PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
kesiangan


__ADS_3

Melihat Mutia yang masih terbengong-bengong tidak ada pergerakan sama sekali, dan Arjuna yang sedari tadi masih berdiri di belakangnya terus membelai lembut rambut Mutia hingga pelayan itu membuat Arjuna berharap lebih.


" Kotaknya dirapikan dulu terus disimpan dulu ya", Arjuna meraih kotak tersebut dan merapikan kemudian menyimpannya di kotak penyimpanan yang disediakan kamar hotel.


Arjuna kembali mendekati istrinya kemudian berdiri didepannya, menatap lembut kearah Mutia merengkuh dan menundukkan kepala, Mutia yang semakin berdegup kencang jantungnya seperti dipacu ribuan kali lipat merasa jika kini suaminya tengah meniup ubun-ubun nya.


" Lihat aku sayang, aku kini sungguh telah menjadi suami mu, saat ini kita tengah berada dalam kenyataan bukan kesalahan seperti waktu itu, kita halal jangan takut, kita tidak melakukan dosa besar seperti waktu itu, kita akan selamanya berada dikamar dan tidur bersama menghabiskan malam malam panjang kita penuh keberkahan yakin itu sayang", Arjuna mengecup kening Mutia lebih lama.


Mutia memejamkan matanya dalam, mencoba menstransfer kata-kata Arjuna ke dalam hati dan pikirannya supaya pikiran yang kembali ke enam tahun lalu itu tidak lagi menghantui dirinya.


" iya, kamu mas Arjuna sekarang suamiku halalku, kita tidak tengah melakukan dosa", Mutia berkata Lirih dengan hati yang bergetar tak luput air matanya pun ikut mengalir deras dari sudut matanya.


" Kenapa menangis Hemmm?", suara lembut Arjuna berbisik ditelinga Mutia.


" Entahlah! Ada rasa takut salah seperti waktu itu hiks". jawab Mutia lemah namun masih di dengar oleh Arjuna.


" Tatap Aku sayang, lihat, lihatlah akulah suamimu Arjuna bukan Aldiano ataupun Irfan tapi aku Ayah dari anakmu Arjuna suamimu, bukalah matamu lebar-lebar sayang dan tandai wajah ini mulai dari hari ini sampai nanti jika Tuhan telah mengambil nyawaku wajah inilah suamimu", Arjuna menatap Mutia dengan lembut begitupun sebaliknya setiap kata yang keluar dari mulut Arjuna menjadi sugesti untuk Mutia.


Mutia mengangguk lembut namun matanya tetap tidak berkedip seakan menurut apa yang dikatakan Arjuna bahwa dirinya kini tengah menandai wajah laki-laki yang berada di depannya itu.


Melihat istrinya yang kini tengah menatapnya tajam namun sekali-kali bola matanya berputar seakan tengah menandai satu-satu yang ada di wajahnya Arjuna pun tidak tahan kemudian menundukkan wajahnya dan memanggut lembut bibir sang istri.


Perlahan di awal tidak ada balasan dari Mutia namun lama-lama akhirnya istrinya pun membalasnya dengan pelan Arjuna pun melakukannya dengan lembut dengan perlahan pula dia mengarahkan istrinya berjalan mundur menuju tempat tidur.

__ADS_1


***


Mutia menggeliat ketika matahari sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya saya akan mengalahkan cahaya lampu yang masih menyala di dalam kamarnya, ya semalam lampu itu tetap menyala semuanya karena Mutia tidak mau terjadi kesalahan seperti dulu sehingga malam pertama mereka dilewati dengan cahaya lampu kamar yang terang beneran.


Badannya masih terasa capek pinggangnya pun terasa ngilu bahkan diantara pahanya terasa tidak nyaman, namun Mutia memaksakan dirinya untuk membuka mata.


Iya, pergumulan malam pertama dengan Arjuna yang kini sungguh telah menjadi suaminya itu hingga subuh tadi, entah berapa kali suaminya menyentuh dirinya, mungkin Lima, tujuh atau bahkan sepuluh kali, tak begitu ingat yang Mutia ingat hinggan pukul 4 pagi kemudian mereka mandi bersama dan menunggu adzan barulah mereja menunaikan dua rokaat dulu setelah itu baru tertidur .


Mutia dan Arjuna sengaja melaksanakan subuh dulu agar tidur mereka berkualitas tidak kepikiran kesiangan.


" Alhamamdulillahiladzi ..... ya Allih sudah jam berapa ini?", Mutia bergerak pelan hendak bangun dan meraih ponselnya untuk melihat waktu jam berapa sekarang.


" Astaghfirulloh.... sudah hampir jam 10, sudah siang sekali", suara Mutia sedikit keras sehingga membuat Arjuna terjingkat kaget dari tidurnya.


" Hah! Sudah siang?", Arjuna semprotan membuka mata lalu melirik ke arah jendela yang gordennya sudah dibuka oleh Mutia sejak subuh tadi


" kita kan sudah subuh tadi nggak usah buru-buru bangun kecuali istri kursi ini sudah lapar", ucap Arjuna mendekap Mutia dengan mata yang masih terpejam.


" Pasti saudara-saudara sudah pada sarapan semua, dan Hilmi kasihan dia tadi sarapan sama siapa Mas?", suara Mutia sedikit merengek membuat Arjuna terpaksa membuka matanya kembali.


" ya sudah kita tidak usah mandi cuci muka saja tuh tadi kan sudah mandi terus kita ke Resto hotel untuk sarapan", akhirnya Arjuna pun menyingkap selimutnya dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur saya akan mengumpulkan nyawanya agar tidak linglung setelah bangun tidur.


" kalau begitu aku mau cuci muka sama sikat gigi saja dan ganti baju", Mutia pun langsung bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Mutia juga langsung keluar sudah rapi dengan celana kulot di atas mata kaki berwarna hitam dengan manset dan cardigan di bawah lutut berwarna abu muda di padu padan dengan kerudung pashmina warna senada dengan cardigan.


" Mas buruan sana cuci muka terus kita susul mereka barangkali masih ada sebagian saudara kita yang di restoran", ujar Mutia membuat Arjuna pun bergegas menuruti perintah istrinya tersebut, sementara itu Mutia memoles make up tipis di wajahnya agar terlihat sedikit lebih cerah.


Arjuna pun mencoba mengimbangi pakaian istrinya dengan memakai celana jeans hitam dan kaos dengan kerah wangki berwarna abu.


" Sebentar jangan keluar dulu sebentar 2 menit aja", ujar Arjuna ketika Mutia menarik tangannya menuntunnya hendak keluar dari kamar.


" Ada apa lagi?".


Cup


" Morning kiss sayang, Terima kasih untuk 1 malam yang indah, masih seperti saat pertama kita dulu melakukannya, bedanya setelah aku membuka mata aku bersyukur sangat sangat bersyukur karena benar semalam aku melakukannya bersama istriku yang sesungguhnya", ucap Arjuna kembali mengecup bibir Mutiara lembut namun hanya sekilas.


" Iya Mas aku juga bersyukur insya Allah setelah ini tidak akan ada drama seperti dulu tapi yang ada godaan dan candaan dari saudara-saudara kita yang akan membuat kita bahagia selamanya amin", jawab Mutia dengan tersenyum lebar sebelum akhirnya mereka beneran meninggalkan kamar menuju restoran hotel.


" Bundaaaa ... ", suara Hilmi begitu keras memanggil bundanya ketika melihat Mutia memasuki Resto hotel tersebut.


" Sana duduk saja sama putra kita sayang biar mas yang mengambilkan makan mu", Ujar Arjuna.


" Gapapa mas yang antri?". tanya Mutia sedikit ragu


" Iya gak papa, duduklah di sana nanti aku menyusulmu", Mutia yang memang sudah lapar pun menuruti perkataan Arjuna kemudian duduk mendekat ke arah Hilmi yang tengah duduk bersama oma opa nya dan saudara yang lain karena di sana sudah tidak ada keluarga Bu Meri mereka sudah pulang duluan karena ndak mengantar Bu Meri ke negeri tetangga untuk berobat.

__ADS_1


" Kesiangan Mbak?", celetuk Tristan ketika Mutia baru saja mendudukkan bokongnya di sebelah Hilmi.


Bersambung.....


__ADS_2