
" Bapak, ibu! Tolong tolong mengerti perasaan Irfan dan Mutia, apa yang salah dengan kondisi status Mutia, aku yang menginginkannya Pak Bu, tolong restui kami", Irfan berkata-kata dengan kedua orang tuanya bahkan dengan wajah yang memerah serta permohonan yang amat sangat.
" Irfan Kamu boleh berteman dengan Mutia kamu juga boleh menyayangi nak Hilmi tapi untuk menikah rasanya ibu belum bisa terima jika kalian melanjutkan hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan", ucap Dian lembut penuh permohonan.
Saat itu juga seluruh tubuh Mutia luruh merasakan lemas hatinya sakit tapi dia harus terlihat tegar dan tidak menangis di depan Hilmi karena anaknya itu menyaksikan semua kejadian penolakan orang tua Om Irfan nya akan keberadaan bundanya di depan mata.
" Mas sudahlah! sungguh aku tidak apa-apa, aku bisa menerima semuanya Aku mengerti perasaan kedua orang tuamu, please jangan lawan orang tuamu Mas, benar kata Bapak dan Ibu masih banyak wanita lain yang bisa menggantikan posisiku di hatimu, ini semuanya butuh waktu Mas", ujar Mutia berusaha tegar dengan tidak menangis bahkan di ujung kalimatnya dapur nampak tersenyum meskipun terlihat getir.
" Mutia.... jangan nyerah dong ah Ayo kita berusaha untuk mendapatkan restu dari orang tua aku, jangan menyerah begitu saja aku mencintai kamu dan juga Hilmi dengan tulus", Irfan menggenggam tangan mutiara dengan penuh permohonan mengharapkan Mutia mau berjuang persamaannya meraih restu kedua orang tuanya.
" Irfan!, sampai kapanpun Ibu berharap hubungan kamu dan Mutia hanya sebatas teman kerja tidak lebih silakan sayangi Hilmi kamu boleh menyayanginya memperhatikannya tapi tidak dengan ibunya untuk dijadikan istrimu, kamu harus mengerti ibu nak, ingat hutang jasa ibu kepada Ibu Ilham yang telah menolong bapak kamu ketika sakit yang begitu besar saat kamu kuliah dulu, jangan memohon pada ibu untuk menjodohkan kamu dengan putrinya Andini, Ibu tidak bisa menolaknya, karena berapapun besar penghasilan Kamu tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orang tua Andini yang telah menolong bapak kamu waktu kecelakaan itu".
" Iya Irfan, Bapak pernah membicarakan ini padamu dulu kan 2 tahun lalu, Tapi saat itu kamu belum meresponnya, dan kemarin orang tua Andini menanyakan dirimu, beliau menagih janjinya ketika saat itu bapak sakit dan bapaknya Andini mendonorkan ginjal pada bapak dan juga membiayai perawatan rumah sakit Bapak saat operasi itu bapak memang menjanjikan untuk menjodohkan kamu dengan Andini yang saat itu masih SMP dan sekarang anak itu sudah besar dan dia menanyakan tentang janji Bapak pada bapaknya dini, Maaf ya nak Mutia jika sebenarnya itulah alasan yang paling kuat kenapa Bapak dan Ibu tidak bisa merestui hubungan kalian", ujar Pak Joko.
" Iya Pak saya mengerti, Maafkan jika saya telah masuk dan menjadi sedikit rintangan atas janji Bapak maaf karena saya tidak mengerti tapi setelah mengerti saya bisa memaklumi", ucap Mutia meskipun dengan berat hati deh harus mengerti.
" Bapak tapi saya mencintai Mutia, Mutia adalah wanita yang lembut dan dewasa dan bisa mengerti saya Pak, sementara Andini saya belum pernah mengenalnya Apa itu kan janji Bapak!", ucap Irfan frustasi.
__ADS_1
" Irfan!, itu memang janji Bapak kamu tetapi ini menyangkut diri kamu pulang karena dirimulah yang dijanjikan bapak", ucap Bu Dian dengan sangat lantang.
" mungkin kamu akan senang jika melihat Bapak meninggal Irfan sehingga kamu dengan teganya akan mengkhianati janji Bapak pada orang tua Andini, silakan kalau kamu mau menikahi dengan Mutia Aku percaya Mutia adalah wanita yang baik dan dewasa Karena itulah dia mengerti dengan ucapan Bapak tidak sepertimu yang mau menuruti keinginanmu saja, kalau begitu biarkan ginjal Bapak ini saya kembalikan pada bapaknya Andini karena Bapak tidak bisa menepati janji!", ujar Pak Joko pasrah rupanya anaknya memang cinta sama Mutia dan itu akan sulit untuk memberikan pengertian untuk saat ini.
" Bapak ibu, Saya mengerti dan paham dan saya minta maaf karena kejadian hari ini harus membuat bapak dan ibu bersitegang dengan Mas Irfan mulai hari ini saya menyatakan putus hubungan dengan Mas Irfan sebagai sepasang kekasih...." .
" Mutia!", teriak Irfan tidak terima, membuat Hilmi melongo tidak percaya Om kesayangannya itu meledak dan ibunya.
" stop Mas jangan berteriak, ada Hilmi maaf", ujar Mutia lembut.
" saya pamit dulu bapak ibu mohon maafkan saya karena kehadiran saya hari ini keluarga bapak ibu menjadi terganggu, Maaf mas Irfan... kita tetap berteman tapi lebih baik hubungan kita sebagai kekasih sudah cukup sampai disini saja, maaf", Mutia kemudian meraih tangan Hilmy dan menuntun putranya keluar dari rumah keluarga pak Joko.
" Mutiaa...".
Mutiaterus berlalu dan segera menuju kearah pangkalanojeg yang dia lihat saat tadi menuju rumah Irfan.
" Bunda, Oom memanggil kita!", Ujar Hilmy tetap mengikuti Mutia bundanya.
__ADS_1
Mutiara menoleh dan menatap Irfan yang berjalan tergopoh-gopoh di belakangnya setengah berlari.
" Mutia!", Teriak Irfan kembali.
" Sudahlah mas aku pamit jangan menjadi anak yang durhaka kepada orang tua Karena perjuangan mereka sudah sangat panjang untuk sampai mengantarkanmu sampai saat ini, aku mengerti dan paham tidak kecewa sama sekali, kita masih berteman masih berpartner kerja coba dulu kamu kenali Andini, tenang saja aku tidak apa-apa kok, benar Mas aku nggak apa-apa jangan khawatir", Mutia meyakinkan Irfan agar tidak khawatir pada dirinya meskipun ya Mutia kecewa tapi mau dia sadar siapa dirinya sehingga tidak mengorbankan perasaan kedua orang tua Irfan.
" Baiklah, aku antarkan saja ya sebab tadi kalian ke sini karena bersamaku please Mutia jangan tolak tawaran ku ini ini hanya bentuk tanggung jawab sebagai teman ya", ucap Irfan seraya memohon.
" Hilmi Ayo ikut om kita naik mobil Om saja kalian nggak boleh naik gojek jauh untuk sampai ke terminal taksi, sebaiknya Om antar saja", bocah itu pun mengangguk menurut saat Irfan meraih tangannya dan menuntunnya kembali ke rumah orang tua Irfan.
" Tapi kan oma opa sedang marah Om!", rengek Hilmy mengingat kejadian barusan.
" Nggak apa-apa oma opa cuma salah paham nanti makan jelaskan oke!". mau tidak mau Mutia pun mengikuti arah jalan putranya dan Irfan.
" Aku sudah minta izin kepada bapak serta ibu untuk mengantar kalian jangan khawatir, aku sudah janji sama kamu Mutia serta bapak ibu jika aku akan mencoba menuruti keinginan kedua orang tuaku", jujur Irfan kemudian.
Dan mereka kini berada di dalam mobil menuju ke rumah Mutia, sepanjang perjalanan itu hanya terlihat wajah Irfan yang begitu sendu matanya merah dan berkabut dan Mutia yang hanya terduduk bersandar dan memandang ke sebelah melalui kaca jendela dan Hilmi yang duduk di kursi penumpang yang tertidur.
__ADS_1
Tak ada obrolan yang berarti di antara keduanya, meski Mutia sangat sedih tapi dia berusaha untuk tegar.
Bersambung ...