
Mutia memeluk Hilmi tiada henti, bahkan Ibu satu anak itu sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke bandara selalu mendekat putranya.
" Bunda nanti sering-sering telepon Hilmi ya, tunjukin tempat-tempat yang Anda kunjungi", bocah-bocah itu dengan wajah sedihnya.
" Pasti sayang, bunda pasti akan sangat merindukanmu", jawab Mutia dengan wajah sedih.
Arjuna yang duduk di sebelah Mutia pun mengusap punggung Mutia dengan lembut akan memberikan kekuatan untuk istrinya yang akan berpisah dengan putra mereka satu-satunya ditinggal untuk honeymoon.
" Aduh sama sekali cucu oma ini", Bu Aryanti menimpali ucapan cucunya yang bernada sangat manja pada bundanya.
" Ayah Bunda perginya tidak akan lama sayang maksimal 2 minggu ok, dan kita juga akan jalan-jalan bertiga eh Maaf ralat berempat sama kakak Kenzo ya jika mendapat izin", Pak Abdul pun menimpali ucapan untuk menghibur sang cucu.
" Oh kakak cancel diajak Opa?", ujar Mutia pada bapak mertuanya yang tengah sibuk mengemudikan mobil mereka menuju bandara.
" Iya dong semoga Mbak Winda mengijinkan jika besok kita bawa untuk berlibur bersama Hilmi".
" insyaallah diijinkan opah soalnya bapak sama ibu kan sedang berobat di luar negeri dan Mbak Winda sibuk di kliniknya", jawab Mutia.
" Jangan nakal ya sayang, nanti bunda sama ayah akan sering-sering menghubungimu jika waktunya bisa, soalnya perbedaan waktu yang cukup lama, di sini malam di sana siang jadi susah untuk menelepon", ujar Arjuna pada putranya.
" iya".
" Sampai... yuk kita turun", Ujar pak Abdul seraya Amematikan mesin mobilnya.
" Jadi aku ditinggal nih?", Ternyata Hilmi masih merajuk juga.
Wajar memang karena selama ini tidak pernah berpisah dengan Mutia meskipun sudah di bujuk apapun tetap anak itu seakan-akan mencari celah untuk bisa ikut dengan bundanya.
" Aduhhh.... Jagoannya bunda kok masih sedih saja sih ", Mutia merangkul putranya, sejujurnya Mutia jauh lebih sedih tetapi memang tidak diijinkan membawa putranya oleh sang opa.
" Hayoo.... kita kan juga mau liburan, jangan sedih dong!", Bu Aryanti mencoba membujuk sang cucu.
" Nanti Bunda akan sering telpin kok, ayah janji", Arjuna sebetulnya juga sedih melihat Hilmy yang merajuk.
" Janji ya bun", Hilmy merangkul bunda ya sebelum akhirnya mereka turun dari mobil.
" Pasti dong!", Jawab Mutia tersenyum.
" Ayo sayang", Pak Abdul menuntun Hilmy supaya turun dari mobil dan menggandengnya.
" Mau sama bunda", Rengeknya menjawab ajakan opanya.
" Iya ayo", Mutiapun turun dan merangkul putranya sambil betjalan sementara Arjuna menarik koper mereka berdua dan pak Abdul merangkul bu Aryanti seraya berjalan.
__ADS_1
" Ayah mau cek dulu ya", Arjuna melenggang sementara yang lain menunggu di tempat tunggu.
" Hilmy, pulang dari sini kita langsung ke rumah Kenzo yuk, biar kita bisa lebih cepat pergi liburannya", Ujar pak Abdul.
" Oke opa, beneran ya aku sudah kangen sama kakak Kenzo", Jawab Hilmy antusias.
Merekapun berbincang saling bercengkrama meskipun di tempat umum dengan akrab.
" Sepertinya waktunyab kita harus boarding pass", ujar Arjuna raya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan nya.
" Sudah mau berangkat? Ya sudah ya bunda ayah hati-hati, jangan lupa telepon Hilmi", ucer pecah itu dengan seringnya sudah tidak merajuk seperti halnya tadi.
" ya sayang bunda pamit dulu ya".
" iya, jangan lupa pulangnya bawain adik bayi", jawab Hilmy antusias.
" yah Hilminya jangan lupa berdoa setiap malam agar supaya Hilmi cepat punya adik", Arjuna Boomerang kosan putra seraya mencium puncak kepala hingga semua wajahnya.
" ih Ayah rambut aku jadi acak-acakan", bocah itu tidak terima merasa rambutnya jadi berantakan dan membuat dia mengerucutkan bibirnya.
" Hahaaa ... benang jagoan kamu tetap ganteng kok", ujar Pak Abdul raya terkekeh lebar.
" Pak, kami pamit ya", Arjuna merangkul bapaknya dan mereka saling berpelukan erat.
" hati-hati di sana jaga istrimu dengan baik dan jangan lupa pesanan Hilmi semoga terkabul", Jawab Pak Abdul.
" Ibu saya titip Hilmy, Maaf bukannya saya merepotkan terus", Mutia pun merengkuh Ibu mertuanya ia menitipkan sang putra.
" tidak ada yang direpotkan kami justru sangat merasa senang jangan bicara seperti itu kami ini Opa Oma nya", rianti pun membalas pelukan Mutia dengan penuh kasih sayang.
" pak kami pamit", kini giliran Mutia memeluk Bapak mertuanya setelah berpamitan sama Bu Aryanti.
" nggak boleh bicara seperti itu, kami itu sangat menyayangi Hilmi, nikmati liburannya jangan khawatirkan Hilmi karena kami akan menjaganya dengan penuh kasih sayang sekuat tenaga", ucapan idul mengelus kepala Mutia.
" Terima kasih Pak".
" Iya sama-sama hati-hati kami menunggu kepulangan kalian dengan kabar gembira".
" ibu kami pamit ya, titip cuma Bu", ucap Arjuna memeluk ibunya dengan erat.
" Iya hati-hati pasti kami akan menjaganya".
" sayang kami pamit ya", Mutia kembali memeluk sang putra.
__ADS_1
" iya dadaaa".
Mutia dan Arjuna pun merasa tenang melihat putranya sudah tidak merajuk lagi dan terlihat sangat ceria ketika melambaikan tangannya.
" Assalamualaikum".
" waalaikumsalam semoga liburan yang menyenangkan".
Arjuna berjalan dengan merengkuh pundak istrinya dengan mesra sementara kedua orang tuanya melihatnya dengan tersenyum lebar begitupun dengan Hilmi.
" Ayo kita ke rumah kakak Kenzo", Pak Abdul langsung menuntun Hilmi menuju parkiran kembali.
Sementara didalam pesawat Mutia dan Arjuna sudah berada ditempat duduk mereka masing masing.
" Kalau pusing bilang ya", Ujar Arjuna yang tahu ini pengalaman pertama Mutia naik pesawat.
" He-em".
Mutia mencengkeran lengan Arjuna cukup kencang ketika pesawat sudah mulai naik
" Santai, rileks, jangan tegang... Berdoa saaja serahnya yang diatas", Arjuna merangkul pundak Mutia dan menariknya dalam dekapan.
Sementara Mutia sudah komat kamit merapalkan doa doa.
" Tenang sayang.... Jangan panik nanti malah pusing dan mual", Ujar Arjuna kembali.
" Tidurlah, pejamkan mata mu, tarik nafas pelan pelan ", Arjuna menyandarkan Mutia disandaran kursi duduknya dengan pelan dan kemudian menggenggam tangan Mutia serta mengusapnya.
" Masih tegang?", Tanya Arjuna setelah beberapa saat.
Mutia menggeleng dan mencoba membuka matanya, " Sudah berkurang tidak setegang tadi", Jawab Mutia.
" Ini minum", Arjuna memberikan air mineralpada Mutia yang kemudian di teguknya.
" Sudah lebih baik mas, tapi sebaiknya aku tak tidur saja ya", Ucap Mutia yang diangguki oleh Arjuna.
" Mas juga mau tidur, semalam kerja lembur belum istirahat yang benar, ditambah disana nanti pasti juga akan banyak begadang", Arjuna terkekeh setelah berbicara begitu pada Mutia.
" Hemmm.... Tapi jangan lepasin tangan aku mas, aku takut ", Ujar Mutia masih dengan mata terpejam.
"Tidak!, tidurlah", Jawab Arjuna.
Arjuna dan Mutiapun akhirnya tertidur dengan pulas meski dalam kondisi terduduk.
__ADS_1
Sementara dari sudut kursi lain ada yang menatap mereka dengan perasaan campur aduk.
Bersambung....