
" Foto perempuan yang berada di ruang kerja anda itu saya rasa itu bukan fotonya bu Kania juga bukan fotonya Bu Mutia lantas itu foto siapa bos apakah anda punya saudara perempuan? Maaf bos bukannya saya lancang, saya Hanya penasaran", Ujar Tristan dengan hati hati.
" Kenapa?", Tanya Arjuna dingin.
" Maaf bos... Bu bukan...", Tristan tergagap melihat aura bosnya yang begitu dingin.
" Itu Foto Luna, kekasih yang aku nikahi hampir 5 tahun lalu, namun malam naas itu menghempaskan segalanya.... Tapi bukan wanita itu yang menjadi masalah hidupku sekarang.... kalau dia, Luna sekarang hidupnya sudah jauh lebih bajagia dari pada aku Tris... pada akhirnya takdir jodohnya Luna dengan sahabatku Aldiano... dan aku sudah mrngikhlaskan sejak hari itu... tapi... ada satu hal yang harus kamu tahu...", Entah kenapa Arjuna pada akhirnya menceritakan malam naas itu pada Tristan.
Arjuna yakin jika sekretarisnya itu harus tahu mengenai masa lalu dirinya yang masih belum kelar dari pikirannya.
" Wah.... Saya benar benar tidak menyangka jika ceritanya seperti itu bos.... pantes saja bos depresi berat selama ini... eh maaf bos", Tristan menyadari ucapannya sudah kelewatan kemudian dia menunduk karena merasa bersalah dan menyesal atas ucapannya barusan.
" iya aku memang depresi Tris .. tapi harus kamu garis bawahi jika aku ini bukan gila, awas saja jika anggapan kamu berlebihan hingga kesana!", Aura dingin dari Arjuna kembali terasa mencekik tenggorokan Tristan.
" Maaf bos, enggaklah... enggak sejauh itu juga bos, bos hanya terlalu menyesali teramat dalam", ujar Tristan seraya mengamati wajah bosnya yang nampak masih terasa dingin.
" Sangat Tris...!",
" Aku harap kamu bisa secepatnya menyelidiki siapa bu Mutia itu secepatnya, jika kamu mau melihat aku bisa tidur nyenyak".
" Siap bos!".
Sementara itu di tempat lain
" Mas tahun depan kita harus mudik ya, anak-anak sudah mulai besar, jika tahun depan mudik itu artinya si kecil sudah tidak minum ASI lagi jadi akan lebih mudah membawa main ke mana-mana", kali ini Luna dan Aldi tengah berada di rumahnya di sebuah negara yang kini mereka tinggali.
" Siap!! Mas sudah sangat merindukan semua orang yang kita kenal di Indonesia Luna istriku", Aldi terkrkeh lebar.
Jika diingat dulu mereka sahabat bertiga, dan Luna adalah kekasih sahabatbya, namun takdir yang akhirnya membuat mereka menjadi sepasang suami istri dan sekarang mereka sudah dikaruniai 2 putri yang cantik cantik.
__ADS_1
" Iya Mas, katanya mau ada reuni ya di SMA kita dulu?", ujar Luna yang sudah mendengar kabar itu dari salah satu temannya.
" kamu mau datang? ini berarti reuni kamu bersama dengan Arjuna", ucap Aldi menggoda istrinya.
" Mas cemburu?", tanya Luna menoleh kearah Aldi seraya mendelikan matanya.
" Enggak!!, justru mas mau lihat, apakah istriku ini masih mencintai masa lalunya atau sekarang cintanya sudah benar-benar untukku", kali ini ucapan lagi serius.
" Seandainya tahu takdirku sejak awal jodohku adalah Mas aku tentu tidak akan pernah berpacaran dengan Juna, begitulaj takdir kan nggak akan ada yang tahu lebih dulu".
" Kamu menyesal karena ternyata jodoh Kamu adalah aku?".
" iya, Luna sangat menyesal!!!, kenapa aku dulu pacaran dengan Juna sementara jodohku adalah mas Aldi, dan ternyata cintaku memang buat mas Aldi bukan buat Arjuna!", Luna berkata dengan sangat tegas dan jujur itu adalah isi hatinya.
" kamu serius yank?".
" Jadi menurutmu aku lebih tampan dari Arjuna?".
" Hemmm.... ", Luna tidak menjawab hanya berdehem aja.
" lebih lembut dan lebih baik hati itu pasti", jawab Luna tanpa keraguan sedikitpun.
" Tapi berarti tetap tampan Arjuna dong?", Aldi ingin sebuah pengakuan dari Luna.
" Menurut perasaan mas sendiri gimana?", kali ini ucapan Luna sedikit meledek sang suami.
" okelah Arjuna memang lebih tampan, tapi kalau urusan gagah kita sama dong dan Mas juga punya kelebihan yang tadi menurut kamu lembut dan baik hati", Aldi terkekeh seraya menoel hidung istrinya.
" Tetapi Mas Arjuna juga baik, hanya kadang-kadang dia kurang bisa mengontrol emosinya", ucap Luna mengingat masa-masa dulu saat berpacaran dengan Arjuna.
__ADS_1
" Betul itu, sahabatku itu memang suka kurang bisa mengontrol emosinya yang menyebabkan kemudian menyesal di kemudian hari", Aldi pun mengiyakan ucapan sang istri mereka berdua memang sudah sangat mengenal kepribadian Arjuna.
Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing untuk beberapa saat.
" kira-kira apakah Mas Arjuna sudah tahu atau belum ya jika ternyata dia memiliki seorang anak dari wanita itu, Aini", ujar Luna.
" Belum Lun, kita harus bisa menjaga keinginan dari Aini", Aldi sebetulnya tahu banyak mengenai Aini, namun Aldi memang tidak memberikan informasi itu sepenuhnya kepada sang istri, bukan apa-apa Aldi takut jika sang istri akan keceplosan jika sudah berhadapan dengan Arjuna.
Aldi sangat menjaga dari keinginan Aini meskipun ada rasa khawatir tetapi Aldi tahu benar jika Aini itu wanita yang sangat baik dan tidak mau mengganggu kehidupan Arjuna.
" Arjuna nggak usah tahulah, toh anaknya laki-laki enggak butuh perwaliannya, jika pun perempuan juga nanti ketika menikah juga nggak butuh perwalian Arjuna karena status anak itu anak ibu sedangkan di Akta lahirnya juga tertulis nama Mas", Ujar Aldi.
" Iya dia kan anakmu Mas", Luna terkekeh lebar, setahun pertama menikah dengan Abi dia berstatus sebagai istri kedua meskipun itu hanya akal-akalan saja karena sesungguhnya Luna hanya istri satu-satunya bagi Aldi.
Namun saat tahun pertama Aldi memang tidak menceraikan Aini setelah Hilmi mendapatkan akte barulah mereka bercerai secara resmi.
oleh karena itu saat Aldi hendak menikahi Luna, Aini menandatangani surat izin suaminya untuk menikah kembali atau melakukan poligami, sehingga Aldi dan Luna pun menikah secara resmi.
ini semua dilakukan atas persetujuan dari orang tua Aldi, tante Mary dan juga orang tua Luna, karena belas kasihan mereka terhadap ini.
" Hilmi pastinya sekarang sudah tumbuh dengan sehat dan tampan", gumam Luna.
" Pastinya, kadang kalau kita pikir-pikir meskipun membuatnya dalam waktu yang bersamaan tapi kenapa kelahiran mereka tidak bersamaan pula ya Lun?", Aldi terkekeh lebar yang bisa dengan Luna mereka berdua tertawa bersama ku mengingat kelahiran Hilmi dan Safira Putri mereka berbeda 3 hari dan itu duluan Hilmi.
-
-
Bersambung.....
__ADS_1