
" Tunggu di mana putramu Jun, Om harus kenal nih pasti sudah besar".
" Dia sedang tidur siang Om", jawab Mutia dengan pelan dan sedikit sungkan.
" Oh tidur siang, cowok apa cewek?".
" Jagoan dong! Udah besar dan pintar dia", Jawab pak Abdul dengan bangga membuat Mutia dan Arjuna serta bu Aryanti tersenyum.
" Waahhh ... Rejeki nomplok itu mas, semoga cepat menyusul Arjuna Arjuna junior agar keluarga ini makin ramai, jangan hanya satu seperti kakeknya, Kamu pasti lebih pandai tidak seperti bapak mu Jun", Ujar Om membuat gelak tawa.
" Iya aku akui dia cukup pandai sekali buat langsung jadi, dan aku berharap kali ini akan ada banyak adik adik Hilmy lahir", pak Abdul terkekeh.
" Siapa Hilmy? Siapa dia?".
" Jagoanku Om", Jawab Juna.
" Semakin penasaran tante mau lihat anak mu Jun", Sahut tante.
" Biarkan dia istirahat dulu kalian juga istirahat dulu lah pasti cape sudah menempuh perjalanan panjang", Ujar pak Abdul.
" iya mas, kami istirahat dulu, nanti setelah maghrib kita lanjut ngobtolnya, kasihan pengangin nih nampak cape", Ujar Om dengan tertawa.
" Yuk mari istirahat nanti malam kita kumpul dengan keluarga yang lain pasti lebih ramai".
***
Benar saja malam harinya mereka makan malam bersama dengan anggota keluarga yang lain di sebuah Resto yang sudah mereka pesan.
Arjuna dan Mutia nampak berseri penuh kebahagiaan meskipun kadang kecanggungan masih terlihat pada diri Mutia.
" wah Jun anakku ganteng sekali, benar-benar Tuhan menganugerahkan banyak nikmat kepadamu, jangan kau sakiti istrimu, harus banyak-banyak berterima kasih karena wanita itu mau menjadikan dirimu suami", tak henti-hentinya Om selalu menasehati tentang kebaikan kepada Arjuna.
" Iya Om insyaallah".
" Gemesin sekalian aku mau Jun", tante pun ikut bersuara.
" Mohon perhatian untuk semua saudaraku yang berada di sini, Alhamdulillah acara pernikahan untuk pengantin kita Mas Arjuna dan juga Mutia berjalan lancar semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah tentunya kita akan mendoakan selalu dengan doa-doa terbaik kita supaya selalu bahagia dan rukun dikaruniai keturunan yang salih di sini saya sekali lagi mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa syukur insya Allah kami besok akan berangkat ke negeri sebelah ke negeri tetangga untuk mengantarkan istri saya berobat, mohon doanya dari semuanya untuk kesembuhan istri saya secepatnya, itu saja kiranya terima kasih", Suami tante Mery berpamitan sekaligus meminta doa.
Semua anggota keluarga yang ada di situ memberikan doa terbaik untuk tante Mary, dengan menyalaminya sebelum mereka akhirnya berangkat pulang karena hendak mempersiapkan keberangkatannya besok.
__ADS_1
" Ibu... ", Mutia memeluk erat Ibu Meri dengan isak tangis.
" Ibu pasti sembuh, Terima kasih untuk semuanya Bu, nanti aku akan mengunjungi ibu di sana bersama dengan Hilmi juga", ujar Mutia dengan terisak, Arjuna yang berdiri di samping Mutia Bun mengusap punggung istrinya dengan lembut.
" Jangan menangis, Ibu pasti sembuh Dan pulang kembali ke rumah, Ibu masih ingin melihat adik-adiknya Hilmi lahir dan kalian bahagia terus", ujarku Meri membalas pelukan Mutia.
" Sudah sayang jangan menangis ya kamu harus bahagia", Bu Meri pun melepaskan pelukan Mutia.
" Iya ibu".
" Mas Arjuna nanti bawa Mutia dan Hilmi untuk mengunjungi Kuya jika aku di sana lama", ujar tante Mery penuh permohonan.
" Pasti tante, tentunya saya akan mengunjungi tante sekalian hanimun dong!", Arjuna terkekeh agar suasananya tidak sedih ia tidak mau istrinya menangis meskipun Arjuna juga tahu jika Mutia memang sangat menyayangi Ibu Meri.
" Iya bagus itu, Ibu setuju nak", jawab Bu Meri.
" Semangat ya Tante Mery kita mendoakan semua", ujarku Aryanti dengan tersenyum memberikan dukungan kepada bu Meri.
" Terima kasih kami pamit dulu".
" Sudah ya kami pulang dulu soalnya kami akan bersiap-siap supaya besok Ibu tidak kecapean", suami tante Mery pun kemudian mendorong kursi roda pemerintahan meninggalkan Resto tersebut untuk segera pulang.
" Iya iya maafkan Bunda ya, Bunda sudah tidak menangis lagi kok!".
" Ternyata Bunda cengeng ya", ujar Arjuna pada Hilmi.
" Bunda tidak cengeng ayah, Tapi Bunda menangis karena sayang sekali sama oma", maksud hati Arjuna hendak mengajak putranya bercanda agar istrinya tidak sedih tetapi dengan kepolosan bocah itu malah membela sang Bunda.
" Iya Ayah tahu, ayo kita bergabung ke meja makan lagi".
" Sayang malam ini Hilmi tidurnya sama kakak cancel lagi ya", Arjuna berbicara pelan pada putranya.
" Iya Ayah, dari kecil Hilmi itu sudah bobok sendiri".
" Oh ya, jadi Hilmi dari kapan tidur berpisah dengan Bunda?".
" Dari usia 3 tahun Ayah, kata bunda anak laki-laki tidak boleh tidur terus bersama bunda", jawab Hilmi.
" Iya bagus".
__ADS_1
" Tapi besok pagi Ayah harus ajak Hilmi berenang ya di kolam renang hotel".
" Siap, besok pagi bangunin Ayah ya kita berenang bersama".
" Iyaaa", jawab Hilmi penuh keceriaan.
" Besok pagi-pagi sekali bangunin Ayah kamu gedor pintunya yang keras ya, pasti ayah kamu belum bangun", kali ini Tristan yang berbicara nyeletuk ke pada Hilmy.
" Ayah bangunnya jangan siang-siang nanti keburu panas berenangnya".
" Yang bangunnya siang itu om Tristan Hilmi, kalau ayah si tidak akan ada Bunda, mulai malam ini Ayah tidurnya bareng Bunda jadi tidak bakal kesiangan karena dibangunin sama Bunda".
" Iya betul itu om Tristan, Ayah nggak bakalan kesiangan soalnya tidurnya sama Bunda, Bunda itu tidak pernah kesiangan".
" Bunda tidak pernah kesiangan jika tidurnya sendiri, jika tidurnya bareng dengan ayah kamu mereka berdua pasti bangunnya siang", jawab Tristan lagi seraya cengengesan.
" Jangan aneh-aneh bicara sama anakku!", ujar Arjuna dengan wajah datarnya.
" Kita lihat besok bos pasti bos kesiangan bangunnya", Tristan tambah cengengesan.
" Sudah minum jamu kuat belum bos, jika belum sini saya belikan mumpung masih sore nih nanti keburu tutup apoteknya", Tristan terbahak lebar mengerjai bosnya tersebut.
" Haissttt.... S***n kamu ya, Apa kamu mau menggoda aku, meragukan kekuatanku, tanpa obat yang begituan aku kuat bahkan sampai pagi", jawab Arjuna dengan wajah menyebalkannya.
" Masak? Kok ga yakin ya! Hahaa", Tristan terbahak lebar.
Dugg
" Aaowww", cerita Tristan membuat beberapa anggota keluarga menoleh memperhatikan tingkah mereka berdua.
Arjuna menendang kaki Tristan dengan cukup kuat.
" Sakit bos!", Tristan mengusap betisnya yang kena tendangan maut oleh bos-nya.
" Yang ada kamu yang meragukan, lihat disenggol kakinya sedikit saja sudah menjerit-jerit begitu, loyo dasar!", tempat Arjuna dengan menyorot mata tajam kearah Tristan.
" Bukan loyo bos, tapi ini sakit sekali, tendangan bos meretakkan tulang kering ku rasanya", jawab Tristan dengan wajah bersungut menahan sakit.
Bersambung ...
__ADS_1