
" Aku sudah mengikhlaskan semuanya, justru dengan takdirku akhirnya Hilmi bisa mengenal setidaknya tiga lelaki dalam hidupnya, ada Mas Aldi, Pak Arjuna dan juga dirimu mas", macam model seraya tersenyum kembali.
" Ditambah juga dengan kakeknya Pak Abdul, Mas yakin sekali jika Pak Abdul sangat menyayangi Hilmi lebih dari apapun".
" Ya".
" Assalamualaikum", sabar Evan setelah mereka sampai di rumah kedua orang tuanya.
" Hilmy ini rumah Oom Irfan ayo ajak Bunda masuk, kita ketemu Oma dan Opa", ajak Irfan pada Hilmi dengan lembut.
" Iya Oom".
" Waalaikumsalam", seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sapaan sangputra yang baru saja datang dari undangan.
" oh!, mari masuk!", ibu Dian, ibunya Irfan menyuruh mutiara untuk masuk ke dalam rumahnya ada senyum tipis namun terlihat sangat kaku.
" Terima kasih Bu", jawab Mutia lembut dan sopan.
" Silakan duduk dulu saya panggilkan bapaknya Irfan dulu", ucap Bu Dian seraya melenggang meninggalkan mereka.
" biar saya saja bu yang panggil bapak, Ibu di sini saja", ucap Irfan.
" Oh tidak usah biar Ibu saja", bu Dian pun tetap melanjutkan arah jalannya menuju ke belakang rumah mereka.
__ADS_1
Sementara itu Irfan mempersilahkan Mutia dan Hilmi untuk duduk di ruang tamu.
" Kalian mau minum apa? yang dingin atau panas?", tanya Irfan.
" Apaan sih mas kayak tamu istimewa aja", jawab Mutia dengan tersenyum tipis, hatinya masih Bunda dan dagdigdug belum tenang karena belum berbicara banyak pada orang tua Irfan.
" Air putih aja Om yang kemasan juga nggak apa-apa", jawab bocah itu polos.
" Baiklah jagoan tunggu di sini ya", Irfan pun beranjak untuk mengambilkan air minum untuk Hilmi dan Mutia.
Sementara itu di belakang rumah Bu Dian tengah berbicara dengan suaminya yaitu Bapak Joko.
" Pak!, di depan ada tamu calon mantu kamu tuh! Irfan membawa pulang janda itu dengan anaknya", ucap Bu Dian nampak tidak bersahabat dengan wajah yang terlihat penuh kekecewaan saya akan mencurahkan rasa hatinya pada sang suami.
" lah itu Pak nyatanya, janda itu dibawa pulang serta anaknya pula sudah gede Pak anaknya sepertinya sudah lima tahunan, nasehatin Pak ngeyel bocah itu", Bu dia nampak bersungut-sungut berbicara dengan suaminya.
" ya sudah kita temuin saja, kita sampaikan pada perempuan itu jika kita tidak memberikan Restu, Bapak sudah menyekolahkan Irfan dengan susah payah kok malah sudah kerja encernya janda kalau masih bisa dihindari sebelum mereka nikah ya usahakan dulu lah mereka untuk berpikir kembali", kerudung Pak Joko seraya berjalan menuju ke ruang tamu tempat Mutia duduk menunggu.
" We lha.... ada tamu Assalamualaikum", siapa Pak Joko pada Mutia basa-basi.
Mutia pun berdiri dan kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami bapaknya Irfan pun demikian dengan Hilmi bocah itu dengan sopan pun menyapa ayah dari Om Irfan nya.
" Waalaikumsalam pak", jawab Mutia seraya tersenyum.
__ADS_1
" Mbak ini siapa namanya dan Adiknya juga siapa?", tanya Pak Joko basa-basi yang sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Bu Dian sementara Irfan dengan wajah cemas menatap wajah kedua orang tuanya.
" saya Mutiara Pak temen kerja Mas Irfan sekaligus teman dekatnya dan ini putra saya namanya Hilmi", jawab Mutia seraya tertunduk.
" oh teman kerja, teman dekat di tempat kerja kan bukan berhubungan spesial? wah Maaf maksud saya apa kalian menjalin hubungan seperti pacaran begitu bahasa anak muda zaman sekarang?", meskipun pertanyaan itu basa-basi namun diucapkan Pak Joko dengan serius Karena sejujurnya dia ingin jawaban itu dari Mutia.
" iya begitulah Pak, Mutia ini adalah perempuan yang menjadi pilihan hati saya", sahut Irfan dengan menatap kedua orang tuanya.
" Oh jadi ini Mutia perempuan yang pernah kamu ceritakan sama bapak dan ibu?", sahut Bu Dian.
" Iya Bu".
" Maaf mbak Mutia Bapak ingin tahu lebih jauh mengenai Mbak Mutia maaf karena pernyataan Irfan barusan menyatakan jika Mbak Mutia ini adalah pacarnya anak saya jadi saya ingin tahu kejelasannya tentang Mbak Mutia", ujar Pak Joko.
" Iya Pak, Bu, nama saya mau Tiara Andini Saya bekerja di tempat kerja Mas Irfan, kebetulan kami satu bagian, saya yatim piatu dulu saya hidup dengan nenek saya namun sudah lama beliau meninggalkan saya dan akhirnya saya sendiri saya berasal dari kampung Pak, Ibu saya sudah meninggal saat saya masih SMP dan Bapak saya menyusul 1 tahun kemudian, kebetulan saya hanya anak tunggal jadi saya tidak memiliki keluarga lagi, dan yang lebih penting saat ini saya seorang janda beranak satu ini putra saya Pak Hilmi berusia 5 tahun, karena sesuatu hal saya janda cerai Pak", ucap Mutia kemudian tertunduk tangannya gemetar kakinya terasa lemas menanti reaksi dari kedua orang tua Irfan.
" Maaf mbak Mutia jika hal ini harus saya sampaikan, Saya senang bisa mengenal Mbak Mutia, teman kerja anak saya tapi begini ya Mbak!, satu hal yang harus dimengerti mungkin antara Irfan anak saya dan Mbak Mutia, Irfan ini anak laki-laki saya satu-satunya saya menyekolahkannya dengan susah payah Karena saya hanya seorang petani yang menyambi menjadi guru SD, Harapan saya sangat tinggi dengan putra saya ini dan telah lama saya kagum dengan mbak Mutia namun maaf maaf karena hubungan Dua insan itu jika ingin berlanjut harus mendapat restu dari orang tua tetapi sepertinya ibunya Irfan ini nggak sreg dengan mbak Mutia, bukan apa-apa mbak maaf sekali lagi bukan saya merendahkan status mbak Mutia, tapi ibunya Irfan mengharapkan Irfan mendapatkan perempuan yang masih gadis", kata-kata Pak Joko yang teramat terus terang seperti menghantam dada Mutia begitupun dengan Irfan yang langsung terlonjak kaget bahkan nafasnya sekarang sudah naik turun menahan emosi karena perkataan dari bapaknya.
" Paakkk", suara Irfan tercekat nafasnya tetap naik turun menahan emosi yang bergejolak di dadanya diliriknya wajah Mutia yang terlihat tersenyum tipis namun sangat terlihat dipaksakan.
" Terima kasih Pak atas kejujuran bapak, Saya menyadari dengan status saya, dan juga saya paham sekali dengan Restu orang tua, baiklah Pak saya mengerti dengan pendapat Ibu, saya terima, Maaf jika saya telah menyakiti hati ibu dengan menjalin hubungan dengan putra ibu, Sekali lagi maafkan saya ya Bu ya pak", Mutia menganggukkan kepala dan menatap kedua orang tua Irfan wajahnya mengisyaratkan rasa bersalah.
" Bapak, ibu! Tolong tolong mengerti perasaan Irfan dan Mutia, apa yang salah dengan kondisi status Mutia, aku yang menginginkannya Pak Bu, tolong restui kami", Irfan berkata-kata dengan kedua orang tuanya bahkan dengan wajah yang memerah serta permohonan yang amat sangat.
__ADS_1
Bersambung ....