
Tibalah hari yang dinantikan yakni hari pernikahan Arjuna dan Mutia.
setelah menunaikan salat subuh Mutia pun bersiap-siap untuk dirias oleh MUA dari semalam semua anggota keluarga tidur di hotel tempat akan diadakan acara tersebut .
Acara ijab qobul yang akan dilaksanakan tepat pukul 08.00 membuat Mutia sudah harus dirias sejak jam 5 pagi.
" Mbak jangan terlalu tebal kalau bisa senatural mungkin ya biar tidak terlihat seperti badut, maaf soalnya saya suka nggak percaya diri kalau make up nya tebal", ujar Mutia ketika Mbak prias sudah siap untuk mendandaninya.
" ya untuk hari ini harus spesial dong Mbak, kan ini hari spesial dalam hidup Mbak Mutia jadi wajarlah kalau tebal sedikit tenang insyaallah akan manglingi", jawab Mbak perias nya.
" Tapi memang banyak udah cantik sih, di boleh sedikit juga udah langsung manglingi, perawatannya mahal ya Mbak?", kuda mbak prias nya enggak kepo pada Mutia.
" iya, mahal banget soalnya harus rajin sehari 5 kali", jawab Mutia dengan cengengesan.
" pakai apa itu Mbak kok sehari sampai 5 kali, minum obat saja cuma tiga kali", Mbak berasnya masih kepo dengan jawaban Mutia.
" Pakai air keran", jawab Mutia dengan tersenyum.
" kram apa kenapa mahal?", mbak prias nya makin penasaran.
" ya kran kamar mandi mbak", Mutia tergelak dan disinilah Mbak berasnya sadar Mutia tengah mengerjain nya.
" Ah Mbak Mutia ini bisa-bisanya mengerjai aku, Aku kira serius tadi, ternyata.... ", Mbak berasnya pun ikut terkekeh seraya terus mengaplikasikan berbagai macam krim-krim ke wajah Mutia.
" Mbak kulitmu ini bagus banget loh sudah ma cantik kulitnya bagus pantas itu Pak direktur setia sekali nunggu Mbak hampir 6 tahun", kuda Mbak prias pada Mutia.
" Bukan karena kulitku Mbak, tapi karena takdir", jawab Mutia tidak mau mendebat Mbak periasnya.
" Iya juga sih, lahir rezeki jodoh dan maut memang sudah takdir kok, ya memang jodohnya Mbak Mutia sama Mas Arjuna mau ada penghalang seperti apapun ya kalian berjodoh, semoga samawa ya mbak".
" Aamiin.... Iya terima kasih doanya".
__ADS_1
Sementara Mutia tengah dirias dengan sesekali mereka berbicara, anggota keluarga yang lain pun juga mereka tengah sibuk mempersiapkan diri tidak terkecuali sang calon mempelai pria.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7: 08 menit, Arjuna sudah rapi dan kini tengah memandangi sangputra yang tengah memakai jas yang senada dengan yang kini tengah Arjuna kenakan.
" Wahhh wahhh wahhh ... jagoan Ayah benar-benar tampan, ini 10 tahun kedepan Ayah bakal kalah ini", Arjuna benar-benar mengagumi ketampanan putranya yang kini tengah berdandan rapi seperti dirinya.
" Wah 10 tahun yang akan datang kamu kalah pamor sama dia", sahut Pak Abdul Muis.
" Tapi menurut Hilmi Di sini yang paling ganteng tetap opa deh", entah apa maksudnya anak kecil itu terang-terangan memuji sang kakek yang pagi ini pun tampil sempurna.
" Wuahahaaa.... kamu jujur sekali nak, cucu Opa ini memang hebat", Pak Abdullah tertawa terbahak tidak tahan untuk tidak melakukan kebahagiaannya mendapatkan pujian dari sang cucu kebanggaan.
" Wah jangan-jangan ada maunya ini opa pagi-pagi begini udah muji-muji opa nih", sahut Arjuna.
" Enggak kok emang beneran, oppa memang sangat ganteng lihat rambutnya itu yang sudah ada putih-putihnya itu tambah membikin opa tambah ganteng kalau ayah itu gagah karena pipinya belum keriput", ujan Hilmi membuat dua orang dewasa itu tertawa tambah terbahak-bahak.
" Hahaaaa..... sudahlah Jun ngalah saja anak kecil itu jujur kok", Abdul masih juga terkekeh mendengar pujian dari sang cucu.
" ih salah Ayah Bunda mau jadi pengantin sama ayah karena Ayah sayang sama Bunda bukan karena Ayah gagah, dan juga Opa Oma nggak mikirin Bunda nangis", begitulah menurut Hilmi kenapa bundanya mau menikah dengan ayahnya karena menurutnya, Ayahnya baik pada bundanya dan Opa Oma nya juga tidak marah-marah.
" Oh iya betul!", Arjuna pun teringat ketika Hilmi menceritakan saat orang tua Irfan membuat bundanya menangis sehingga Om Irfan nya tidak jadi menikah dengan bundanya.
" Maaf Bapak petugas dari KUA nya sudah datang", ketika mereka bertiga tengah berbincang datang pegawai WO yang datang memanggil Arjuna untuk bersiap.
" Oh ya baik, kami ke sana sekarang".
" Ayo jagoan ayah, kita kesana dan nanti duduknya sama opa dan oma ya, sambil doain ayah dan bunda supaya Ayah dan Bunda selalu bahagia", Arjuna pun kemudian mengangkat sangputra dalam dekapannya sambil berjalan bersama dengan sang Bapak.
" Tenang Jon jangan grogi", Pak Abdul pun mengusap punggung Arjuna sebelum akhirnya Arjuna menurunkan Hilmi dan dia bersiap duduk di depan penghulu.
Pak Abdul duduk bersama Hilmi yang diapit oleh ibu Aryanti duduk tepat di belakang Arjuna saat ini.
__ADS_1
Baik Pak Abdul ataupun Bu Aryanti mereka menanti dengan debar-debar kecemasan dalam hatinya mereka berdua terus melafalkan doa-doa dalam hati dengan rasa yang tidak bisa dipungkiri pastinya ada rasa gugup dalam hati mereka yang sangat mengharap putranya akan hidup bahagia bersama wanita pilihan hatinya.
" Bagaimana mas Arjuna, sudah siap?", Tanya pak penghulu melihat keteganfan di wajah Arjuna.
" I-iya pak, siap!", Jawab Arjuna gugup dengan memanggukkan kepalanya secaya terbata.
" Siaap untuk nanti malam ya?!", Goda penghulu lagi.
Arjuna akhirnya menegakkan kepalanya dan memamdang penghulu dengan tersenyum.
Beberapa orang yang mendengar candaan penghulu ikut tertawa.
" Mas Ajunanya tegang, jadi sepertinya butuh semangat untuk rileks agar semuanya lancar bapak ibu".
Arjuna yang mendapat godaan terus menerus dari penghulu akhirnya sedikit rileks karena terbawa suasana santai yang diciptakan penghulu.
" Baiklah jika mas Arjuna sudah siap kita akan segera mulai acaranya karena saya juga ada tugas ditempat lain lagi mas nanti jam 9, mohon kiranya mas Arjuna baca istighfar dulu ... Astaghfirullohaladzim...", Penghulu membimbing doa doa pada Arjuna setelah sebelumnya seorang Cori membacakan lantunan ayat suci sebagai penghantar acara sakral tersebut.
Ijab qobul yang di wakilkan oleh wali hakim karena Mutia sudah tak memiliki orang tua dan juga saudara lelaki dari garis ayahnya maupun kakeknya dengan dua orang saksi yang ditunjuk oleh keluarga Arjuna, dan pak Abdul menunjuk pak Bahar dan juga suami Mery sebagai saksi.
Mutia nampak tertunduk dengan kedua tangan menangkup di dada, berdebar debar dan dag dig dug menunggu acara di luar yang didengarnya samar dari kamar riasnya.
Hingga...
" SAH "
" SAH "
" SAH ".
" Alhamdulillahirobbil alamin", suara ucapan syukur mengalun terdengar membuat Mutia langsung meneteskan air mata.
__ADS_1
Bersambung.....