
Hari ini pernah diadakan meeting mengenai bukaan atau peresmian sekolah SLB yang dibangun oleh perusahaan Arjuna yang bekerjasama dengan perusahaan tempat kerja Mutia.
Seperti biasa Mutia datang beserta dengan Pak Jodi untuk menghadiri meeting tersebut agar tidak ketinggalan informasi.
Entah keinginan Arjuna atau memang setingan dari Tristan yang membuat tempat duduk Mutia kali ini berhadapan lurus dengan Arjuna.
Sehingga seringkali Mutia menjadi kikuk karena mendapati Arjuna yang selalu menatap dirinya dengan intens.
Bahkan saat mereka istirahat makan pun Arjuna tak lepas menatap Mutia hingga hampir saja Mutia tersedak dan secara otomatis Arjuna yang memang mengambil tempat duduk di dekat dengan Mutia langsung menyodorkan air mineral untuk Mutia minum.
" Terima kasih pak", ujar Mutia gugup sambil menerima air mineral tersebut.
" Hati-hati!", Arjuna berkata setengah berbisik didekat Mutia.
Mutia hanya bisa mengangguk ragu danjuga grogi yang luar biasa.
Siapapun yang melihat interaksi antara Mutia dan Arjuna pun bisa menyimpulkan jika arjuna pernah menaruh hati pada Mutia.
" Bu Mutia pelan-pelan saja makannya bu", suara Tristan sedikit agak keras dengan bibir tertawa seperti tengah mengejek Mutia.
" Berisik kamu tuh! ", ucap Arjuna sinis, dia tahu maksud ucapan sekretarisnya itu adalah untuk mengejek dirinya.
" Makanya jangan di pantengin terus kasihan tuh sampai tersedak!", jawab Tristan tak kalah sinis.
" Jangan berisik!", kali ini wajah Arjuna terlihat lebih galak dari sebelumnya dengan tatapan tajam seakan ingin menghujam mata Tristan.
" Iya bos maaf!", akhirnya Tristan mengalah, jika sudah begini ini aura marah dari bosnya ini terlalu kelihatan.
Mutia tidak memperdulikan interaksi orang yang duduk di sebelahnya ini dan sekretarisnya, melihat mereka tengah berdebat kesempatan bagi Mutia untuk melanjutkan makannya tanpa pantengin terus oleh Arjuna.
" Saya permisi dulu Pak, Maaf mau ke Mushola dulu", Mutia beranjak pergi Dan berpamitan kepada Arjuna serta Pak Jodi yang telah duduk di sebelah nya.
" Oh ya silakan Bu Mutia hati-hati nanti saya juga akan ke mushola setelah ini", jawab Pak Jodi.
Melihat mutiara yang beranjak pergi untuk ke mushola Arjuna pun kemudian melirik sinis pada Tristan.
" sholat Kamu tuh!", ujar Arjuna galak kepada Tristan.
__ADS_1
" Halaahh... sok bijak kaya yang suka sholat saja!", jawab Tristan dengan wajah dongkol.
Arjuna yang diketahui oleh Tristan seperti itu hanya melotot tajam.
Sebetulnya Tristan tahu jika bosnya ini sekarang memang rajin sholat bahkan Arjuna sesekali melaksanakan puasa sunah.
namun mengingat yang dulu-dulu memang Arjuna dulu jarang sekali sholat boleh dibilang hanya jika salat Jum'at saja.
" Ngacau kamu!!, dari dulu aku juga sering sholat.... Magrib sama jum'at ", ujar Arjuna dengan wajah dingin.
Terang saja ucapan Arjuna tadi langsung membuat Tristan terbahak lebar, membuat orang-orang yang masih di situ ikut memperhatikan interaksi antara bos dan sekretaris tersebut meskipun hanya tinggal beberapa orang, karena yang lain sudah pergi meninggalkan ruang makan perusahaan tersebut.
" Heh!!! jangan lebar-lebar tertawanya antar lalat masuk ke mulut kau!", dengan wajah yang sangat terlihat kaku Arjuna berucap ada di gedongkolan di sana.
Kontan saja Tristan langsung tutup mulut rapat rapat.
" Apa lo kesedak cicak!", Ujar Arjuna sarkas.
" Nih minum!", Arjuna kemudian menyodorkan air mineral sisa miliknya dan kemudian beranjak pergi hendak ke Mushola juga.
Tak melihat keberadaan Mutia akhirnya Arjuna pun melaksanakan sholat nya barulah setelahnya akan mencari keberadaan Mutia kembali.
Namun hingga selesai Arjuna tak menemukan Mutia bahkan hingga melanjutkan meetingnya kembali tak nampak Mutia berada di ruangan itu.
" Lho! Mutia ke mana Pak?", tanya Tristan kepada Pak Jodi, dia tahu sebenarnya Arjuna penasaran ingin bertanya hanya saja sepertinya dia mempertimbangkan sesuatu sehingga Tristan berinisiatif untuk bertanya pada Pak Jodi.
" Oh, Rio tadi pamit pada saya jika akan pulang cepat karena ada saudaranya yang sakit", jawab Pak Jodi.
" Saudara? bukankah beliau tak memiliki saudara di kota ini?", sahut Tristan kemudian.
" Saya kurang tahu pak Tristan, beliau tadi pamit kepada saya jika Omanya Hilmi masuk rumah sakit".
Arjuna nampak manggut-manggut kenapa HAM yang dimaksud Mutia dengan rumahnya Hilmi pasti tidak lain dan tidak bukan adalah Bu Meri.
" Oke Terima kasih Pak jadi mari rapat siang ini kita lanjutkan kembali", Tristan tidak mau buang-buang waktu kemudian melanjutkan meeting mereka.
Ternyata diam-diam Arjuna mengirimkan pesan pada Mutia dan menanyakan sesuatu mengenai kepulangannya tersebut.
__ADS_1
" Kenapa kok pulang cepat? Siapa yang sakit?", pesan terkirim dari Arjuna untuk Mutia.
Tak ada balasan bahkan belum juga dibaca oleh Mutia namun nampak ceklis 2 masih berwarna hitam.
Arjuna sudah gelisah hingga kurang begitu fokus dengan meetingnya kali ini
Rasa penasaran atas siapa yang sakit belum juga dijawab oleh Mutia bahkan hingga hampir tiga jam pesan itu terkirim.
Ting
Bunyi sebuah notif masuk ke ponsel Arjuna dengan cepat ia menyambar ponselnya dan melihat dari siapakah gerangan pesan tersebut berharap banyak itu adalah pesan dari Mutia.
" Ibu Meri Pak, Omanya Hilmi tantenya Mas Aldi", Mutia memberikan jawaban dengan sangat jelas agar Arjuna tidak salah paham.
Namun Entah mengapa setelah membaca isi pesan tersebut hati Arjuna bukannya tenang tetapi malah menunjukkan wajah yang tidak terlihat senang,
" Ck! , ke Aldi saja manggilnya Mas, giliran ke saya yang jelas-jelas ayahnya Hilmi manggilnya Pak, Huh! menyebalkan!", kerudung Arjuna dengan wajah yang ditekuk terlihat sangat kesal.
" Pesan dari siapa?", Tristan bertanya dengan wajah penuh selidik, jiwa kekepoan nya langsung meronta ingin mengetahui apakah gerangan yang membuat wajah bosnya tertekuk.
" Apaan sih, jangan suka kepo!", sinis Arjuna.
" Habisnya dari tadi bos nggak konsentrasi saat meeting, begitu gelisah", ujar Tristan yang memang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik bosnya tersebut.
" Sudah aku sedang sibuk jangan diganggu dulu", Arjuna mengangkat tangannya kemudian memberi saran seperti orang yang tengah mengusir Tristan untuk menjauhinya.
" Ck!, yaelah... diusir kan cuma nanya gitu doang!", foto Tristan sambil menghindari dan menuruti titah bosnya tersebut.
Dengan cepat Arjuna kembali mengetik balasan untuk Mutia.
" Dirumah sakit mana? Boleh aku menyusul mu untuk menjenguk omanya Hilmy?", Balas Arjuna kembali.
Arjuna mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja menunggu balasan kembali dari Mutia dengan gelisah.
" *Sebaiknya jangan dulu karena Bu Mery belum siuman pak, Beliau tadi pingsan sehingga baru di observasi tentang penyakitnya, mungkin jika bapak ingin menjenguk besok saja", Balas Mutia panjang lebar, mencari alasan agar Arjuna tidak datang ketempat itu dulu, bisa gaduh nantikeluarga bu Meri.
Bersambung*.....
__ADS_1