PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Buah hati


__ADS_3

Ucapan Tristan barusan membuat Bu Aryanti langsung tersentak dia pun langsung bermaksud ingin kejelasan dari ucapan Tristan barusan yang menyebutkan tentang buah hati.


" Apa maksud ucapan mu dengan buah hati Tristan??", Suara bu Aryanti keras terdengar hingga memenuhi lorong depan kamar rawat inap Arjuna.


" itu betul bu, mereka memiliki buah hati seorang putra yang menggemaskan bu", Akhirnya Tristan tidak bisa menutupi lagi kenyataan yang ada pada bu Aryanti.


" Astaghfirullahaladzim... ", Bu Aryanti langsung tertunduk lemas di tempat duduk tempat dia menunggu pasien.


" Jangan tunda lagi Tristan tolong usahakan please tolong Tristan Ibu ingin bertemu dengan mereka", bu Aryanti tergugu dengan rasa sedih yang teramat dalam namun juga ada rasa gembira mendengar ini telah memiliki seorang putra yang mungkin merupakan cucunya.


Tristan mengangguk-ngangguk mengiyakan namun di dalam hatinya masih berpikir keras melihat waktu 5 tahun yang berlalu dan Arjuna yang seperti itu mungkinkah Mutia mau bertemu dengan mereka mungkin dulu luka yang ditorehkan Arjuna begitu dalam bagi Mutia sehingga sulit untuk dimaafkan itu artinya tidak mudah untuk membawa Mutia ke hadapan Ibu Ariyanti.


" ibu ikut bersalah karena tidak memperjuangkan dan memaksa Arjuna dulu untuk menikahi Mutia waktu itu Ibu berfikir jika status Mutia nanti akan menjadi janda karena Aldi menikahi Luna dan jika dia sudah tidak suci lagi itu wajar saja karena memang statusnya yang janda tapi Ibu tidak pernah berfikir jika ucapan Arjuna menyakiti hati Aini sehingga dia memilih menyembunyikan hasil tes saat itu", Bu Aryanti terisak-isak sesenggukan karena meratapi penyesalannya yang begitu dalam.


Tristan mendekat dan mengusap punggung bu Aryanti dengan lembut untuk memberikan kekuatan agar wanita paruh baya Ibu dari bosnya itu bisa lebih tenang.


" Ibu mau masuk mau bicara sama Arjuna siapa tahu jika kita membahas tentang Aini tatapan matanya sedikit berisi tidak kosong seperti itu", Bu Aryanti bergegas berdiri dan segera menuju ke ruang rawat Arjuna.


disana terlihat Arjuna yang terbaring lemas dengan jarum infus menancap di pergelangan tangannya dengan wajah ah yang diam seperti patung pandangan matanya kosong.


" Mas .... kenapa kamu tidak pernah cerita jika kamu telah menemukan Aini?", Bu Aryanti mengusap lembut punggung tangan Arjuna yang tidak di infus.


Arjuna tiba-tiba saja reaksi matanya sedikit lebih berisi cahaya tidak segampang tadi, meskipun masih nampak menerawang namun mata itu kini menatap ibunya tatapan jauh seperti belum menemukan titik nya.


" Mas.... Ibu juga ingin melihat Aini, ibu ingin tahu kabarnya ingin melihat kondisinya apalagi kata Tristan dia kini telah memiliki seorang putra mungkinkah itu putramu mas?", Bu Aryanti mulai terisak kembali.


Grepp...


Jemari Arjuna tiba-tiba saja menggenggam erat tangan ibunya dengan sangat kuat dan matanya pun bergerak-gerak dengan sangat cepat ke kiri ke kanan kadang juga berputar bahkan nafasnya turun naik terengah-engah setelah mendengar ucapan ibunya.

__ADS_1


" Hilmy bu, Hilmy", ucapnya seraya menarik menarik tangan ibunya.


" Siapa, hemmm.... siapa Hilmy", Bu Aryanti kebingungan dengan ucapan Arjuna


" Anak mas", suara Arjuna lemah namun terdengar jelas oleh ibu Ariyanti.


" Hiks hiks.... Mas, ibu punya cucu, hiks hiks... ibu mau melihat dan mengenalnya mas...", Bu Aryanti tergugu bahkan punggungnya hingga bergetar dan dagunya sering terangkat karena sesegukan.


Arjuna bukannya menjawab tetapi hanya diam dengan air mata yang meleleh dari sudut matanya.


Teistan tak bisa apa apa, hanya diam teepaku melihat pemandangan di depannya. Hatinya ikut merasa sangat sedih bosnya ternyata memiliki masalah yang cukup rumit.


" Ibu semakin merasa bersalah sama Aini mas, pasti dia menderita di luar sana terus selama ini hidupnya bagaimana, hiiikksss... ibu tidak bisa membayangkan kesedihan dia, putus asa, kurang makan, tidak ada saudara, selama ini dia bagaimana???", Bu Aryanti semakin tersedu.


Mendengar tangisan ibunya, suara ibunya yang membayangkan kehidupan Aini Arjuna lebih lebih merasakan bahwa dosanya sangat besar pada Mutia.


" Dia masih kecil saat itu belum juga genap 19 tahun, dia juga punya cita-cita ingin kuliah terus bagaimana? kenapa selama ini kita abay kita tidak pernah mencarinya, meskipun dia tidak hamil seharusnya kita bisa memberikan sesuatu untuk jaminan hidup bukan membiarkannya seperti saat itu", kali ini bukan hanya Bu Haryanti yang histeris Arjuna pun makin terisak.


Hal itu membuat bu Aryanti panik dan Tristan segera memanggil dokter.


" Istighfar mas... nyebuutt... tenang tenang ..",Bu Aryanti mengusap punggung tangan Arjuna.


" Kenapa pak? Lho kok nangis?", Ucap dokter ketika baru saja masuk ruangan.


" Mohon maaf ya bu biar saya periksa dulu, tenang pak...", Dokter itu langsung memegang pergelangan tangan Arjuna untuk memeriksa.


Tidak lama kemudian menyusul seorang dokter yang sudah berusia cukup lanjut untuk memeriksa kondisi kejiwaan Arjuna.


" Tenang dulu pak, oke!", Ujar dokter Margono dokter psikologi sekaligus hipnoterapi yang sengaja direkomendasikan oleh rumah sakit ini untuk pasien dengan kondisi pasien seperti Arjuna.

__ADS_1


Dokter Margono mengajak Arjuna bicara dan sesekali menyuruh Arjuna untuk menatap matanya dengan bahasa yang lembut dan sederhana Arjuna mulai bisa ditenangkan.


" Mas Arjuna sudah berapa hari tidak tidur? Sebaiknya mulai sekarang biasakan tidur dengan seratur ya, kasihan matanya mas, lelah lho!", Ujardokter Margono yang membuat rasa rileks perlahan menelusup dihati Arjuna.


Satu jam lebih dokter Margono mengajak Arjuna bicara dan Arjuna sudah mulai tenang bahkan dokter Margono sesekali menyuapi Arjuna kue lumpur yang berada di nakas samping tempat tidurnya.


Dan setelah hampir 2 jam Arjuna sudah terlelap setelah meminum dua gelas air putih.


" Bu, setelah beliau bangun insyaallah akan lebih tenang lagi, jangan dulu diajak bicara pada inti permasalahan yang membuat dia seperti ini, biarkan dia mengistirahatkan dulu hati dan pikirannya supaya tenang", ujar Dr Margono sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


" Terima kasih dok", kin Ibu Ariyanti sudah lebih tenang melihat putranya sudah tertidur pulas.


" Ibu sebaiknya juga makan terus istirahat Bu", ujar Tristan yang tidak tega melihat wanita paruh baya itu terlihat kuyu dan capek.


" iya".


" Ibu mau dicarikan apa?".


" Tidak usah, buatkan Ibu teh panas saja Ibu mau makan kue lumpur yang masih tersisa itu kemudian ibu mau istirahat seperti saranmu".


" Iya pakle lah ibu", Tristan dengan cekatan membuatkan teh dan juga menyiapkan kue lumpur kemudian dibawa lebih mendekat ke arah bu Aryanti untuk segera dinikmati oleh ibu dari bosnya tersebut.


" Saya akan mencoba membujuk Bu Aini untuk bertemu dengan ibu namun untuk mengenai putranya Saya mungkin belum bisa mengusahakan Bu itu semua tergantung dari keputusan Bu Aini", ujar Kristen yang membuat Bu Aryanti hanya manggut-manggut sedih.


-


-


-

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2