PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Makan malam bersama


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


" Bunda kok ada siara orang mengetuk pintu rumah kita?", Hilmy mendekat kearah Mutia yang sedang menggoreng tempe didapur.


" Ah iya, kerumah kita gitu? Tapi siapa, kita jarang punya tamu", ujar Mutia seraya mengangkat tempe dan mematikan kompornya kemudian melrpas celemek yang menggantung dilehernya.


" Ayo kita lihat bunda", Hilmy menarik tangan Mutia dengan rasa. penasaran begitupun dengan perasaan hati Mutia.


Krieekkk


Pintu terbuka dan nampaklah sosok tinggi gagah dengan rambut rapih, celana panjang warna cream dan kaos p**o warna putih dengan krah wangki dan sepatu pantofel dengan harum parfum yang langsung mengoar memenuhi udara di teras rumah Mutia.


" Oom bos bunda", Hilmy bersuara tanpa reaksi berlebihan bahkan cenderung biasa saja.


Berbeda dengan reaksi Mutia, dia langsung melotot dengan rona wajah menunjukkan ketidak sukaannya.


" Assalamualaikum", Sapa Arjuna menatap Mutia.


" Waalaikum salam Oom bos", Jawab Hilmy dengan sedikit senyum, Mutia hanya menjawan dengan suara sangat pelan.


" Ada urusan apa ya pak kok anda sampai datang kemari?", Tanya Mutia sinis.


" Bolehkah saya masuk?", Tanya Arjuna tanpa basa basi karena tak ingin mendebat Mutia.


Mutia tidak menjawab sama sekali namun menyingkir dari bibir pintu dan memberikan jalan kepada Arjuna untuk memasuki rumahnya.


" Boleh saya duduk?", Arjuna kata tanpa basa-basi sama sekali.


Mutia hanya mengangguk dan menatap dengan pandangan tidak suka sementara itu Arjuna yang sudah duduk kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


" Hilmy, temani Oom, bunda mau menyesaikan masakan bunda dulu nanti keburu tambah malam", Mutia beranjak dari duduknya dan kembali menuju dapur.


" Iya bunda ", Bocah itu menurut saja kemudian duduk di sofa dekat dengan Arjuna.


" Hilmy, kamu sudah sekolah nak?", Tanya Arjuna untuk mengakrabkan diri dengan bocah menggemaskan itu.


" Sudah Oom".


" Dimana?".


" Di TK SATRIA Oom, kelas A".

__ADS_1


" Wahhh... asyik dong, banyak temannya ya?".


" Iya, tapi mereka pulang jika sekolah sudah bubar, namun Hilmy harus menunggu dijemput bunda jika hari sudah petang, namanya daycare Oom", Bocah itu pun tanpa malu malu curhat pada Arjuna.


" Oh, kenapa? Apa Hilmy sedih?".


" Tidak!, Kata bunda Hilmy tidak boleh sedih karena bunda bekerja agar bisa buat Hilmy bahagia suatu hari nanti".


Serrrr....


Hati Arjuna berdesir perih menggores didadanya, rasanya perih namun tak berdarah.


" Sejak kapan Hilmy sekolah disana?", Tanya Arjuna.


" Kata bunda sejak bayi, soalnya bunda harus kuliah dan kerja", Jawab bocah itu polos.


Seerrrtttt....


Kali ini hati Arjuna seperti diiris pisau kater yang karatan, tajam tapi meninggalkan infeksi, berdenyut dan terasa bernanah.


" Owh, jadi kamu dari bayi sudah dititipkan di daycare sayang?", Tanya Arjuna.


" Ho-oh", Jawab Hilmy dengan cueknya dan sesekali melompat kesana kemari.


Arjuna menatap putranya dengan hati yang terasa diaduk aduk, rasa bersalahnya semakin hebat, sungguh menyakitkan penyesalan yang dia rasakan.


" Iya bun", Bocah itu berjingkrak setengah lari menuju dapur kecil rumah kontrakan itu.


" Maaf, apakah bapak mau ikut makan bersama kami?", Tanya Mutia dengan wajah yang datar.


" Bolehkah?", benar-benar lelaki yang satu ini tidak punya rasa sungkan dan malu sedikitpun.


" Hemm.... Ya sudah bapak tunggu dulu, saya akan mengamparkan karpet dulu dan kita akan makan disini", Jawab Mutia seraya meraih karpet berukuran sedang yang digulung dan disimpan disudut ruangan.


" Oke dudah, maaf tapi keadaannya seperti ini, harap maklum ya pak!", Meskipun terlontar kata Maaf namun wajah Mutia masih terlihat datar saja.


" Tak apalah", jawab Arjuna sekenanya.


" Bun, kita makan bareng Oom dikarpet?", tanya Hilmi polos.


" Iya nak, itupun kalau omnya mau masakan Bunda", jawab Mutia.


Mutia dengan cakatan menyiapkan semua masakannya di atas meja di ruang tamunya piring sendok dan tidak lupa juga dengan air putih sebagai minumannya.


" Ayo Om kita makan bareng, masakan Bunda aku gak enak lho!", Ungkap bocah itu dengan mengacungkan kedua jempol tangan Nya.

__ADS_1


" Masa sih, Om jadi penasaran nih, kebetulan Om belum makan malam", Jawab Arjuna jujur dia memang sangat penasaran dengan masakan perempuan ayu ini.


" Makanlah paksa adanya beginilah kehidupan kami", meskipun Mutia menawari dengan tulus namun raut wajahnya masih datar saja tidak ada senyum sedikit pun.


" Terima kasih ya", Arjuna segera menyinduk sedikit nasi, sayur bayam, ikan dan tempe goreng masakan Mutia.


" Oom ga berani sambal seperti Hilmy?", tanya bocah itu bolos karena melihat Arjuna tidak mengambil sambal ke dalam piring makannya.


" Sebentar Om sedang mau menikmati makanan ini tanpa rasa pedas", jawab Arjuna yang memang sudah sangat sangat penasaran dengan masakan wanita dihadapannya ini.


Sruuuppouuuttt.... sruuuffffppp...


Arjuna menyeruput sayur bayam dengan sendok ke mulutnya, 1 kali 2 kali 3 kali dan seterusnya....


" Seger ya Om?", Hilmi sedari tadi ternyata memperhatikan tingkah Arjuna yang menyerupai buah berulang kali dan kadang-kadang juga bersama nasi tempe goreng dan juga ikannya.


" loh kok malah ngeliatin Om Ayo Hilmi juga makan, kan bunda memasak untuk Hilmi bukan untuk Om", ujar Arjuna setelah sadar kedua orang di depannya belum juga menikmati makanannya malah menatap dirinya dengan intens.


" Oom lapar sekali ya, kok cepat nian makannya?", sama Hilmi keheranan melihat cara makan Arjuna seperti orang yang sangat kelaparan.


" Hemmm", Arjuna tersenyum malu.


Jujur Arjuna merasa seperti bernostalgia pada masa kecilnya sewaktu dirinya seusia dengan Hilmi saat ini, di mana dulu pengasuhnya suka memberikan menu ini meskipun jarang jarang namun ingatan itu jadi terbayang kembali saat memakan makanan ini.


" Maafkan saya bu Mutiah saya seperti orang yang rakus ya makan masakan anda", jar Arjuna malu-malu.


" Silakan kalau mau nambah, meskipun Hanya seperti ini insya Allah masakan ini termasuk masakan sehat pak", ucap Mutia apa adanya.


" Iya om lihat aku ini makannya aku lahap sekali", Hilmi memamerkan piringnya yang sudah kosong.


" mau nambah sayang?", tanya Mutia seraya mengusap rambut kepala putranya.


" Sudah kenyang Bunda", Hilmi mengusap perutnya.


" silakan menambah Pak Arjuna masakan seperti ini memang sebaiknya dimakan saat masih baru matang seperti ini tidak bisa dipisahkan kembali jadi harus habis saat ini ya pak".


" Terima kasih Bu Mutia, sekalinya datang ke sini saya langsung meminta makan pada anda", Arjuna merasa tidak enak hati karena pada akhirnya dia pun menambah kembali makanannya.


" Tidak apa-apa jika itu ada pak, jika tidak pun saya tidak akan memberikannya". meskipun setiap kali berucap Mutia tidak berwajah ramah namun Arjuna tahu jika hati Mutia yang sebenarnya sangat tulus.


" Saya ke sini selain ingin mengenal lebih dekat dengan Hilmi saya juga ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya pada mu Mutiah, maafkan saya maaaaff... seandainya waktu bisa diputar kembali ke waktu pertama kali aku mengenalmu aku tidak akan pernah membuat keputusan yang sangat bodoh dan kusesali seumur hidupku", Arjuna tertunduk lesu.


-


-

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2