PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Pertemuan


__ADS_3

Sementara itu dalam perjalanan menuju KB xx Aldiano dan Luna tengah membicarakan Arjuna.


Rupanya mereka tahu kondisi Arjuna saat ini yang sudah satu minggu terbaring lemah di rumah sakit, dan rencananya setelah pertemuan dengan Bu Meri dan Mutia mereka akan menjenguk Arjuna.


" Yank ... kamu masih deg-degan ya mau ketemu mantan?", pertanyaan Aldi pada Luna bernada candaan.


" Sedikit, kangen juga Mas udah lama nggak ketemu dengan mas Juna", Jawab dulu na apa adanya.


" Kangen mau mengenang masa lalu?", tanya Aldiano.


" Sedikit", jawab Luna kembali.


" Maksudnya apa nih sedikit sedikit tetus?", Aldiano sedikit meninggikan nada pertanyaannya.


" Haiii.... suamiku cemburu ya, hayo ngaku!!!", seru Luna.


" Normal kali yank, mau bilang tidak juga tidak mungkin Mas juga pasti cemburu sih hanya saja Mas tetap percaya sama kamu namun kalau mau balikan sama dia Ya silakan aja enggak apa-apa Mas udah punya untung 2 Putri yang cantik-cantik", jawab Aldi membuat Luna memanyunkan bibirnya.


" Jahat ih ngomongnya gitu, Luna nggak suka Mas, sekalipun Aku kangen tapi aku.... terserahlah apa anggapan Mas Aldi kita lihat aja nanti jika aku ketemu Mas Juna bagaimana nanti saja ya", kali ini jawaban Luna bermaksud untuk memanas-manasin sang suami.


" Memang kita mau kemana lagi setelah kita bertemu dengan Hilmi", Tanya Putri pertama mereka.


" Mau menjenguk temen papa yang sedang sakit di rumah sakit sayang", jawab Aldi.


" Owh".


Sementara itu Bu Meri dan Mutia sudah sampai di cafe xx, mereka menunggu di ruang yang sudah dipesan oleh Aldi.


" Deg-degan tidak mau ketemu dengan mantan suami?", kuda Bu Meri pada Mutia.


Mutia yang ditanya langsung menoleh pada Bu Meri Dan tersenyum, " Sedikit Bu", jawab Mutia jujur, meskipun belum pernah disentuh oleh Aldi kecuali di kecup keningnya saat usai ijab qobul tetapi di dalam hati kecil Mutia ada sedikit ruang untuk menyimpan nama mantan suaminya itu.


" Wajar, dia pernah mengikatmu dengan janji suci, dan Tuhan telah mempersatukan hati kalian meskipun Hanya sekejap saja, Ibu ngerti perasaanmu, sabar ya", Ibu Meri berkata demikian dengan mata yang berkaca-kaca, ada rasa sesak di dadanya setiap kali mengingat perjalanan hidup Mutia.

__ADS_1


Mutia meraih tangan Ibu angkatnya itu dan menggenggamnya lembut, " aku tidak apa-apa Bu, semuanya telah berlalu, tidak baik juga menyimpan perasaan untuk suami orang, tidak diceraikan dalam waktu setahun pun itu sudah hadiah terindah dalam hidupku, sudah jangan diingat lagi, katanya aku disuruh move on tapi ibu malah yang nggak bisa move on nih", kini giliran Mutia yang matanya memerah menahan tangis bahkan tenggorokannya pun terasa panas.


" He he heee... iya", Bu Meri terkekeh seraya mengusap air matanya yang telah mengalir membasahi pipinya.


Kemudian Mutia pun meraih tisu dan mengelap air mata di pipi ibu angkatnya itu dengan lembut.


" Sudah ya Bu, ini tidak baik jika dilihat oleh anak-anak apalagi nanti jika dilihat oleh Mas Aldi dan istrinya, kita sambut mereka dengan senyum bahagia ya, seperti halnya Hilmi yang terlama mimpikan momen hari ini selama 4 tahun yang lalu", Mutia tersenyum meskipun dari matanya butiran bening itu tak mau berhenti.


" kamu menyuruh Ibu diam dan berhenti menangis, tapi lihat matamu banjir sampai nggak bisa dibendung begitu", protes tu Meri yang gantian mengusap airmata Mutia dengan tisu yang baru diambilnya.


" He he heee.... Ibu sih yang mulai, jadi aja air mataku deras mengucur", Mutiah terkekeh kemudian dia mengelap kembali dengan tisu tidak mau meninggalkan jejak sedikitpun bekas air mata kesedihannya itu.


" Sudah-sudah hentikan... lihat Aldi sudah berada di parkiran bawah itu", petunjuk Bu Meri yang melihat Aldi dan istrinya serta kedua putrinya keluar dari mobil yang terlihat dari tempat duduk mereka yang berada di pinggir ruangan berdinding kaca.


Sementara itu genso dan juga Hilmi tengah berada di area permainan anak yang disediakan oleh pihak cafe.


Kumari dan Mutia dengan cepat mereka mengeringkan air matanya kemudian meraih air mineral untuk diminum agar hatinya lebih tenang.


" Sip sudah lebih baik kalau Ibu bagaimana?", tanya Bu Meri balik.


" Sudah terlihat lebih fresh", jawab Mutia.


" Assalamualaikum", suara Luna dari kejauhan sudah menyapa mereka.


" Wa'alaikumussalam", cara Bu Meri dan Mutia serentak.


" Selamat datang kembali keponakanku dan kedua putrinya", siapa Bu Meri langsung memeluk Luna dan Aldi bergantian serta kedua Putri Aldi.


sementara Mutia memeluk Luna kemudian bersalaman dengan Aldi dan mencium kedua bocah lucu tersebut.


" Hilmi Kenzo kesini", Mutia memanggil putranya.


" Papa sudah datang ya Bun", tanya Hilmi antusias karena sedari tadi dia asyik bermain dan tidak memperhatikan kemeja tempat duduk bundanya.

__ADS_1


" tuh sama siapa", Mutia menunjuk pada Aldi yang sudah duduk berdampingan dengan Luna di meja tempat mereka memesan.


" Papaaaa", Hilmi berlari antusias mendekat kearah Aldi.


Putri Aldi yang seumuran dengan Hilmi tidak percaya dan terkejut ada anak segede dirinya memanggil bapaknya sama persis dengan dirinya, " papa ".


Sebetulnya baik Luna maupun Aldi sudah sering memberi tahu kepada putrinya tersebut bahwa mereka punya saudara laki-laki di Indonesia tetapi begitu anak itu memanggil papanya dengan sebutan papa juga rasanya itu menyakitkan bagi anak tersebut.


" Hilmy ", arti langsung memeluk kilmi dan menciuminya penuh ketulusan.


" Maaa", Putri Aldi kemudian mendekati Luna dan mengguncang tangan Luna seraya melihat pemandangan papanya sedang memeluk Hilmi dengan pandangan cemberut.


" Ee... nggak boleh cemburu ini saudaramu namanya Hilmi, kalian lahirannya beda beberapa hari saja duluan dia, jadi kamu boleh memanggilmu dengan sebutan kakak", ujar Luna dan putrinya itu mengangguk mengerti namun wajahnya masih cemberut menampakan kecemburuan, sementara itu Putri kecilnya yang kedua langsung menubruk kaki Aldi dan merangkul manja di sana takut kehilangan jika papanya direbut orang lain.


" Hilmi kenal ini adik-adikmu, yang ini yang seusia denganmu namanya nya Artika dan yang kecil Arsy ", Aldi mengenalkan putri-putrinya kepada Hilmi.


" Hilmy ", Hilmi pun menyebutkan namanya serta merangkul kedua putri Aldi.


Ada kelegaan dihati mereka putra dan putri mereka bisa saling menerima.


" Kenalkan ini kakak Kenzo, kakak aku", Hilmy menarik tangan Kenzo yang sedari tadi hanya menonton perkenalan mereka.


" Kenzo ", Kenzopun mengulurkan tangannya pada kedua putri Aldi.


" Anaknya Winda ya Tan?", Tanya Aldi.


" Iya, sudah besar ya, apa kabar kalian?", Mereka kemudian berbincang dan memesan makan, kemudian mereka makan bersama dengan suasana yang menyenangkan penuh keakraban.


-


-


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2