas Irfan dengan ikhlas sehingga tidak ada lagi rasa yang tersisa di hatinya.

__ADS_1


Bagi Mutia Restu orang tua terutama ibu sangatlah penting apalagi bagi anak laki-lakinya sehingga ketika orang tua Irfan tidak merestui nya dari saat itu juga Mutia langsung menutup rapat hatinya untuk Irfan dia harus kuat menyimpan rasanya kepada Irfan dan menyembunyikan di palung hatinya yang terdalam agar tidak menyakiti kedua orang tua Irfan.


" Kalau boleh jujur aku masih menunggumu Bun aku masih belum bisa move on darimu", lirik Irfan kemudian.


Mutia mendongak menatap pria yang kini berada di hadapannya, rasanya ingin membuang tatapan matanya itu terhadapnya dia tidak ingin ditatap seperti itu.


" Mas, kenali dulu Andini kita sudah selesai dan sudah lama, jika begini terus sebaiknya kita tidak dalam 1 divisi biar lebih jarang lagi ketemu, aku takut jika sering bertemu mas tidak mau mengenali Andini sementara aku juga sudah tidak ada rasa lagi denganmu Mas", jawab Mutia jujur.


Irfan tidak terkejut dengan pernyataan Mutia tentang perasaannya karena Irfan mengenal betul Mutia tidak akan pernah mau menjalin kasih jika seorang ibunya telah menolak kehadiran dirinya.


" Huff!!!! mungkinkah aku bisa menerima Andini dan bisa mencintainya seperti aku mencintaimu Mutia", lirik Irfan.


" Kamu pasti bisa Mas, karena sekeras apapun usahamu untuk menyatukan perasaanmu denganku tanpa Restu Ibu mu aku langsung mundur teratur dan tidak akan pernah berbalik lagi", ujar Mutia meyakinkan Irfan jika itulah pilihan dan pendirian Mutia.


" kenapa kamu menyerah begitu saja Mutia kenapa kamu tidak berada di sampingku untuk saling menguatkan dalam meminta Restu orang tua aku", ujar Irfan sedikit kecewa.


" karena aku merasa tidak pantas berada disampingmu untuk mendampingimu, penjelasan dari bapak mu itu sudah sangat jelas dan gamblang dan aku sudah berusaha untuk bisa menerimanya dengan ikhlas", Jawab Mutia.


" Apa hanya dengan mengenal Andini saja solusinya Mutia?", Irfan bertanya dengan nada Fristasi.


" Ya, setidaknya yakinkan hati mas jika pilihan orang tua itu selaluyang terbaik", Jawab Mutia.


" Tapi bagiku Kamu yang terbaik yang ingin ku miliki".


" Jangan, karena jelas aku menolaknya tnpa restu ibu mu, maka aku mundur langsung", Jawab Mutia.


" Ya akan kuturuti saranmu, maafkan aku ya Mutia, maaf", Ujar Irfan dengan wajah sendu.

__ADS_1


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, mas ga salah padaku", Jawab Mutia tersenyum tips memberikan semangat kepada Irfan.


Bersambung.....


__ADS_2