PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
kopi asin


__ADS_3

" Mutia!".


suara seseorang memanggil lantang nama Mutia setelah mobil Jihan baru saja meninggalkan halaman parkir dan Mutia ndak menuju motornya yang hendak ia kendarai pulang kerja ini.


Mutia pun refleks menoleh dan mencari kearah sumber suara.


" Mutia!".


suara itu pun lantang kembali memanggil nama Mutia.


Mutia bisa melihat kaki jenjang melangkah dengan tergopoh mendekati dirinya.


" Pak Arjuna!, untuk apa bapak sampai harus menyusul saya ke tempat kerja, bukankah biasanya bapak akan menjemput Hilmi di sekolahnya saja?", Mutia pun mengerutkan keningnya merasa penasaran dengan tingkah lelaki yang kini sudah berdiri menjulang di hadapannya tersebut, yang tiga hari lalu melamarnya melalui Bu Meri.


" Ayo kita pulang bareng, tinggalkan saja motormu di sini", ucap Arjuna tanpa menjawab pertanyaan Mutia yang tengah penasaran.


" Ah, pulang bareng? Duh Maaf Pak sepertinya saya tidak bisa, saya merasa sungkan dan.. dan.... ", Mutia tidak melanjutkan kata-katanya takut nanti kata-katanya itu malah menyinggung Arjuna lebih baik Mutia berpikir sejenak untuk memakai kata-kata yang sekiranya tidak akan menyinggung pria dihadapannya ini.


" Kenapa, kamu tidak mau? ini hanya ajakan biasa Mutia jika kamu ingin menolak lamaranku tidak masalah kok aku juga tidak memaksamu namun biarkanlah aku menjemputmu kali ini kita bisa bicara kan semuanya nanti di rumah kamu", ujar Arjuna dengan cepat karena melihat Mutia terlihat sangat sungkan dan kikuk di hadapannya.


" kalau begitu silahkan Bapak duluan dengan mobil bapak dan saya naik motor saja", jawab Mutia pada akhirnya.


" Kenapa takut besok jika mau berangkat bekerja bingung mau naik apa, besok aku jemput dan aku antar ke tempat kerjamu ini, aku akan bertanggung jawab karena telah mengajak mu naik mobil saat ini", ujar Arjuna.


" Saya tetap akan naik motor jika Bapak ingin bicara dengan saya silakan bapak naik mobil nanti saya tunggu di rumah saja ", Mutia tetap bersikeras tidak mau menaiki mobil dengan Arjuna dan lebih memilih menaiki motornya sendiri.


" Oke jika begitu hati-hati", Ujar Arjuna yang kemudian pasrah dan mengikuti kemauan Mutia.


" Silakan naik motor duluan aku mengikutimu dari belakang, Oh ya Hilmi sudah di rumah menunggumu aku tadi sudah menjemputnya", mendengar Arjuna berbicara seperti itu dengan cepat Mutia pun kemudian bersiap menaiki motornya dan menlajukannya untuk kembali ke rumah.


Melihat Mutia sudah melajukan motornya Arjuna pun mengikuti Namun karena kendaraan mereka berbeda tentulah Mutia tidak bisa dikejar oleh Arjuna dan kesempatan itu Arjuna pergunakan untuk mampir dulu ke sebuah kios buah juga ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa buah-buahan dan juga minuman serta bahan makanan.


Hanya butuh waktu 20 menit Mutia sudah sampai rumah.


Di rumah sudah ada Hilmi yang nampak sudah mandi dan segar tengah menonton televisi.

__ADS_1


" Assalamualaikum jagoan Bunda", siapa Mutia ketika memasuki rumah kemudian memeluk putranya dengan gemas.


" Waalaikumsalam Bunda, lihat Hilmi Sudah mandi tadi dimandikan sama ayah", celoteh bocah itu menyambut kedatangan bundanya.


" Owh, kirain Bunda mandi sendiri".


" Tadi ayah jemput Hilmi ke sekolah terus ayah nganter pulang terus dimandiin terus kata ayahnya mau jemput Bunda, kok Bunda nya pulang sendiri?", tanya bocah itu yang melihat bundanya masuk seorang diri dan belum terlihat mobil ayahnya yang terparkir di halaman.


" Iya bunda tetap naik motor soalnya besok pagi kan Bunda harus berangkat kerja pagi nanti kalau nggak ada motor bunda bingung", Terang mutiara pada putranya.


" O iya!, jadi Ayah ngapain jemput bunda kalau ujung-ujungnya Bunda tetep naik motor sendiri", bocah itu pun berceloteh sendiri namun Mutia tetap bisa mendengarnya.


Mendengar celotehan anaknya Mutiara hanya tersenyum.


" Bunda mandi dulu ya, gerah!", Mutia dengan cepat segera membersihkan tubuhnya sebelum Arjuna sampai rumah.


Hilmi kembali duduk anteng di depan televisi seraya menunggu bundanya mandi.


Hingga hampir 20 menit kemudian ada Juna baru sampai di rumah kosan Mutia.


" Waalaikumsalam ayah, wah Ayah bawa apa itu? kok katanya jemput Bunda kok pulangnya sendiri sendiri sih!", protes Hilmi pada akhirnya.


" Bundanya tidak mau naik mobil ayah, maunya naik motor saja", jawab Arjuna seraya menaruh dua kantong tentengannya di atas meja makan.


" Beli apa sih Ayah banyak benar?", Hilmi mendekat kearah meja makan tanpa di mana Arjuna meletakkan kantong belanjaan nya.


" Ayah beli beberapa buah kamu mau?", tanya Arjuna.


" Mau apel kalau ada Ayah". jawab Hilmi.


" Ada!, sebentar Ayah cuci dulu", Arjuna kemudian membuka kantong berisi buah-buahan dan mencucinya terlebih dahulu dan membawanya ke depan televisi dengan peralatan lengkap ada pisau, piring dan juga tempat untuk membuang kulitnya.


" Bunda sudah sampai rumah kan? terus di mana sekarang kok sepi?", sebetulnya sedari tadi Arjuna sudah hendak mau menanyakan hal itu kepada Hilmi.


" Bunda langsung mandi, paling bentar lagi udahan ayah", jawab Hilmi dengan wajah sumringah karena Arjuna membelikan buah apel kesukaannya.

__ADS_1


" Owh!".


" Yang kantong satu lagi isinya apa Ayah?", tanya bocah itu penasaran dengan 1 kantong yang belum sempat dia intip.


" Owh, itu ada minuman ada roti ada donat dan camilan lainnya, kamu mau ambil sana yang kamu suka", titah Arjuna.


Dengan cepat Hilmi pun berlari menuju meja makan untuk melihat belanjaan di satu kantong yang tadi belum Iya intip.


" Asiiiik... Hilmi mau donat nya ya Ayah', dengan tergopoh-gopoh Hilmi membopong satu kotak yang berisi donat ke depan televisi.


" Boleh, ambil yang kamu suka". Arjuna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putranya.


" itu Bunda", Hilmi menunjuk pada mutiara yang tengah berjalan ke arahnya.


" Mau aku buatkan kopi Pak?", ujar Mutia sedikit canggung pada Arjuna.


" Boleh", Arjuna menjawab dengan tersenyum manis pada Mutia.


Mutia kemudian mengangguk mengiyakan dan kemudian menuju dapur.


" Apa sih tadi dia tersenyum manis begitu, rupanya Pak Arjuna Sudah berani tebar pesona kepadaku mungkin dia kira ku akan memohon menerima lamarannya kali", Mutia bermonolog sendiri di dapur dengan suara yang sangat lirih merutuki keadaan jantungnya yang tidak kondusif saat ini.


Mutia menyiapkan sedikit air untuk direbus untuk membuatkan kopi Arjuna.


Seakan tidak konsentrasi dengan apa yang telah dikerjakan Mutia terus saja merutuki suara gemuruh yang terdengar dari dalam dadanya.


" Silakan diminum", Mutia memberikan satu cangkir kopi itu di hadapan Arjuna.


" Terima kasih Bunda", jawab Arjuna kembali dengan tersenyum manis.


" Habiskan apelnya yang sudah dikupas nak, Bunda mau buah atau roti?", Tanya Arjuna.


" Saya minum ya bun kopinya".


" Huuhhh.... kok asin", suara Arjuna lirih takut didengar oleh yang membuat kopi, bukan apa-apa rasanya Arjuna ingin menahan nya untuk terus diminum, cuma ini terlalu asin.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2