PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Pamit


__ADS_3

Hari ini Mutia resmi mengundurkan diri dari PT Persada. Mutia memilih menuruti saran dari Arjuna. Meski ada rasa sedih untuk meninggal tempat yang sudah beberapa tahun ini menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun menurut pada suami adalah hal yang harus bagi Mutia.


" Tega neng sama Aku?!", Jihan menatap sedih sahabatnya tersebut.


" Tidak! Em bukan begitu mbak, maaf ya jika Mutia lebih mrmilih suami ku", Mutia merasa tidak tega melihat raut wajah sang sahabat.


" Ya deh, mbak ngerti kok, mana mungkin seorang menantu keluarga Muiz masih berada di tempat ini untuk bekerja, tetap rindukan mbak ya", Jihan menatap Mutia dengan wajahnya yang bertambah sedih.


" Mbak ini, kita hanya tidak satu kerjaan saja, jika kangen kita masih bisa buat janji untuk bertemu", Mutia merangkul dan mengusap punggung Jihan.


" Pasti itu akan jarang, kita akan sama sama sibuk nantinya".


" Sesekali nanti kita bisa belanja bareng, atau hunting makanan yang lagi hits bersama anak anak mbak".


" Yups, mungkin lebih setu jika suami kita juga ikut, biar mereka jagain anak anak dan kita bisa ngobrol sepuasnya ", Jihan dan Mutia terkekeh bersaama, mendengar usul Jihan jelas Mutiapun setuju.


" Setuju mbak, ide bagus", Mereka pun tertawa lebar.


Hening, tak ada pembicaraan lagi namun sesekali Mutia menghela nafas panjang.


" Mbak!".


" Hmm", Jihan mendongak menatap pada Mutia yang menampakan wajah dengan sedikit keraguan.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu Mutia akhirnya mengatakan yang sedikit menjadi pikirannya kini.


" Terima kasih ya Mbak! selama ini telah membimbingku dalam menangani proyek-proyek perusahaan, mengajariku banyak hal, Aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa mudah-mudahan hidupku tidak akan berubah terlalu draktis", Mutia menatap sendu pada Jihan.


" Terima kasih untuk apa sayangku, kita itu bekerja bersama disini sudah sewajarnya jika kita saling membantu Terima kasih juga sudah pernah menjadi bagian dalam hidupku selamanya Kamu sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri meskipun hidupmu kini telah berbeda kamu sekarang telah menjadi seorang istri direktur seorang istri dari pewaris perusahaan keluarga Muiz, Mbak harap kamu tetap akan seperti ini menjadi adikku yang manis", ucap Jihan terdekat meskipun bibirnya berkata dengan lancar namun pikirannya menerawang jauh ke belakang mengingat pertemanan dengan Mutia hingga saat ini.


" Terima kasih untuk semuanya karena Mbak begitu menyayangiku seperti kakakku sendiri tetaplah menjadi kakakku Mbak", jawab Mutia kembali dengan mata berkaca-kaca.


" Huuu.... sudah ah, acaranya yang manis-manis aja kenapa kita jadi malu kayak gini, kamu hanya resign dan itu artinya kita tetap saudara di manapun kita berada aku sih meskipun sedih karena sehari-harinya nggak akan ngelihat kamu di sini tapi aku senang karena kehidupan kamu sekarang sudah sangat lebih baik", Jihan beranjak mendekati Mutia kemudian menepuk halus punggungmu dia dengan lembut.


" iya iya kok aku jadi cengeng begini?", Mutia pun terkekeh melihat dirinya saat ini yang mudah sekali menangis.


" Ada pertemuan ada perpisahan tapi buat Mbak sekali kita bertemu selama-lamanya kita tetap akan menjadi saudara mungkin hingga maut memisahkan kita ya, jangan sungkan jika ada sesuatu kamu ingin curhat ingin bercerita ceritalah padahal mbak, siapa tahu aku bisa membantu, minimal untuk meringankan beban pikiranmu Tapi mana mungkin seorang nyonya Arjuna punya masalah!, Mbak harap kamu tidak akan pernah punya masalah di hidupmu akan bahagia terus hingga maut menjemput MU dan anak-anakmu besar menjadi harapan dan mewujudkan doa dan cita-citamu kelak", kejar Jihan penuh ketulusan.


" memangnya kapan sih kamu mau mulai resign?".


" Hari ini Mbak aku sengaja datang hanya untuk berpamitan sama kakakku ini dan tidak terkejut, seharusnya sebagai karyawan yang baik aku harus mentaati peraturan perusahaan tempatku mengais rezeki ini jika akan resign tentunya sebulan sebelumnya harus mengajukan surat pengunduran diri namun aduh ya begitu deh Mbak suamiku apa boleh buat aku juga harus menjaga nama baiknya menuruti kemauannya Untung saja Pak Surya adalah sahabatnya Mas Arjuna", go-car Mutia dengan tersenyum geli.


" Oh jadi..... mau mengundurkan diri aja pakai unsur kkn nih, ya deh kita mah TST aja, jika sudah ditembak sama yang punya perusahaan pasti jalannya mulus", Jihan tertawa lebar.


Sementara itu mutiara senyum simpul malu-malu, ada rasa tidak enak dalam hatinya baru beberapa minggu menjadi istri seorang Arjuna Mutia sudah mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini.


" yah begitulah Mbak!, malu sih sebetulnya tapi kemauan suamiku seperti itu meskipun saya sudah menolak dia tetap bersikukuh ya lebih baik kan salah satu melembut Mbak", pacar Mutia dengan sedikit menundukkan kepala karena benar masa lalu kepada temannya tersebut.

__ADS_1


" Tidak perlu malu Mutia, biasakan posisi kamu sekarang ini adalah istri seorang direktur, manfaatkan dengan sebaik mungkin namun tetap rendah diri, ini hanya perkara sepele kok tidak merugikan orang lain ya meskipun mungkin perusahaan ini harus mencari orang sepertimu itu susah tapi kan secara materi tidak akan berpengaruh banyak, suamimu hanya menginginkan yang terbaik untukmu, tidak perlu sungkan".


Mutia manggut-manggut paham akan ucapan Jihan.


" Oke Mbak lanjut bekerja Aku juga mau beres-beres nih".


Mutia membereskan cubicle meja kerjanya dan memisahkan antara barang pribadi dengan milik kantor untuk dikemas dan dibawa pulang yang memang barang milik pribadinya.


" tidak hanya aku nanti yang akan kehilangan dirimu di ruangan ini tentu saja ada Irfan dan juga Pak Jodi, bisa jadi suamiku juga akan kehilangan dirimu, Tapi mbak yakin mereka mendoakan doa doa terbaik untukmu".


" Iya itulah yang membuat aku betah bekerja di tempat ini, selain tempat ini adalah tempat aku mengais rezeki dari sebelum aku lulus kuliah hingga saat ini pengalaman pertamaku bekerja, dan di sini pula aku dipertemukan dengan saudara-saudara yang sebaik seperti Mbak Jihan Mas Irfan Pak Jodi Mas Andre dan yang lainnya, aku pasti akan sangat merindukan kebersamaan dengan kalian suatu saat nanti".


" nggak usah khawatir, kalau rindu undanglah kami makan di restoran yang enak kami pasti datang rombongan, tahu sendiri lah kami jika ditraktir semangat sekali", pacar Jihan terkekeh lebar.


" ya ya ya.... pasti itu teh aku pikirkan Mbak".


" Oke saya sudah beres apa mi dulu salam buat Mas Irfan ya Mbak jika ke ruangan ini kembali".


" kok cepet banget sih, kirain mau menunggu sampai jam pulang kerja seperti biasa?", ucer Jihan dengan wajah seperti enggan ditinggalkan


" Nih lihat, pawangnya Hilmi sudah menelepon, itu artinya dia sudah menungguku di lobby Mbak", Mutia menunjukkan ponselnya pada Jihan yang membuat Jihan manggut-manggut kan kepalanya mengerti.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2