
" Bunda di sini saja, Kata Om Hilmi boleh pesan apa aja, Hilmi mau es krim Om, sama mau pasta boleh tidak?", Tanya bocah itu hati-hati seraya menatap Mutia dan Arjuna bergantian.
Mendengar pertanyaan seperti itu Arjuna menatap Mutia, sorot matanya seakan mengisyaratkan untuk Mutia menuruti permintaan Hilmi.
" untuk es krim boleh tetapi hanya satu kap kecil saja namun untuk pasta Hmmm.... Iya boleh, tapi harus habis ya", ujar Mutia kemudian pada putranya.
Sangat sulit memang Apa yang dirasakan Mutia saat ini meskipun belum keluar satu patah pun kata-kata dari Arjuna namun setidaknya Mutia paham akan maksud Arjuna untuk pertemuan kali ini apa lagi pertemuan ini Mutia diperbolehkan membawa putranya.
" Apapun akan aku hadapi, jika orang yang berada dihadapanku ini berani merebut Hilmi dariku maka kali ini aku tidak akan tinggal diam selagi tubuhku ini masih bernyawa akan ku perjuangkan sampai mati Apa yang menjadi hakku dan tidak ada yang boleh menginjak-injak harga diri ku meskipun seorang Arjuna sekalipun yang Bahkan Ayah biologis dari putraku", batin Mutia meronta.
" kalau begitu pesanlah sesuai keinginanmu anak ganteng, boleh Om tahu siapa nama panjangmu?", tanya Arjuna dengan nada lembut.
Hati Mutia langsung mencelos, dadanya langsung berdebar hebat sakan dunia akan berhenti saat ini, namun bukan Mutia jika tidak bisa mengelabuhi perasaannya dengan sebuah ketenangan meskipun untuk itu Mutia harus berusaha sangat keras.
" Hilmy Meidiawan Muiz Om...", jawab Hilmi dengan jelas dan lancar Arjuna hanya manggut-manggut saja tidak ada reaksi keterkejutan sama sekali.
" Ayah Hilmi siapa namanya?", tanya Arjuna kemudian Mutia masih bersikap tenang dalam duduknya membiarkan semua mengalir apa adanya sungguh pintar Mutia menutupi gejolak hatinya yang saat ini sedang meletup-letup hebat.
" Aldi", Jawa pecah itu dengan jelas kembali.
" papa Aldi, Hilmi sering telepon", cara bocah itu kembali.
" Memang papa Hilmi sekarang berada di mana?", kali ini mata Arjuna melirik kearah Mutia ingin melihat ekspresi yang ditimbulkan oleh wajah bermata indah itu.
__ADS_1
" di luar negeri Om, papa apa kerja punya restoran sendiri bersama dengan mama Luna", Jawa bocah itu dengan senyum lebar di ujung kalimatnya membuat Arjuna makin terpesona oleh ketampanan anak yang berada di depannya ini.
Sebenarnya saat ini yang hatinya bergemuruh seakan-akan ada suara guntur atau sedang loncat loncat tidak karuan bukan hanya Mutia namun hati Arjuna pun tidak kalah dahsyatnya suara itu bergemuruh di dadanya.
Meskipun Tristan telah memberikan beberapa data mengenai Mutia dan juga putranya namun tetap saja rasa keterkejutan yang luar biasa terjadi secara nyata ketika Arjuna mendapat kesempatan untuk menginterogasi anak kecil yang begini berada dihadapannya itu.
" Kenapa Hilmi tidak ikut bersama papa ke luar negeri?", sebenarnya pertanyaan ini menurut Arjuna tidak penting tetapi Arjuna harus bisa mengalihkan perasaannya yang sungguh-sungguh sedang berkecamuk hebat di dadanya.
" kata Bunda karena luar negeri itu jauh banget harus naik pesawat jadi bunda tidak punya uang banyak untuk beli tiket pesawatnya Om makanya Hilmi tidak ikut papa", jawab bocah itu dengan bahasa layaknya anak-anak seumur nya.
" Kalau begitu Hilmi boleh Panggil Om dengan kata ayah, mau kan Panggil Om dengan kata ayah?!", Mutia yang Mendengar pun langsung terjingkat kaget dengan kerasnya.
Apalagi setelah menyaksikan raut wajah Arjuna dengan mata yang berkaca-kaca ketika mengucap kata ayah di depan Hilmi suara Arjuna pun bahkan di akhir kalimat nya sangat serak Dan tercekat seperti orang yang sedang menahan tangis, ya benar saja setelah mengucapkan kata itu Arjuna nampak menahan bibirnya sekuat tenaga untuk tidak bergetar namun punggungnya tidak bisa diingkari, Iya punggung lebar itu bergetar hebat.
" Masa sih bunda marah gitu? Tidak kok! Iya kan Bunda? Bunda tidak akan marah kan jika Hilmi memanggil Om dengan sebutan ayah?", Arjuna merayu Hilmi supaya mau memanggil dirinya dengan sebutan ayah.
" Endaakkk mauuuu!!!", bocah itu pun bersuara sangat melengking saking tidak maunya dan tidak menyetujui apa yang diusulkan oleh Arjuna.
" Eh, sayang jangan marah-marah kalau tidak mau juga tidak apa-apa kok panggil om aja seperti tadi Iya kan Om, lagian Hilmi sudah punya Papa Om", ucap Mutia dengan lembut supaya anaknya tidak jadi marah.
" Maaf Pak anak saya rupanya tidak setuju jika harus memanggil anda dengan sebutan ayah, cukup papanya saja yang dia miliki meskipun dari jauh, tetapi bayangannya masih bisa dilihat ketika mereka ber teleponan video Pak, mohon maaf kan anak saya", Mutia merasa tidak enak hati dengan Arjuna karena lengkingan suara Hilmi barusan.
" Permisi", suara dua orang pelayan yang mengantar pesanan kemeja mereka membuyarkan ketegangan yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
" Terima kasih", ujar Mutia ramah kepada dua pelayan yang sudah menyajikan pesanan makan malam di meja mereka dan kemudian undur diri.
" Ayo silakan dimakan Bu Mutia, abaikan kejadian barusan", Arjuna kemudian mempersilahkan Mutia untuk segera makan beserta Hilmi dan juga dirinya.
" Terima kasih Pak, Nak ini pasta punyamu dan ini es krimnya tapi dimakan dulu pastanya ya sampai habis baru boleh makan es krimnya ok!", Mutia menyiapkan sendok dan juga garpu untuk sang putra untuk menikmati pasta sananya.
" Iya Bunda terima kasih, Terima kasih juga Om", Hilmi sudah kembali ceria ketika melihat es krim pesanannya sudah datang dan tersaji di meja hidangan itu.
mereka bertiga makan dengan sangat khusyuk nya hanya sesekali suara Hilmi menanyakan sesuatu dan dijawab dengan singkat dan lembut oleh Mutia tentu jawabannya adalah yang bisa dimengerti oleh Hilmi pada usianya saat ini.
" Bunda bolehkah Hilmi main sebentar di pojok itu sebelum kita pulang", ucap Ilmi pada Mutia menunjuk tempat yang tidak jauh dari tempatnya makan yaitu area permainan anak-anak.
" iya silakan Om yang mengawasi dari sini tapi jangan lama-lama ya Om mau berbicara dulu sama bundamu", kali ini Arjuna yang menjawab membuat Mutia ternganga membuka mulutnya sedikit lebar karena sejatinya tidak setuju dengan keputusan Arjuna barusan.
" nanti jika sudah mau pulang Panggil Hilmi ya Bu Helmi mau main mandi bola di situ", mau tidak mau Mutia pun hanya mengangguk setuju dengan perasaan pasrah.
Setelah Hilmi meninggalkan meja makannya Mutia pun kemudian mendesah dengan sangat kasar dan matanya pun melotot marah ke arah Arjuna.
" Hilmi itu anak saya Pak, jadi yang boleh memberi keputusan atas permintaan dia boleh atau tidak itu hanya saya, saya orang tuanya yang mengandung yang melahirkan dan membesarkannya jadi saya mohon dengan hormat Bapak jangan pernah ikut campur dengan anak saya!", suara Mutia dengan menggerang menandakan dia sangat marah kepada Arjuna saat ini.
-
-
__ADS_1
Bersambung....