PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Akan menemui


__ADS_3

Saat Mutia sedang berdiri di lorong menerima panggilan telepon dari Irfan saat itu juga Arjuna melintas di depannya menuju ruang meeting.


Arjuna melirik Mutia yang sedang asyik mengobrol dengan Irfan ditelpon, sesekali tertawa renyah, membuat Arjuna memelankan jalannya sebelum masuk ruangan meeting.


" Sudahan dulu ya, aku mau masuk ke ruangan karena meeting akan dilanjut kembali, kita lanjut ngobrolnya nanti malam saja sebelum tidur", pamit Mutia pada Irfan, membuat Arjuna mengeryitkan kening.


Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang dirasa tidak enak dihati Arjuna mendengar Mutia bicara dengan suara lelaki di telepon.


Mutia mematikan sambungan teleponnya kemudian berjalan tepat di belakang Arjuna dan juga Tristan.


" Silakan Bu Mutia", Tristan mempersilahkan mutiara untuk masuk duluan setelah Arjuna juga masuk baru kemudian dirinya berada di belakang Mutia m


" Terima kasih Pak Tristan", Ucap Mutia dengan mengangguk sopan, Tristan membalas dengan anggukan serta senyuman tipis.


Kemudian mereka pun memasuki ruangan dan memulai rapat kembali hingga sore hari jam 3 lebih rapat itu baru juga usai.


Mutia langsung merapikan kertas-kertas ringkasan catatan hasil rapat seharian ini.


" Jam berapa pak Jodi sekarang?", tanya Mutia yang masih sibuk merapikan berkas-berkas.


" Sudah hampir jam 4, jika kita langsung ke kantor dan tidak macet ya jam 5 kita sampai, atau mau langsung pulang saja?", ujar Pak Jodi.


" jika tidak macet kita ke kantor dulu Pak, saya akan menyimpan berkas berkas ini di kantor saja baru besok akan saya rangkum sedemikian rupa supaya mudah dimengerti", jawab Mutia.


" Baik, sayajuga satu pemikiran dengan Bu Mutia".


Pak Jodi dan Mutia kemudian bersalaman dengan seluruh peserta rapat termasuk juga dengan Tristan dan Arjuna sebelum mereka semua membubarkan diri.


Ini adalah momen pertama bagi Mutia dan Arjuna saling bersentuhan tangan setelah kejadian 5 tahun silam itu.


Jika Mutia berusaha untuk biasa saja meskipun itu tidak dengan hatinya karena sesungguhnya hatinya pun sedikit bergemuruh saat hendak mengeluarkan tangan pada Arjuna tapi dia berusaha untuk menenangkan dan menepiskan semua rasa itu.


Namun tidak dengan Arjuna, jauh sebelum Mutia sampai di hadapannya dan masih sibuk dan bersalaman dengan para investor lain Arjuna sudah sibuk melirik Mutia dan berharap-harap cemas Mutia sampai dengan cepat di hadapannya.


" Nanti malam saya akan menjenguk putra saya", Arjuna berkata sangat lirih dan sedikit mendekat ke telinga Mutia.

__ADS_1


Deg


Mutia langsung menoleh dengan cepat ke arah Arjuna hatinya langsung bergemuruh hebat ada rasa terkejut heran dan penolakan namun Entah kenapa bibir Mutia benar-benar tertutup rapat tidak membuka sedikitpun Tidak menolak juga tidak mengiyakan matanya hanya nanar menatap Arjuna.


Dengan cepat Mutia menarik tangannya dari genggaman Arjuna tanpa menoleh lagi pada pria jangkung itu.


Arjuna tersenyum tipis melihat tidak ada tanggapan sedikitpun dari Mutia Arjuna merasa jika Mutia mengijinkan meskipun tidak sepenuh hati.


Berbeda dengan perasaan Mutia, dia diam dan tidak menanggapi karena berpikir jika Arjuna tidak tahu tempat tinggalnya juga pikiran Mutia yang lain adalah jika Arjuna menginginkan seperti kemarin bertemu di sebuah restoran membuat janji dulu sehingga Mutia sama sekali tidak khawatir.


Setelah semua orang meninggalkan ruangan itu Arjuna pun bergegas memasuki ruangan kerjanya kembali bukan apa-apa dia ingin melihat Mutia keluar ruangan itu hingga sampai parkiran melalui kamera CCTV nya.


" Belum ikhlas ya dia pulang? sebaiknya stop jangan lanjutkan perasaan itu!, sudah dibilangin juga bos bos Anda itu", Tristan menggerutu di depan Arjuna, Arjuna tak sedikitpun bergeming karena dia fokus melihat gambar yang tengah tayang di layar laptopnya.


" Hemmm..... ", Arjuna berdehem dan kemudian menatap tajam pada Tristan.


" Bos... ingat bu Kania", Ujar Tristan meskipun ditatap sang bos tapi tetap memberanikan diri.


" Berikan alamat rumahnya sekarang", Arjuna tetap tak bergeming menatap datar pada Tristan.


" Cepat, tidak usah curiga aku hanya ingin lebih dekat dengan putraku", Ujar Arjuna tetap datar.


" Tapi bos harus hati hati jika berkunjung jangan sampai ada wartawan yang mencoba membidik bos disana bisa berabe bos... proyek bos, proyek besar jangan sampai kepercayaan big bos lepas begitu saja karena skandal ini", Memdengar ucapan Tristan Arjuna langsung teringat orang tuanya.


Rasanya Arjuna harus memberi tahu tentang Hilmy pada mereka, tetapi nanti setelah Hilmy lebih dekat dengannya.


" Cepat kirim alamatnya", Kali ini titah Arjuna tak terbantahkan membuat Tristan hanya bisa menuruti perintah bosnya itu.


Dengan cepat Tristan mengetik dan mengirimkan alamat Mutia kepada Arjuna.


" Ingat bos hanya berkunjung untuk mendekatkan diri pada putramu tidak yang lain", Tristan selalu mengingatkan tidak henti-hentinya agar Arjuna tidak hilaf.


" Itu tujuan utamaku, jangan selalu Kamu ingat kan Karena tujuan kedua aku juga ada di sana" jawab Arjuna yang membuat Tristan hanya bisa mencelos tidak tahu harus berkata apa lagi tentang bosnya ini.,


" Tuhan.... tolong lindungi bosku agar tidak jatuh cinta pada bundanya Hilmi, demi proyek besar Tuhan....", Tristan mengusap dadanya dengan bergumam meminta permohonan kepada robbnya.

__ADS_1


" nggak usah drama, bereskan berkas-berkas itu karena mulai minggu depan kita akan memulai pembangunan hotel, fokuslah ke sana jangan urusin dulu urusan pribadiku", setelah selesai berucap demikian kemudian Arjuna merapihkan mejanya dan bersiap untuk pulang.


" Bos sudah mau pulang?", tanya Tristan kemudian ikut beranjak mengikuti langkah Arjuna menuju ruangan kerjanya sendiri.


" Iya aku harus bersiap untuk menemui putraku", ujar Arjuna sambil melenggang meninggalkan ruangan kerjanya.


" Baiklah bos saya akan merapihkan berkas ini kemudian saya juga akan pulang sebelum jam 8 malam", jawab Tristan seraya memasuki ruang kerjanya.


Sementara itu di tempat lain Mutia sudah menjemput Hilmi dan sudah sampai rumah sebelum adzan maghrib.


" Jagoan mau makan masakan Bunda atau kita beli saja?", tanya Mutia pada Hilmi setelah mereka selesai membersihkan diri.


" Masakan Bunda saja", jawab Hilmi antusias.


" oke yang ada di rumah saja ya".


" Baik Bunda".


Dengan cekatan Mutia menakar beras dan mencucinya kemudian menanaknya dengan rice cooker sedikit berfikir tentang menu yang akan dimasak kali ini Mutia membuka kulkas.


" Telor sudah tadi pagi, apa ya???", Mutia bergumam sendiri sambil berfikir akan memasak apa untuk sang putra jagoannya.


Kemudian Mutia mengambil satu ikat bayam yang masih terlihat segar 2 buah wortel ikan yang sudah di bumbu yang berada di dalam kotak penyimpanan satu kotak tempe serta sambal yang sudah dibuat namun berada di dalam kulkas tidak lupa ia keluarkan juga, serta 2 buah jagung manis dan 3 helai daun bawang.


Mutia berencana memasak sayur bening bayam dengan wortel, bergedel jagung manis, goreng tempe dan ikan untuk menu malam ini tidak lupa sambalnya juga.


-


-


Bersambung....


Baca juga ceritaku yang iniπŸ™πŸ™


__ADS_1


__ADS_2