
Malam ini Arjuna masih kusuk-kusuk di dalam kamarnya pikirannya nya jauh menerawang rasanya tidak bisa matanya diajak terpejam kejadian tadi siang melihat Mutia menggandeng seorang anak lelaki masih saja mengganggu pikirannya, otaknya berputar-putar dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak jelas di pikirannya.
Kania Sudah terlelap sedari tadi namun Arjuna tidak sedikitpun ingin menyusulnya untuk segera menjelajahi malam dengan mimpi-mimpinya.
Arjuna memilih beranjak dari tempat tidur dengan pelan menuju balkon kemudian menutup pintunya pelan tidak mau mengganggu tidur Kania dia pun menghisap cerutu nya menghembuskan pelan asapnya seraya memandangi langit malam yang begitu gelap tak ada satu bintang pun yang terlihat terpancar dari sana.
" Huuhhhh", berulang kali Arjuna menghembuskan asap cerutu itu untuk menemani malam panjangnya.
Kemudian dia memikirkan ada Kania di sisi-nya tapi tak sedikitpun Arjuna menganggapnya istri dia hanya merasa seperti punya teman perasaannya tidak berubah, seharusnya ada rindu yang begitu menggebu setelah kepergian istrinya dan baru pulang 3 hari ini di rumah.
Namun Arjuna tidak merasakan hal itu, padahal kan ia sangat merindukannya bahkan sepulang dari luar negeri ini setiap hendak tidur Kania selalu memakai gaun yang sangat indah berbahan minim Brenda dipinggirnya dengan warna-warna na-eun yang sangat kontras dengan kulit putihnya, namun Arjuna seperti biasa hanya akan membelai rambutnya mencium keningnya serta memeluknya tidak lebih.
Tadi pun ketika hendak tidur wajah gania nampak terlihat sangat sedih sehingga Arjuna harus membeli lama rambutnya dan mendekapnya barulah Kania bisa tertidur.
Arjuna tahu apa yang diharapkan istrinya, Tapi satu yang selalu Arjuna Utara kan sebagai alasan penolakannya terhadap Kania yaitu Arjuna masih ingin bertemu dengan 1 orang dan meminta maaf kepadanya setelah itu Arjuna berjanji akan menjadi suami Kania sepenuhnya.
Tetapi saat bertemu dengan Mutia Arjuna menjadi tidak yakin bisa memenuhi janjinya tersebut ada kebimbangan yang sangat besar di sana di hatinya yang terdalam.
" Mutia siapa sih sebenarnya kamu, kenapa mata itu... mata itu", tiba-tiba saja dada Arjuna menjadi sesak sehingga untuk beberapa saat Arjuna kesulitan untuk bernafas.
Dengan tubuh yang terhuyung Arjuna berusaha untuk menguasai dirinya supaya tidak terjatuh kemudian dia meraih pinggiran balkon dan mendudukkan dirinya di lantai sejenak berusaha untuk menenangkan pikirannya dengan cara menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
" Ya Robb.... jangan dulu kau ambil nyawaku sebelum aku bertemu dengan Dia, hamba ingin meminta maaf padanya Ya Robbi... hamba berdosa banyak padanya ", Arjuna tergugu, hatinya hancur ketika mengingat kesalahan terbesar dalam hidupnya yang iya sesali sepanjang hampir 5 tahun ini hingga membuatnya menjadi seorang manusia yang sangat lemah bahkan kini Arjuna harus mengidap depresi berat tatkala teringat akan dosa-dosanya itu.
Setelah tenang untuk beberapa saat Arjuna kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah masuk kembali ke dalam kamar dia pun mencari-cari obat yang biasa dia minum ketika merasa jika depresinya akan kambuh.
Setelah selesai meminum obat tersebut Arjuna ke kamar mandi dulu untuk membuang hajat kecilnya kemudian membersihkan tangannya dan mencuci mukanya sebentar baru lah berangkat untuk tidur supaya obatnya bisa bekerja dengan baik.
Untung saja ketika perasaan dan juga pikirannya sudah kalut Arjuna berusaha untuk menguasai diri agar tidak menjadi berlalu dan parah seperti dulu, semenjak kelahiran Shaila Arjuna memang berusaha untuk mengendalikan perasaannya yang mengganggu Dengan meminum obat lebih cepat agar tidak menjadi berkepanjangan.
🌹
Pagi harinya Mutia sesudah mengantarkan Hilmy ke tempat sekolahnya dan daycare, Mutia kembali melajukan motornya menuju tempat kerjanya.
Kali ini Mutia langsung menuju ke ruangan Pak Jodi karena hari Jumat kemarin Pak Jodi minta Mutia untuk segera memberikan laporan pengeluaran yang sudah terjadi hampir dua bulan selama mengerjakan proyek sekolah luar biasa tersebut.
" Pagi Mbak Mutia", Kak jadi pun mempersilahkan Mutia untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Kemudian Mutia mengeluarkan sebuah map yang didalamnya berisi laporan tentang keuangan bulan kemarin serta bulan ini.
" 2 bulan sudah masuk berapa persen ini ya pak pembangunannya?", pertanyaan Mutia barusan membuat fokus Pak Jodi terarah pada Mutia.
" Baru 30% Mbak, sebetulnya ini sudah melesat jauh dari perkiraan kita, ternyata lebih cepat dan itu bagus untuk menghemat biaya upah pegawai tentunya, kita berharap selanjutnya pun akan konsisten waktu yang cepat bangunan yang berkualitas bagus serta hasil yang indah, karena waktu akan lebih banyak nanti ketika finishing", Ujar Pak Jodi.
__ADS_1
" iya, target waktu kita adalah kan 13 bulan ya pak, dan ini baru 2 bulan sudah 30% itu sudah termasuk finishing ya pak?", tanya Mutia kemudian yang juga merasa sangat bersyukur karena ternyata pekerjaan ini berjalan lancar sampai sejauh ini.
" Betul mbak, di 30% ini kita sudah finishing sebanyak 70% tinggal 30% nya itu untuk memperindah saja tapi itu juga biayanya lumayan Mbak", ujar Pak Jodi.
" Pasti pak, biaya terbesar kita sebenarnya malah di finishing ini selain waktunya juga yang malah tidak bisa diperkirakan biasanya seperti itu kan pak?".
" Iya betul, tahap finishing itu biaya bisa tidak bisa diprediksi sama sekali apalagi jika menuruti hawa nafsu pengen yang indah dan bagus itu akan sangat mahal Mbak tetapi kita di sini kan mengambil standarnya saja jika ingin lebih bagus biarkan saja nanti itu bos juragan Mbak yang mengisi", nggak jadi pun terkekeh begitupun dengan Mutia.
" Iya Pak".
" Bagus ini laporannya Mbak, ternyata sejauh ini kita masih bisa menekan biaya pada upah pegawai Mbak dan ini fantastic sekali, jika sampai akhir seperti ini insya Allah perusahaan kita akan untung banyak", Pak Jodi tersenyum puas setelah membaca laporan keuangan selama 2 bulan ini.
" Untuk itu semua butuh ekstra kerja keras Pak untuk mengawasi para pegawai ini supaya mereka semangat bekerja, mungkin kita perlu tambahan sedikit untuk mengatrol semangat mereka sesekali wajib lah kita memberikan asupan makanan yang lebih dari biasa mereka makan atau juga kita mengawasi mereka dengan sedikit candaan itu saya rasa juga efektif pak", ucap Mutia yang kemudian di angkutin sangat keras oleh Pak Jodi.
" Setuju Mba, maaf nih keenakan manggil Mbak terus di kantor", ujar Pak Jodi yang memang terbiasa akhirnya memanggil Mutia Mbak bukan lagi Bu karena menurut Pak jadi untuk di panggil Bu Mutia masih terlalu muda.
" Tidak masalah Pak, saya sih senang-senang saja dipanggil mbak berasa saya ini masih muda banget gitu Pak", Mutia terkekeh.
" Kebiasaan saya di rumah Mbak Mutia, anak saya yang paling gede juga perempuan dan usianya 2 tahun di bawah mbak Mutia bulan ini juga baru akan wisuda makanya saya terbiasa memanggil Mbak dan itu terbawa hingga keenakan memanggil Mbak Mutia", Ujar Pak Jodi.
-
__ADS_1
-
Bersambung....