PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Kebahagian keluarga Abdul


__ADS_3

" Jun, ini hadiah dari bapak sama ibu", Pak Abdul menyodorkan sebuah amplop berwarna biru putih pada Arjuna saat makan malam pertama di rumah mertuanya.


" Apa ini pa?", Tanya Arjuna meraih amplop tersebut, bu Aryanti dan Mutia hanya memperhatikan tanpa berkomentar apapun.


Arjuna membuka amplop tersebut, " Wah... tiket honeymoon, terima kasih pak, bu", Ujar Arjuna dengan wajah gembiranya.


" Apaan itu ayah, lihat lihat", Hilmy dengan antusias hendak melihat isidari bungkusan yang diberikan kakeknya kepada ayahnya tersebut.


" Tiket sayang.... ayah sama ibu bunda disuruh kakek untuk liburan", Jawab Arjuna jujur pada sang putra.


" Waahhh asyik dong.... Hilmi juga ikut kan?", tanya bocah itu sangat antusias.


Mutia masih mengamati begitupun dengan ibu Ariyanti.


" Hemmm.... tiket itu hanya untuk berdua sayang, untuk Ayah sama Bunda mau saja, nanti Hilmi perginya sama oma opa oke!", jawab Pak Abdul.


" Kok sekarang Bunda tidak pernah sama Hilmy lagi, Aku sering ditinggal tinggal, kenapa bunda sering sama ayah sih?!", Hilmi menggerutu protes rasa kasih sayang bunda nya berkurang.


" Maaf sayang, Kan Ayah sama bunda sering pergi bareng biar Hilmy cepat dapat Adik, mau tidak punya adik?", Timpal Arjuna.


" Hemmm .. Iya gitu kalau ayah sama bunda pergi berdua Hilmy bisa punya adik?", Tanya Hilmy dengan wajah memberengut.


" insya Allah", jawab Arjuna.


" Opa benarkah jika ayah sama bunda bobo bareng Hilmy bisa punya adik?", Bocah itu ingin kepastian dari opanya


Pak Abdul tersenyum dan mengusap kepala Hilmi dengan lembut, " Iya, tapi ayah bunda dan juga Hilmi harus banyak berdoa meminta kepada Allah", Pak Abdul mencoba memberi pengertian pada sang cucu.


" Oh, jadi kita juga harus berdoa sama Alloh biar Hilmy punya adik, Ya Allah semoga Hilmi cepat punya adik, Aamiin ".

__ADS_1


" Aamiin ", jawab semua serentak mengaminkan doa anak kecil tersebut.


" Kalau begitu Hilmy sama oma opa saja liburannya ", Ujar Hilmy mantap.


" Iya dong sama Opa Oma juga seru nanti kita aja Kakak Kenzo", ujar Pak Abdul membuat Hilmi langsung membalikkan badan dan tersenyum lebar menyambut gembira ucapan opanya


" Kakak Kenzo asik", Hilmy benar benar senang dengan bersorak gembira.


" Terima kasih papa ibu, semoga kalian sehat selalu agar selalu bisa melihat Hilmi tumbuh besar", ujar Mutia dengan mata berkaca-kaca penuh haru.


Mutia kini merasa hidupnya lengkap apalagi melihat putranya yang begitu bahagia dan antusias memiliki Opa Oma serta ayah.


Ternyata keputusannya untuk menerima Arjuna untuk menjadi suaminya Adalah keputusan yang tepat, tidak ada yang perlu disesali dan harusnya dirinya selalu bersyukur.


" Kenapa bicaranya begitu, ibu ga suka ah, Hilmy adalah cucu kami wajar jika kami menjaganya tanpa rasa lelah dan bukan hanya Hilmy kami masih mengharapkan kalian bisa memberi adik yang banyak untuk Hilmy dan kami akan ikut menjaga dan mengurusnya", Bu Aryanti mengusap lembut pipi Mutia.


" Betul yang ducapkan ibu mu Mutia, kami senang dan hidup makin berwarna dengan kehadiran Hilmy diantara kami, kamu jangan sungkan untuk segala urusan Hilmy pada kami kami", Pak Abdul menimpali.


Arjuna pun memperhatikan interaksi istrinya dengan kedua orang tuanya dengan perasaan haru.


" Nikmati honeymoon kalian dengan tenang, papa yang akan menghandel urusan proyek bersama dengan Tristan dan pak Fajar, insyaAlloh akan lancar tanpa kendala", Ujar pak Abdul dengan tulus.


" Kami belum akan berangkat kok pa, Mutia masih belum resign dari tempat kerjanya, jadi kemungkinan menunggu surat pengunduran dirinya di acc dulu", Jawab Arjuna.


" Lho, kok bisa kamu masih kerja Mutia, jika masih kerja di perusahaan orang ya tidak bisa cuti lama lama dong!", Pak Abdul kaget dikira Mutia sudah resign.


" Maaf pak karena kemarin kan nikahnya buru buru", Ujar Mutia merasa tidak enak dengan mertuanya.


" Tapi Arjuna mengijinkan jika kamu tetap kerja?", Tanya pak Abdul melirik Arjuna.

__ADS_1


" Kami belum bicara mengenai itu pa, tapi jika Mutia masih ingin kerja ya boleh saja asal kerjanya bareng Arjuna kita satu kantor dan nanti jika dia hamil ya harus istirahat dirumah, maunya Arjuna sih gitu, menurut mu gimana yank?", Pertanyaan Arjuna untuk Mutia diakhir kalimat.


" Nanti dipikirkan dulu mas", Jawab Mutia yang merasa belum setuju dengan keinginan Arjuna.


" tapi apa yang menjadi pemikiran Arjuna papa setuju Mutia, jika masih ingin bekerja silakan di kantor saja jangan di tempat orang lain", Pak Abdul memberikan pendapatnya.


Mutia sebenarnya juga mengerti jika dia bekerja di tempat orang lain itu artinya merendahkan harga diri keluarga Arjuna terutama kedua orang tuanya namun Mutia juga masih meminta waktu sedikit dari Arjuna untuk tetap bekerja di PT Persada paling tidak sampai beberapa minggu kedepan sebelum Mutia resmi resign.


" Iya Pa beri waktu saya sedikit saja untuk membereskan pekerjaan serta tanggung jawab saya di sana setelah itu tentu saya akan menurut perintah dan nasehat dari Mas Arjuna serta apa-apa".


" baiklah apa setuju".


" Tapi jangan lama-lama ya yank maksimal 1 bulan ke depan aja, itupun kalau bisa 1 minggu atau beberapa hari masuk kerja saja untuk membereskan setelah beres sebaiknya segera pindahlah kita bekerja bersama saja", ujar Arjuna dengan nada merajuk.


" iya", jawab singkat dari Mutia yang merasa geli melihat suaminya merajuk seperti itu.


" seharusnya begitu kamu ketemu Mutia dulu langsung kamu minta dia untuk gabung bekerja di kantor kamu Jun, bukan malah menikmati kalian kerjasama di bidang perusahaan seperti ini", Timpal Pak Abdul.


" jika seperti itu mana mungkin dia mau pa, yang ada dia malah kabur minta proyek luar kota barangkali".


" Hahahaaaa.... iya juga", Pak Abdul pun tertawa lebar dan Mutia pun hanya mesem-mesem saja.


" Maaf ya Mas, sebetulnya setelah Mutia bertemu dengan Mas waktu pertama kali itu aku sudah langsung mau resign dari perusahaan itu dan atau minta proyek luar kota namun Pak Jodi tidak melepaskanku, dan semua proyek itu diberikan kepada Pak Irfan karena menurut Pak Jodi saya perempuan dan beliau merasacocok bekerja dengan saya makanya dia meminta atasan kami untuk tidak memindahkan, dan ia Akhirnya saya bertahan bekerjasama dengan PT AMM", jawab Mutia apa adanya.


" Tuh rasain dari awal juga ternyata Mutia itu sudah berusaha menghindari mu Jun, tapi dasar kalian berjodoh apapun usaha kalian ya tetap bersatu dan membuat kami lega dan bahagia serta sangat bersyukur, Terima kasih Mutia", jawab Pak Abdul dianggurin juga dengan senyuman oleh ibu Ariyanti.


Mutia hanya tersenyum dan mengangguk, memang benar yang dikatakan Bapak mertuanya dan Mutia pun berusaha untuk selalu bersyukur karenanya nya.


" Sekali lagi terima kasih istriku, jika tahu bapak sama ibu akan sebahagia ini tentu dulu aku tidak akan pernah egois, maafkan atas kesalahanku Mutia bapak ibu, dan Hilmy yang seharusnya di akta kelahiran ada namaku", Arjuna tertunduk penuh sesal.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2