
Saat jeda istirahat makan siang Mutia dan Pak Jodi memilih makan di kantin perusahaan itu karena waktu yang diberikan hanya 1 jam sehingga Pak Jodi dan Mutia memilih jarak terdekat untuk mencari makanan serta melaksanakan salat dhuhur.
Dan saat tengah makan itu Mutia mendapatkan telepon dari Bu Mery yang mengabarkan jika Aldiano dan Luna sudah sampai di negeri ini.
Mereka berdua ingin bertemu dengan Mutia dan Hilmi sehingga Bu Meri meminta waktu pada Mutia dan Hilmi jika sempat untuk main ke rumah Bu Meri dan membuat janji dengan Aldiano dan lunak serta kedua putrinya.
" Atur saja bu insya Allah weekend aku ada waktu nanti saya nginep di rumah Ibu beserta Hilmi", jawab Mutia sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
" Maaf Pak barusan itu Ibu saya, menyuruh saya untuk ke rumahnya", ujar Mutia yang tidak enak hati karena menerima panggilan telepon di hadapan Pak Jodi.
" Oh, Tidak apa-apa Mbak Mutia memang kita harus selalu menyempatkan untuk mengunjungi orang tua selagi orang tua kita masih sehat".
" kebetulan saya sudah tidak memiliki orang tua Pak Jodi dan beliau ini adalah seorang ibu dewa penolong hidup saya yang sudah saya anggap sebagai orang tua".
" Oh maaf, kalau begitu gunakan kesempatan itu sebaik mungkin Mbak Mutia untuk menyayangi beliau dan membalas jasanya".
" Iya Pak saya sangat menyayanginya begitupun dengan Hilmi benar-benar beruntung merasa memiliki Oma yang sesungguhnya".
" Nerarti Allah telah mengirimkan wanita baik hati itu sebagai pengganti orang tua Mbak Mutia anggaplah mereka juga orang tua Mbak Mutia yang sebenarnya nya".
" iya pak".
" Mari Mbak kita tunaikan kewajiban dulu baru setelahnya kita kembali ke ruang rapat".
" Iya Pak mari".
Ternyata sepanjang aktivitas Mutia baik di dalam ruangan rapat maupun di kantin tidak lepas dari pengawasan Arjuna meskipun Arjuna memilih untuk makan siang di ruangannya nya di depan matanya terpampang nyata melalui CCTV yang menyorot langsung ke meja tempat Mutia menikmati makan siangnya.
" Bos, ingat Ibu Kania yang sedang di rumah dengan Sheila jangan pantengin wanita lain biar dia buat aku saja bos", ujar Tristan ketika melihat Arjuna yang tidak pernah melepas pandangannya pada layar komputer di hadapannya.
" Ngomong apa kamu itu Tris", Arjuna kemudian menyuapkan makanan nya ke dalam mulut dia seperti tidak begitu selera namun harus makan.
" Makanya dihabiskan bos, sayang nanti mubazir", Tristan memperingatkan bosnya yang terlihat ogah-ogahan untuk menyuap makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
" Tris, sepertinya aku mulai tertarik dengan ibunya anakku", Ujar Arjuna tiba tiba membuat Tristan menghentikan makannya karena merasa bingung.
" Ya baguslah jika bos semakin cinta sama bu Kania", Ujar Tristan meski hatinya juga binging mau mrnanggapi apa atas ucapan bosnya itu.
" Ibunya anakku bukan Kania Tris, jangan bilang kamu lupa dengan segala cerita masa laluku!", Arjuna menatap Tristan sinis.
" Jadi.....???, Waahhh.... bahaya bos, itu tidak benar.... kita sedang butuh dana besar bos untuk proyek hotel kita, jangan sampai ya, proyek kita ini mangkrak ditengah jalan hanya gara gara para investor mundur teratur karena skandal bos... plis bos!!", Tristan menyedekapkan kedua tangannya didada seraya memohon.
" Skandal? Pikiranmu terlalu jauh Tris... ", Tatapan Arjuna semakin tajam pada Tristan.
" Oh, jadi.... siapa lagi ibu anak anda bos, wanita yang mana lagi?", Tanya Tristan merasa bingung dengan maksud bosnya.
" Pikiran mu Tris .. benar benar... Huhhff", Arjuna melempar tisu bekan untuk mengelap mulutnya pada Tristan.
" Lho salahnya dimana saya bos, kan wanita disisi bos hanya bu Kania, dan yang baru bos ketahui jika ada wanita yang melahirkan putra bos ya bu Mutia, terus mantan bos bu Luna, ada lagi?", Tanya Tristan sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal.
" Tris.... Aku tidak tahu perasaan apa ini, tetapi jika melihat bu Mutia hatiku merasa senang, malu, menyesal, merasa sangat berdosa, merasa iba, rasanya ingin memberi yang terbaik untuk mereka tetapi ada rasa yang jauh dari itu yakni matanya, senyumnya, suaranya, gerak geriknya semua memenuhi pikiranku Tris", Arjuna menghela nafas panjang sebelum akhirnya melihat gambar di layar laptopnya.
" Haisssttt kamu ini, aku juga tidak akan gegabah Tris, ga usah sekhawatir itu!", Arjuna melengos mendapati reaksi sekretarisnya yang di rasa sangat berlebihan.
" Ya maaf bos, siapa yang tidak khawatir coba, proyek baru akan dimulai tetapi bau bau skandal sudah terasa, saya tidak mau apes lah bos", Ujar Tristan memelas.
" Sudah rapiin ini, atau panggil OB sana", Arjuna melangkah menuju kursi kebesarannya kembali untuk melepas jas nya dan menuju kamar mandi.
Sementara itu Mutia dan pak Jodi telah selesai menunaikan kewajiban kemudian berjalan kembali menuju ruang meeting karena memutuskan untuk menunggu disana saja agar tidak terlbat jika meeting krmbali dimulai.
Saat sampai di ruang yang dituju Mutia berniat menelpon Hilmy melalui pengasuh di daycare nya.
" Halo assalamualaikum", siapa mutiara mah pada pengasuh daycare Hilmy.
" ya waalaikumsalam Ibu, sebentar saya panggilkan Hilmi nya", pengasuh itu pun berjalan menuju tempat Hilmi yang kini tengah memakan bekal makan siangnya.
" Assalamualaikum kesayangan bunda".
__ADS_1
" Waalaikum salam bunda, Hilmy sedang makan".
" Oh pinter, dihabisin ya, dan tidak boleh nakal nanti saat waktunya istirahat bobo harus bobok siang ya, tidak boleh berkeliaran di luar kasihan suster nya nanti capek nyariin Hilmi".
" Iya Bunda, Bunda lagi ngapain Sudah makan belum".
" Lagi duduk mau memulai rapat kembali Bunda baru saja selesai makan siang HIlmi salat ya jangan lupa".
" Iya Bunda, dadah Bunda Hilmi mau cuci tangan dulu".
" dadah juga kesayangan bunda Assalamualaikum".
" Waalaikumsalam", sambungan itu pun kemudian dimatikan oleh Mutia.
Saat Mutia mematikan ponselnya tidak lama kemudian menjualnya kembali bergetar di sana menampakan nama Irfan ternyata yang menghubunginya.
" Pak Saya permisi sebentar Pak mau angkat telepon nanti saya segera kembali", pamit Mutia pada Pak Jodi.
Pak jadi pun mengangguk dan mempersilahkan dan Mutia dengan segera menggeser tombol hijau sambil berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
" Hallo, Assalamualaikum Mas Irfan, apa kabar?", siapa Mutia begitu terdengar suara dari seberang telepon tersambung.
" Waalaikumsalam kabarku baik, kabarnya di situ bagaimana?", tanya Irfan senang.
" Alhamdulillah kabar kami sehat semua saat ini saya sedang berada di PT AMM untuk mengikuti meeting perencanaan pembangunan hotel, proyek di sana gimana?", tanya Mutia balik.
Saat Mutia sedang berdiri di lorong menerima panggilan telepon dari Irfan saat itu juga Arjuna melintas di depannya menuju ruang meeting.
-
-
Bersambung....
__ADS_1