
" Nak Aini, saya kemari hanya ingin memastikan keadaan dan keberadaan mu dan putramu, maaf jika bapak mengejutkan kamu datang kesini malam-malam, bapak hanya tidak sabar dan ingin segera bertemu setelah mendengar kabar jika dirimu telah ditemukan, seharusnya Bapak melakukan ini 5 tahun yang lalu bukan saat ini, maafkan Bapak khususnya Arjuna Bapak tahu kami semua bersalah padamu".
Setelah selesai mengatakan kata-kata itu pak Abdul tertunduk, rasanya sangat malu sekali, perbuatan Arjuna berimbas pada dirinya dan juga keluarganya, Hanya menyisakan penyesalan dan rasa malu.
" Apa yang harus saya lakukan supaya bisa menebus semua kesalahan kami pada mu selama 5 tahun ini? Maaf, bapak malu sekali nak Aini, sangat malu, jika bisa nyawa ini untuk menebus rasa bersalah ini bapak akan serahkan padamu ", Ucap pak Abdul dengan mata berkaca kaca.
Mendengar kata kata seperti itu Aini menonggak terkejut, tidak menyangka jika pria paruh baya yang masih sangat gagah ini akan berkata sedemikian.
" Untuk apa nyawa bapak? Saya tidak sekejam itu pak! Semua sudah berlalu, sudah berakhir saya bahkan sudah tidak mau mengingatnya lagi!", jawab Aini, wanita pendiam itu berkata dengan tenang tak ada sakit hati ataupun dendam, seakan semuanya dia terima dengan mudah takdir hidupnya.
" Bapak... Bapak minta maaf nak, maaf!", Tangan pak Abdul menangkup didepan dada.
Aini mengangguk, matanya juga berkaca kaca, tidak tega sebetulnya melihat pria dihadapannya ini seperti pengemis dihadapannya, seumur hidupnya Aini merasa diperlakukan orang dengan sebelah mata jadi tidak mungkin ada orang mengiba dihadapannya, dan sekarang, seorang bos besar mengharap maaf darinya.
" Sudah pak, saya sudah memaafkan Arjuna dan juga keluarganya, ini takdir yang harus saya lalui, tidak mengapa, tidak perlu bersedih pak karena kesalahan tidak semuanya menyisakan luka, ini buktinya ada Hilmy yang hadir untuk menyembuhkan luka itu pak, perkenalkan dia Hilmy putraku pak ", Aini mengusap rambut kepala putranya dan pak Abdul pun tersenyum pada hilmy dengan derai air mata.
" Ini Opa kamu yang sebenarnya nak, panggil opa ya", Pak Abdul langsung mendekap Hilmy dengan erat dan derai air mata membanjiri pipinya.
" Mohon maafkan saya juga pak, karena tanpa permisi saya memakai nama kebesaran keluarga bapak yakni Hilmy Meidiawan Muis", Lirih Aini membuat pak Abdul semakin mengeratkan pelukannya pada sang cucu seraya tersenyum karena merasa senang Aini sudi memakai nama keluarganya itu.
" Itu harus meskipun dia lahir tanpa akad yang seharusnya namun bapak senang jika kamu menganggap darah dia mengalir darahnya Muis, itu artinya kamu menerima kehadirannya dengan perantara Arjuna, tidak masalah kami senang, meskipun dari segi kepercayaan yang kita anut tidak mewajibkan pemberian nama keluarga bagi anak... ", Pak Abdul tidak meneruskan kata katanya karena tidakau menyakiti hati Aini dan juga Hilmy.
__ADS_1
" Iya pak saya tahu, saya memberi nama itu dulu hanya berjaga jaga jika saya tidak bisa membesarkannya agar dia tahu siapa yang harus dia cari ketika besar nanti karena saya sudah tidak ada keluarga lagi", jawab Aini.
" Terima kasih karena kamu sudah menjaga, mengandung dan melahirkan dia serta mengurus hingga dia sebesar sekarang, terima kasih", Ucap pak Abdul.
" Itu sudah kewajiban saya pak, meski tidak mudah untuk semua itu tetapi jika diingat sekarang terasa manis, tidak ada rasa marah karena harus menjaga dia hingga saat ini".
" Bagaimana ini, bapak harus meminta maaf sekali lagi, karena tidak bisa memperjuangkan kembali nak Aini dan Hilmy untuk bersatu dengan bapaknya, karena....", Lagi, pak Abdul tidak meneruskan ucapannya.
" Saya sudah tahu pak, paham kok! Tidak masalah pak, dari awal kenapa saya berbohong atas hasil test kehamilan itu juga karena pak Arjuna menolak saya, saya mengerti pak", Aini tersenyum untuk menyakinkan pak Abdul jika dirinya baik baik saja.
Sementara dua orang dewasa itu masih bercakap Hilmy rupanya telah tertidur di sofa dengan meringkuk karena sebagian sofanya untuk duduk bundanya.
" Aku doakan nak Aini mendapatkan jodoh seorang lelaki yang benar benar mencintai nak Aini dan Hilmy dengan tulus ikhlas".
" Saya dengar kabar jika nak Aini ternyata sudah 3 bulan ini bergabung dalam proyek kerja sama PT Persada dan PT AMM, dan sekarang lanjut dengan proyek pembangunan hotel milik Arjuna", Ujar pak Abdul.
" Iya pak, benar begitu adanya", Ucap Aini.
" Selama ini bagaimana nak Aini menjalani hidup", Pak Abdul merasa perlu bertanya mengenai itu sebab pak Abdul tahu jika Aini hidup seorang diri tanpa sanak saudara dan juga usia yang masih sangat muda.
" Ya, saya ... " Aini tidak jadi melanjutkan kata katanya namun dia hanya tersenyum menatap pak Abdul, kemudian Aini menundukkan wajahnya tak berniat melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
" Bapak bisa menebak jika kehidupan nak Aini lima tahun kebelakang tidaklah mudah, terus siapa yang selama ini membantu?", Tanya pak Abdul hati hati.
" Keluarga mantan suami saya pak", Suara Aini tercekat, ada bulir mrngalir disana, Aini buru buru menghapusnya dengan punggung tangannya.
" Menangsislah... Jangan ragu nak", Pak Abdul manggut untuk membuat Aini nyaman bercerita.
" Maaf pak saya akan memindahkan Hilmy dulu ke kamar, disini dingin karena pintunya terbuka, saya permisi dulu", Aini mengangkat putranya dengan hati hati menuju kamar, sebetulnya pak Abdul ingin membantu mengingat sang cucu yang bertubuh gembul tetapi rasa tidak enak jika memasuki area kamar pribadi Aini jadi mengurungkan niatnya tersebut.
" Maaf pak", Aini kembali duduk di sofa ruang tamu nya.
" Oh jadi selama ini keluarga Aldi tahu keberadaan kamu?", tanya pak Abdul hati-hati.
" Ya begitulah Pak, Saya memang meminta mereka untuk merahasiakan keberadaan saya tapi semuanya tidak ada yang berubah saya masih kuliah di tempat yang sama dan saya juga tidak pergi ke mana pun masih berada di dalam kota ini", Ujar Aini jujur.
" Tapi mengapa sulit sekali untuk menemukan mu nak, bapak berusaha untuk mencarimu bahkan memakan waktu yang cukup lama antara 5 sampai 7 bulan Bapak terus mencarimu namun kenapa tidak bisa menemukannya jika kamu masih berada di kota ini", Pak Abdul mengerutkan keningnya merasa tidak percaya dengan cerita Aini.
" Iya memang keluarga mantan suami saya yang telah membackup semuanya Pak, maaf", ini menundukkan kepalanya merasa tidak enak dengan ceritanya pada Pak Abdul.
" Bapak tidak pernah menyalahkan mu, wajar jika kamu melakukan hal itu, semua itu memang karena kesalahan Arjuna, ceritakan semua apa yang terjadi selama 5 tahun ini Bapak ingin dengar nak".
-
__ADS_1
-
Bersambung....