
Sudah setengah jam aku berada di rumah tante Mary, beliau mengabariku bahwa weekend ini setelah dua hari lalu Beliau sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dan hari ini beliau ingin kita semua berkumpul ada aku Hilmi Mbak Winda putranya serta suaminya, suaminya dan juga ada juga keluarga dari Mas Aldi.
" Ya Allah Aini, apa kabar kamu Nak ?", Bu Hera merengkuh Mutiah dengan sangat kuat ada rasa rindu yang mendalam serta kepedihan itu masih kerap kali terasa apalagi jika mereka bertemu seperti ini.
" Alhamdulillah bu saya sehat, ibu apa kabar?", tanya Mutia balik.
" Alhamdulillah Ibu juga sehat Bapak juga sehat Aini kamu makin dewasa dan makin cantik mana putra mu nak?", Bu Hera sudah berderai airmata setiap kali menatap wajah Mutia bagi ibu Hera adalah mengenang kesedihan waktu 5 tahun yang lalu.
" Hilmi sini nak ini ada oma, ibunya papa Aldi ini juga Omanya Hilmi", Mutia memanggil anaknya agar mendekat ke arahku Hera.
" Hilmi Oma", Ilmi pun menyalami Bu Hera dan juga Pak Bahar dengan takzim.
" Ya Allah cucu opa sudah gede ini Opa Bahar sayang", Pak Bahar mengusap lembut kepala Hilmi begitupun dengan Bu Hera.
" Bunda ternyata rumahnya Hilmi banyak ya", ujar bocah itu polos.
" Iya kamu suka tidak punya Oma banyak?", jawab Mutia kemudian membuat putranya itu menjawab dengan sangat girang sambil lompat-lompat saking senangnya.
" iya iya iya Hilmi suka punya Oma banyak", tingkah bocah itu pun tak ayal membuat semuanya pun ikut tertawa senang dan gemas.
__ADS_1
Mereka pun berkumpul dan bercengkrama dengan keakraban meskipun Mutia adalah orang asing di tempat itu tapi karena kebaikan serta ketulusan dari keluarga Bu Meri dan juga keluarga Pak Bahar membuat Mutia merasa memiliki keluarga.
" Sudah makan semua?", tanya Bu Meri yang masih duduk lemas di atas kursi rodanya.
" Alhamdulillah sudah terima kasih jamuan makan siangnya ini nikmat sekali sampai kita pada nambah", ujar Pak Bahar mewakili semua yang berada di situ.
" Begini, Saya ingin menyampaikan sesuatu yang pertama jamuan makan siang ini sebagai ungkapan terima kasih saya karena sudah bisa berjuang melawan sakit saya yang kemarin sampai hari ini, sebetulnya pengobatan ini belum tuntas karena saya ternyata mengalami komplikasi dan oleh karena itu sakit saya ini sudah harus fokus ke jantung, dikarenakan hal itu maka saya mungkin dua minggu lagi akan berangkat ke luar negeri untuk mencari pengobatan, mohon doanya dari saudaraku semua supaya usaha saya untuk berobat ini diridhoi oleh Allah dan saya bisa pulang ke rumah ini kembali dengan kondisi yang sehat, Dan satu hal lagi yang tidak kalah penting sebelum Saya berangkat saya ingin menikahkan dulu anak saya ini Mutia Saya ingin dia hidup dengan lelaki yang seharusnya sudah bersamanya selama ini", ujar bu Meri panjang lebar meskipun dengan nafas yang tersengal-sengal tapi dia berusaha untuk berbicara sendiri tanpa diwakilkan oleh suaminya.
Mutia yang di singgung namanya pun melebarkan telinganya untuk mendengarkan pembicaraan sang Ibu angkat agar dia mengerti maksud arah pembicaraannya ke mana.
" Ada apa dengan saya bu iya saya akan menikah tapi tidak buru-buru juga Bu Saya belum punya calon nya", jawab Mutia yang merasa disebutkan namanya dalam pengumuman yang dibuat oleh Bu Meri.
" Apa sih maksudnya? Pa Arjuna dua hari yang lalu melamar saya, tidak salah, karena aku selama ini hanya menjalin hubungan sebatas Hilmi selebihnya kami tidak pernah berinteraksi secara intens gimana bisa ceritanya dia melamar saya pada keluarga ini?", Mutia merasa tidak terima atas kelakuan Arjuna yang telah melamarnya secara diam diam pada keluarga Aldiano.
" Maafkan ibu nak, ibu yang menyetujui lamaran nak Arjuna untuk meminangmu", Ujar bu Merimerasa tidak enak pada Mutia.
" Ibu, Mutia tidak ada hubungan dengan pak Arjuna sedikitpun diluar dari urusan dengan Hilmi, kenapa pak Arjuna melamarku bu", Air mata Mutia mengalir dipipinya.
Ingin Mutia protes keras tapi mengingat kebaikan keluarga bu Meri, Mutia tidak sampai hati untuk melawan, namun Mutia masih punya ganjalan dihatinya.
__ADS_1
Pada akhirnya di pertemuan keluarga itu pun Mutia lebih banyak diam dan menyendiri. Muti atau betul sifat yang tidak akan tega menjerumuskan dirinya dia juga ingat sekali saat dulu Bu Meri lah yang memperjuangkan untuk menyembunyikan kehamilan Mutia saat tahu Arjuna menolaknya tidak mau menikahinya.
Lantas kenapa sekarang Bu Meri pula yang tiba-tiba saja berkontak dan menerima lamaran Arjuna padahal Mutia tahu jika antara Arjuna dan Bu Meri tidak mengenal sedekat itu.
Pikiran Mutia terus melayang dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi kenapa bu Meri mengambil keputusan sepihak dan tidak membicarakannya terlebih dahulu dengan dirinya bukan hanya itu bahkan Bu Meri berencana menikah kan dengan Arjuna sebelum dirinya berangkat berobat Ada apa ini sebenarnya.
" Mutiah makanlah dulu dari tadi kamu malah menyendiri?", Winda merasa tidak enak hati atas pembicaraan ibunya tadi dengan Mutia.
" iya mba".
" Mutia maafkan Ibu!, jujur Mbak sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi kenapa bisa Ibu mengambil keputusan yang begitu penting dalam hidup mu tanpa memberitahumu lebih dulu", hati Winda benar-benar merasa tidak enak hati pada Mutia.
Mutia yang berwajah sendu itu kemudian menoleh kepada Winda dan tersenyum hambar.
" jika kamu memang tidak sanggup untuk menerima lamaran Arjuna kamu punya hak menolak Mutia kamu adalah wanita yang bebas bisa menentukan dan memilih siapa orang yang pantas menjadi pendampingmu, jangan merasa sungkan karena ini adalah keputusan ibu, yang akan menjalani kamu ya, cam kan saran Mbak ini", Winda meraih tangan Mutia dan menggenggamnya lembut seolah memberikan kekuatan dan keyakinan untuk tidak melanjutkan ataupun menerima lamaran Arjuna.
" Terima kasih Mbak, Jujur aku sendiri takut mau menjawab iya atau tidak, lebih baik untuk beberapa hari ke depan aku akan meminta jawaban aja melalui doa-doa semoga diberikan jalan yang terbaik", jawab Mutia bijak tidak mau ke gegabah dengan keputusannya.
" Aku setuju sekali Mutia, serahkan semuanya kepada sang pemberi hidup karena dialah yang tahu kebaikan untuk diri kita", Winda pun kemudian menarik tangan Mutia lembut untuk diajaknya menikmati hidangan makan siang mereka.
__ADS_1
Bersambung....