
" Oh ya Mbak dan Mas Irfan siang ini aku enggak bisa makan siang bareng sama kalian ya, Aku ada janji dengan seseorang ", ucap Mutia pada Jihan dan Irfan.
Irfan mengernyit mendengar perkataan Mutia hendak bertanya tapi kok rasanya tidak sopan merasa terlalu kepo dengan urusan pribadi Mutia saat ini.
" Dengan siapa Mutia?", tanya Jihan yang membuat Irfan diam-diam sangat mengharapkan segera jawaban dari Mutia.
" Dengan pemilik PT AMM, Pak Abdul sepertinya beliau ingin membicarakan perihal pelaksanaan pembangunan hotel tersebut", jawab Mutia tidak jujur karena ini masalah pribadinya dan Mutia ingin merahasiakan dari kedua temannya ini dan itu merasa jawaban paling tepat untuk saat ini.
" Owh... semoga sukses".
" Aamiin Mbak!".
" Boleh aku temani?", tanya Irfan sedikit ragu.
" Terima kasih Mas, kebetulan Pak Abdul hanya ingin bertemu saya, Saya ingin melihat laporan rencana keuangan an-naba HK Pak Jodi pun tidak ikut, mohon maaf ya Mas Irfan Saya nggak bisa mengajakmu, mungkin lain kali ya".
Sesungguhnya Mutia merasa tidak enak dengan perhatian Irfan barusan, dan laki-laki Mutia membuat jawaban yang sedikit melenceng demi kebaikannya.
Sungguh setiap orang pasti punya sesuatu hal yang dirahasiakan dan tidak ingin semua orang tahu begitupun dengan Mutia yang akan bertemu dengan Pak Abdul mengenai masalah pribadi. jika bisa Mutia akan menutupnya rapat-rapat tidak akan pernah sekecil pun orang-orang yang baru dikenalnya mengetahui masa lalunya.
" Ya sudah hati-hati", ucap Irfan merasa sedikit kecewa tetapi dia tetap tersenyum untuk menutupi kekecewaannya.
" Iya makasih Mas, saya juga akan berangkat sekarang juga silakan nikmati makan siang kalian berdua ya, jangan bertengkar kalian harus akur", pacarmu dia terkekeh sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
" Pastinya... karena kita bukan pasangan Tom and Jerry, tapi kita pasangan Rama dan Yulia ... ups salah Romeo dan Juliet", mereka bertiga pun mengakak lebar mendengar ucapan Jihan barusan.
" Iya deh, Mutia berangkat dulu assalamualaikum".
" Waalaikumsalam hati-hati".
__ADS_1
Mutiah kembali melihat layar ponselnya sebelum mau naikin motor matic nya untuk memastikan tempat tujuan yang sudah disepakati bersama dengan Pak Abdul.
" Bismillahirohmanirohim".
Mutia langsung menjalankan motornya menuju ke sebuah tempat yang sudah dikirim lokasinya oleh Pak Abdul siang itu.
" Cafe anggrek", Mutia menyebutkan nama tempat tersebut.
Sesampainya di tempat itu ternyata pak Abdul sudah menunggunya di sana juga ada Pak Fajar Tristan Arjuna serta 2 orang pengacara cara yakni seorang lelaki dan 1 orang perempuan yang sudah cukup berumur.
" Masf pak saya terlambat ", Mutia mengangguk sopan pada semua orang yang berada di hadapannya sekarang.
" kita datangnya bersama anak Mutia hanya saja 12 menit duluan saya lihat sekarang kita juga masih di parkiran dan baru turun dari mobil, jangan merasa bersalah begitu mari kita masuk", jawab Pak Abdul dengan sangat lembut.
" Namun sebelumnya perkenalkan dulu ini pengacara yang akan mengurus surat perjanjian kita Ibu Fitri serta Pak Bagus dan ini Pak Fajar asisten saya dan mereka berdua pasti pemutih sudah mengenalnya kan? Arjuna putra saya dan asistennya Tristan", Ucap pak Abdul memperkenalkan semua orang yang berada di hadapannya tersebut.
" Mari silahkan".
mereka kembali berjalan menuju ruangan yang telah di reservasi sebelumnya oleh Pak Fajar.
" Nak Mutia Bapak minta maaf kenapa Bapak harus membawa rombongan sebanyak ini bukan apa-apa sekalian makan siang saja dan agar semua lebih akrab gitu saja ya Nak Mutia", Pak Abdul tidak ingin membuat Mutia merasa tidak enak karena seperti dikeroyok meskipun sebenarnya tidak seperti itu.
Pak pacar kemudian memanggil pelayan untuk menulis makanan yang dipesan oleh mereka satu persatu.
Pak Abdul duduk di meja paling ujung pinggir di sebelah kanannya ada Bu Fitri di sebelah kirinya ada Mutia di sebelah Mutia Arjuna dan sebelahnya lagi Pak Fajar dan Tristan dan di seberangnya tepatnya sebelah nya Bu Fitri Pak bagus.
" Kita makan dulu setelah itu barulah kita membicarakan tujuan dari pertemuan kita siang hari ini", ucapan Abdul dan dia mungkin semua orang yang di situ kemudian mereka berbincang-bincang santai sambil menunggu pesanan datang.
Bu Fitri yang melihat Arjuna terus melirik kesamping melihat Mutia kemudian memberikan kode kepada pak bagus untuk menggeser tempat duduknya.
__ADS_1
" kok sepertinya saya hanya berdua Pak duduknya boleh Bu Mutia geser ke sebelah saya sini", ujar Bu Fitri yang ingin memberikan kesempatan Mutia dan Arjuna duduk berhadapan.
" Hah!", Mutia nampak terkejut dengan ucapan Bu Fitri Tapi Pak Abdul mengangguk setuju saja tidak masalah mau performa seperti apa yang penting pembicaraan siang ini berjalan lancar.
" Silakan Mutia pindah saja ke sebelah Bu Fitri", ucapan Abdul dan Mutia pun yang tidak mau mempermasalahkan hal itu, hanya masalah tempat duduk pun menurut saja untuk pindah.
Arjuna kemudian menggeser duduknya ke tempat yang tadi ditempati oleh Mutia dan benar saja mata Arjuna tak pernah lepas dari Mutia.
Sebetulnya Mutia merasa risih apalagi di depan banyak orang seperti ini Namun Mutia juga tidak mau membesarkan masalah dan lebih memilih membiarkan saja Arjuna memandanginya.
Pak Abdul yang tahu kelakuan akan putranya pun kemudian menatap putranya dengan tajam memberikan isyarat agar Arjuna bisa memberikan rasa nyaman pada Mutia.
" Permisi ", tiga orang pelayan datang membawakan pesanan makanan dan minuman mereka serta menyajikan dan kemudian banget Setelah semuanya selesai.
" Terima kasih", ucapan Abdul dan Mutia secara bersamaan dan yang lainnya mengangguk pada pelayan tersebut.
Semua makan dengan khusuk tanpa suara atau obrolan yang berarti hanya sesekali Pak Abdul menawarkan kepada semuanya untuk menambah pesanan makanan jika masih menginginkannya.
Beberapa saat setelah selesai makan Dan mereka menikmati minum kemudian Pak Abdul berdahan untuk membuka maksud dari pertemuan mereka setelah pelayan diminta untuk membereskan meja tersebut.
" Selamat siang semuanya Terima kasih atas waktunya yang saya minta untuk kita semua berkumpul di tempat ini sekarang, Terima kasih Mbak Mutia dan bukit rias serta Pak Agus Saya di sini ingin menyampaikan maksud saya yakni seperti masalah yang sudah pernah saya ceritakan tadi malam dengan Bu Fitri antara anak saya Arjuna dengan ibu Mutia Aini 5 tahun yang lalu", Pak Abdul menjeda kata-katanya untuk beberapa saat.
" Karena hal itu ternyata nak Mutia memiliki anak dari anak saya Arjuna Alias Saya memiliki cucu meskipun tidak terjadi pernikahan di antara keduanya, namun saya tidak akan mengingkari darah yang mengalir di tubuh anak dari ibu Mutia, memang secara hukum dan agama anak Bu Mutia mungkin tidak memiliki hak waris harta maupun nama belakang keluarga kami, tetapi secara darah tidak usah pakai bukti tes DNA sekalipun kami sangat percaya jika Hilmi adalah putra dari Arjuna dan ibu Aini". Ucap pak Abdul yakin.
-
-
Bersambung.....
__ADS_1