
" Wow Ayah beli makanan apa ini, aromanya sedap sekali Hilmi langsung lapar ayah", teriakan Arjuna langsung mengalihkan pandangan dua orang yang kini tengah sedikit bersitegang tersebut.
" Iya buka saja sayang, pilih yang mana yang kamu mau makan nak", Ujar Arjuna lembut.
" Bunda nggak ada penolakan semua yang aku beli ini tolong diterima jangan memubazirkan makanan, karena mungkin aku akan sering numpang makan di sini please tidak ada penolakan", kali ini Arjuna berbicara dengan sangat tegas dan juga penuh penekanan tidak ada kata penolakan yang bisa Mutia lontarkan lagi, dengan wajah yang menampakan kedongkolan dan bibir yang merujuk Mutia pun akhirnya menerima semua barang-barang belanjaan Arjuna dan menyusunnya di dalam kulkas untuk belanjaan yang basah.
" Makan dulu saja nanti itu beres-beres nya nanti aku bantuin", jar Arjuna kemudian dengan menarik lembut tanganmu Tia menuju meja makan.
" Saya bisa sendiri nggak usah ditarik seperti ini", jawab Mutia dengan bibir yang masih mengerucut.
Arjuna tersenyum melihat raut wajah Mutia yang baginya sangat menyenangkan jika melihat Bunda dari putranya sedang cemberut seperti itu.
" Makanlah dulu mumpung belum terlalu dingin dan juga sebentar lagi magrib".
Mutia pun kemudian menurut karena memang sebentar lagi sudah menjelang magrib, dia melirik putranya yang terlihat sangat lahap tengah menikmati menu yang dipilihnya.
" Bunda Ayah beli makannya banyak, Ada pizza ada stik ada juga ayam geprek, Bunda mau makan yang mana?", Hilmi menunjuk makanan yang berada di box box di hadapannya.
" Kenapa Bapak membeli makanan sebanyak ini kita kan hanya bertiga", protes Mutia pada akhirnya.
" Tidak banyak!, hanya ada dua bungkus ayam geprek level 5, dua sedih2 pizza jika tidak suka itu juga ada teriaki", jawab Arjuna.
" ini terlalu banyak untuk makan malam kitab Arjuna", protes Mutia kembali.
" Sudah makan aja mana yang Bunda mau, jika mau mencicipi semuanya juga tidak masalah, Aku kan belum hafal selera Bunda", ujar Arjuna.
" Bunda stiknya ini enak banget meskipun sudah tidak panas tetapi tidak enak bunda enak sekali", ujar Hilmi dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
" Oh ya, kalau gitu bunda ingin mencicipi itu juga sebentar", Mutia beranjak untuk mengambil piring serta peralatan makan yang lainnya.
Kemudian diam membagi stik tersebut menjadi 2 piring yang separuhnya diberikan pada Arjuna dan sebelahnya lagi untuk dirinya.
__ADS_1
" Biar bapak lebih senang stiknya dibagi dua bapakmu menambah menu yang mana lagi?", tanya Mutia, Arjuna langsung menyunggingkan senyum lebarnya melihat tindakan tersebut.
" Tambahkan satu box nasi teriyaki itu dalam piring saya bunda", jawab Arjuna senang.
Mutia pun kemudian menuruti perkataan Arjuna dengan menyiapkan 1 box nasi teriyaki diberi makan Arjuna dan kini mereka menikmati makan malam mereka dengan hikmat.
" Kenyang Bunda, padahal Hilmi masih mau makan pizza nya", ujar Hilmi seperti penuh penyesalan.
" Ya tunggu sebentar nanti jika nasinya sudah turun ke lambung Hilmi boleh kok mau makan ayam geprek nya atau mau makan pizza nya sepuasnya deh", jawab Arjuna dan Mutia pun mengangguk setuju yang dilihat oleh Hilmy
" Iya kalau begitu Hilmi mau sholat Magrib dulu terus mau mengaji dan salat isya terus Hilmy mau mengerjakan PR, dan sebelum tidur mau makan pizza nya dulu", ujar bocah itu panjang lebar dengan wajah yang lucu, memang seperti itulah rutinitas Hilmi ketika sampai rumah dan sebelum tidur.
Arjuna mendengar celoteh putranya itu pun merasa benar-benar bangga karena dia memiliki seorang putra dari Mutia wanita yang di mata Arjuna sangat luar biasa yang membuatnya makin jatuh cinta setelah bertemu kembali.
Arjuna tertegun untuk beberapa saat, pikirannya menerawang, jika dulu dia mau berkorban perasaan sedikit saja dan mau menikahi Mutia pasti saat ini hidupnya sempurna, Argghhh....
Memang penyesalan itu datangnya jauh setelah kejadian, dan itulah gunanya belajar dari pengalaman, ada sebagian orang bilang pengalaman adalah guru terbaik.
" Ayah, ayo ke masjid yuk... seperti tetangga yang disana itu namanya kakak Jihad, dia suka pergi ke masjid bersama ayahnya, Hilmi juga mau", Bocah itu merajuk dengan bibir yang sedikit manyun membuat Arjuna gemas.
Namun selain itu hatinya pun merasa seperti tersengat listrik mendengar putranya mengajak ke masjid, merasa tersindir Arjuna hanya bisa terdiam tanpa kata hingga beberapa detik baru kemudian melihat kearah Mutia.
" Hemm .. Oh, Hilmy mau ke masjid nak? Kenapa tidak di rumah saja, kita sholat jamaah bersama Ayah dan bunda", Ujar Mutia menengahi karena melihat reaksi Arjuna yang tampak bingung.
" Kata miss Hilda jika lelaki sholatnya harus dimasjid bunda, nah jika perempuan boleh di rumah bunda", Bocah itu masih merajuk.
" Boleh bunda jika kita berangkat ke masjid berdua dan bunda di rumah saja?", Arjuna kemudian menengahi, dalam hatinya pun dia ingin sekali pergi ke rumah ibadah itu dan mungkin ini putranya yang menjadi pembuka jalan, bathin Arjuna.
" Oh, iya", Mutia menjawab dengan gugup, jujur ada rasa ragu jika para tetangga tahu, takutnya mereka salah paham.
Namun akhirnya Mutia setuju saja, biarin jika jadi perbincagan tetangga, gimana nanti saja, pikirnya.
__ADS_1
Meskipun begitu ada senyum dibibir Mutia melihat Arjuna dan Hilmy melenggang berdua menuju masjid.
" Astaghfirulloh.... Apa sih yang aku pikirin", Gumam Mutia mengusap kasar wajahnya kemudan beranjak untuk ambil air wudhu.
Dua puluh menit berlalu Arjuna dan juga Hilmy belum kembali, Mutia menunggu sambil bertadarus, hingga hampir tiga puluhmenit barulah mereka kembali.
" Assalamualaikum bunda", Sapa Hilmy memasuki rumah dengan wajah yang terlihat bahagia.
" Waalaikum salam sayangnya bunda, sudah sholatnya?", Mutia kemudian membereskan peralatan sholatnya.
" Sudah ", Jawab Hilmy tersenyum senang.
" Ada kakak Jihadnya?", Tanya Mutia, dan Hilmy menjawab dengan mengangguk.
Mutia beranjak menuju ruang tamu dimana masih ada Arjuna disana.
" Terima kasih ya pak sudah mau menemani Hilmy ke masjid", Ujar Mutia merasa cangging pada Arjuna.
" Panggil ayah! Bunda", Ujar Arjuna dengan mimik serius.
" Ck!", Mutia berdecak dan mendelik kearah Arjuna dengan rasa jengkel dihatinya.
" Jangan mulai, atau saya harus membuat larangan untuk membatasi bapak bertemu dengan putraku!", Mutia memberikan ancaman pada Arjunakarena kesal.
" Sudah berani mengamcam?".
" Coba saja jika berani, nanti aku akan buat adiknya Arjuna di rahim bunda", Arjuna berkata dengan menatap tajam pada Mutia yang membuat Mutia bergidik ngeri.
" Apa maksud bapak?!", Mutia membalas tatapan Arjuna dengan sinis.
Bersambung....
__ADS_1
"