
" Assalamualaikum Oma", Hilmy dengan lantang mengicap salam setelah motor sang bunda berhenti di garasi rumah Omanya.
" Wa'alaikumussalam cucu Oma yang ganteng", Bu Meri langsung berjalan cepat dengan tergopoh-gopoh dari dalam rumah menuju ke garasi menyambut kedatangan sang cucu.
" Oma mami sudah datang ya?", dari dalam Kenzo sudah berteriak riang mendengar suara motor masuk ke halaman rumah neneknya.
" Iya Kenzo cepatlah kemari Ilmi sudah datang nih", Bu Meri menyambut kedatangan Hilmi dan Mutia anak lucu itu kemudian mencium tangan sang eomma dengan takzim begitupun dengan Mutia.
" Halo kak Kenzo apa kabar? beberapa minggu yang lalu aku kemari tapi dirimu tak ada di rumah kak Kenzo", ujar heal me seraya memeluk Kakak sepupunya itu.
" Oh waktu itu aku sedang pergi sama Bunda".
" Apa kabar tante?", siapa Kenzo ramah kepada Mutia.
" alhamdulillah tante sehat kakak ganteng", jawab Mutia merangkul anak itu dan memeluknya penuh kerinduan.
" Mbak Winda nya ada di sini Bu?", tanya Mutia menanyakan ibunya Kenzo setelah mereka masuk ke dalam rumah.
" kakakmu sedang praktek Ra, nanti kita keluarnya berempat saja kok", jawab Bu Meri.
" Bapak kemana sibuk setiap aku ke sini kok nggak pernah ketemu?", kalungnya Mutia penasaran dengan suami Ibu Meri.
" Bapakmu itu sekarang sedang sibuk dengan usaha barunya, maklumlah udah sepuh nggak mau diem biasanya sama ibu tapi setiap kali kita janjian itu nggak ikut jadi Bapak pergi sendiri", ucap Bu Meri.
" Waahhh.... asik tuh, usaha apa Bu?", tanya Mutia.
" kemarin sehabis pensiun bapakmu itu punya sedikit tabungan terus membeli tanah di pinggiran kota ini di kampung ceritanya membikin villa terus ada kolam ikannya besar dia membuka pemancingan jadi dia selalu disana menunggu bapak-bapak yang mancing kadang sampai malam", jawab Bu Meri.
" wah sudah lama Bu?", tanya Mutia tambah penasaran.
__ADS_1
" baru 5 bulan kebelakang ini", jawab Bu Meri.
" kapan-kapan kita kesana yuk Bu jauh tidak?", Mutia makin antusias.
" 20 menit dari rumah tidak jauh kok 12 kilo nggak ada lampu merah lewat belakang lebih dekat", jawab Bu Meri.
" Pasti Hilmi seneng", ujar mutia membuat Bu Meri langsung punya beberapa ide.
" astagfirullah.... kenapa ya Ibu tidak pernah ingat jika bawa anak-anak ke sana pasti mereka akan kegirangan senang bisa memancing ikan, benar kapan-kapan kita ke sana bersama Kenzo juga", ini Bu Meri yang terlihat sangat antusias.
" Ibu kenapa sampai melupakan kan deket tempatnya, selain kolam ikan ada apanya lagi Bu?", tanya mutiara.
" ada kebunnya, ada beberapa tanaman buah-buahan yang sudah berbuah juga, itu dulu bekas punya orang dijual karena butuh, jadi sudah lengkap tinggal masuk", ujar bu Mery.
" Asyiikkk ..", Mutia sangat antusias.
" Ra, kamu bawa apa ke sini?", tanya Bu Meri melihat mutia meletakkan sebuah box di atas meja makan.
" bolu bikinanku Bu ala kadarnya lah lumayan buat teman minum kopi", ujar Mutia merasa tidak begitu percaya diri karena memang bolu itu dia buat sangat sederhana hanya bolu kukus rasa pandan.
" Hemmm .. enak Ra, ini lembut banget", puji Bu Meri setelah memotong dan kemudian mencicipi olahan bolu buatan Mutia tersebut.
" Alhamdulillah jika ibu menyukai, Mutia membuatnya asal saja bu yang ada di rumah bahannya", ucap Mutia merasa sangat bersyukur jika Ibu angkatnya itu menyukai kudapan yang ia buat.
" Kamu itu loh senengnya merendah, merendah memang bagus tapi jangan semua hal terus kamu merendahkan diri Mutia, Ibu berharap kamu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi untuk mengenal seseorang yang akan menjadi papanya Hilmi, Ibu berharap kamu menemukan seseorang itu Ra", ucapan Merry penuh ketulusan.
" Iya Bu", jawab Mutia sekenanya, jujur dia tak mau memulai sebuah hubungan untuk saat ini, bagi Mutia waktu yang tersisa di luar jam kerja hanya fokus untuk memperhatikan Hilmi putranya.
" Jangan iya iya aja Mutia, kamu itu pintar kamu itu cerdas kamu juga punya pekerjaan yang mapan kamu baik kamu itu wanita idaman banyak laki-laki kamu cantik percayalah pada diri kamu sendiri banyak di luar sana laki-laki yang memuja mu nak", puji Bu Meri tiada henti pada anak angkatnya itu, memang iya semua benar apa yang diucapkan oleh bu Meri tentang Mutia tapi ada banyak hal yang masih dia pikirkan saat ini sehingga belum mau membuka hatinya untuk seseorang hadir dalam hidupnya.
__ADS_1
" Kenzo siap siap yuk", seru Bu Meri pada cucunya, tidak mau membahas lebih dalam lagi pada Mutia tentang masalah jodoh Bu Meri tahu ucapannya barusan hanya sebuah semangat saja untuk Mutia.
Karena sesungguhnya bu Mary juga paham jika dirinya berada di posisi Mutia pasti akan sulit untuk menerima kehadiran laki-laki apa lagi Mutia adalah tipe cewek yang sangat menjaga diri sehingga dia belum pernah pacaran hingga saat ini.
" Hilmy temani kak Kenzo untuk bersiap", ujar Mutia pada putranya itu terlihat mereka masih asyik bermain di ruang keluarga.
" Ayo kak Kenzo cepatlah bersiap aku mau ketemu papasudah tidak sabar", ujar Hilmi antusias.
Sreett....
Mendengar ucapan putranya itu hati Mutia bagai teriris tapi dengan sekuat tenaga Mutia menahan nya rasa perih itu dengan menggigit bibir bawahnya.
Begitupun dengan Bu Meri hatinya sakit mendengar sang cucu bicara seperti itu tapi itulah yang Hilmy tahu kenyataannya memang mereka memainkan sandiwara itu untuk anak kecil yang belum tahu apa-apa jadi tidak salah ucapan Hilmi jika seperti itu.
" Maafkan kami nak, semoga kamu bisa memaafkan kesalahan orang tua ini", aku mah Bu Meri dalam hati, diapun melengos pergi meninggalkan Mutia karena air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi buru-buru dia mau masuk kamar dengan alasan mau mengambil tasnya padahal dia di dalam kamar tergugu untuk sebentar menangis menumpahkan kepedihan yang dirasakan di dalam hati.
Namun tidak bagi Mutia, kepedihan dan kepiluan sudah seringkali dirasakan sehingga mendengar putranya bicara seperti itu memang rasa perih itu ada, namun Mutia sudah biasa menahan nya di dalam hati untuk tidak menumpahkan air matanya.
" Ayo kalian sudah siap?", Bu Meri keluar kamar dengan wajah yang ceria tidak menunjukkan kepedihan yang barusan menghampiri hatinya dia sudah cukup puas menumpahkannya di dalam kamar mandi yang berada di kamarnya Setelah hatinya lega barulah dia membetulkan make up-nya kembali dan keluar dari kamar.
" Sudah Oma kami siap", jawab Kenzo dan Hilmi persamaan.
" Ra, Kamu yang bawa mobilnya", Bu Meri menyerahkan kunci mobil itu kepada Mutia dan mereka segera bersiap untuk berangkat menemui Aldiano dan keluarganya di kafe xx.
-
-
Bersambung ....
__ADS_1