
" Aduuhhh... yang pulang hanimun wajahnya cerah sekali, tambah glowing kinclong gimana gitu berseri-seri", goda Jihan pada Mutia saat memasuki ruang kerjanya.
Ya, sehari setelah kepulangan Mutia dan Arjuna dari negeri kincir angin Mutia kembali masuk kerja.
" Apa sih Mbak, pagi-pagi juga sudah menggodaku ya ", jawab Mutia tersipu malu.
" Kan biar dapat oleh-oleh banyak ha ha", Jihan terkekeh lebar.
" Siap deh, tapi yang nggak banyak-banyak juga ya mbak, nanti yang lain tidak kebagian", jawab Mutia dengan tersenyum.
" gimana Mbak selama nggak ada aku, semua lancar kan nggak ada peristiwa apa-apa?".
" Untuk masalah pekerjaan Alhamdulillah semua lancar proyek yang kamu kerjakan yakni Hotel milik suamimu untuk saat ini selama kamu cuti menikah dan honeymoon di-handle oleh Irfan dan Pak Jodi tentunya", jawab Jihan.
" Alhamdulillah syukur jika begitu, soalnya hmm... ", Mutia menghentikan ucapannya matanya menatap langit-langit kantor nya sambil menerawang kan pandangan.
" Kenapa? mau resign ya, tidak apa-apa, kami memaklumi, secara status kamu kan sekarang istri bos besar menantu dari keluarga Muiz sudah pasti kamu tidak diizinkan bekerja ya?", Jihan mencoba menebak Apa yang kini tengah dipikirkan oleh Mutia.
" Bukan seperti itu Mbak, lebih tepatnya Mas Arjuna menginginkanku membantu dia saja jika pun aku harus bekerja karena dia menginginkan Hilmi segera mendapatkan adik mengingat Hilmi kan sudah besar juga", ujar Mutia dengan tersipu malu.
" Oya mba, ini untuk Mbak Jihan, ini untuk Mas Irfan mohon maaf tolong nanti berikan kepada yang bersangkutan ya mbak", Mutia memberikan dua buah paperbag yang berisi oleh-oleh darinya saat hanimun untuk Jihan dan juga Irfan.
" lho, kenapa tidak diberikan sendiri saja Mutia, nanti orangnya juga ke sini mungkin saat ini Irfan sedang berada di lapangan", Jihan merasa heran kenapa oleh-oleh untuk Irfan mesti harus dititipkan pada dirinya.
" Tolong lah Mbak, rasanya Mutia canggung sama Mas Irfan, merasa bersalah saja, meskipun ya Mbak Jihan tahu lah ceritanya".
" Ya ya.... belajarlah untuk bersikap biasa saja kepadanya agar dia juga bisa bersikap biasa juga padamu Mutia, perlahan namun pasti perasaan kalian harus kembali normal seperti teman saja kalian harus bisa membuang rasa yang pernah ada", ucap Jihan sedikit memberikan nasehat untuk teman kerjanya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.
" Iya mbak, Mutia sih inginnya seperti itu, tapi ada sedikit rasa bersalah karena pada akhirnya aku lah yang menikah duluan".
__ADS_1
" aku rasa Irfan berhati lapang Mutia meskipun kemarin dia masih sedikit merasa bersedih karena kehilanganmu namun aku tahu Irfan adalah lelaki yang baik sekalipun kamu dan orang tuanya menyarankan untuk menerima Andini tapi kenyataannya Irfan benar-benar merasa tidak cocok dia sudah mencoba dan pada akhirnya Irfan merasa tetap tidak berjodoh dengan Andini".
" Oh, iya sih perkara kecocokan hati memang tidak bisa dipaksakan Mbak, Mutia sangat berharap jika Mas Irfan akan segera menemukan wanita yang baik dan bisa mengerti dirinya dan mencintai Mas Irfan sepenuhnya".
" Aamiin, itu juga harapan Mbak pada Irfan".
" yah sudahlah Saya mau berikan pada yang lain oleh-oleh ini Mbak meskipun hanya sedikit-sedikit, izin dulu keluar sebentar ya mbak", pamit Mutia yang hendak pergi untuk membagikan oleh-oleh Nya kepada beberapa teman yang dirasa cukup dekat dengan dirinya.
🌹
Sementara itu mulai hari ini Arjuna juga kembali aktif bekerja setelah tadi pagi datang ke kantornya untuk menemui Tristan dan sekarang mereka berdua sudah meluncur ke lokasi proyek pembangunan hotel miliknya.
" Bos, mana oleh-oleh untuk saya?", sedari tadi Tristan sudah menahan untuk menanyakan hal itu saat masih di kantor namun pada akhirnya dia baru berani menanyakan itu ketika mereka sudah di perjalanan di dalam mobil.
" Yah kamu kayak anak kecil saja, minta oleh-oleh segala, gak ada, buat kamu tidak ada!", jawab Arjuna Ketus pada sang sekretaris.
" Ga ada bagaimana? mana bisa begitu bos, jangan pelit bos, saya sudah berjuang berminggu-minggu nih menggantikan posisi bos semua kerjaan saya kerjakan sendiri mosok hanya oleh-oleh saja pelit sekali!", jawab Tristan merasa tidak terima karena bosnya tidak ingat dirinya dan tidak membawakan oleh-oleh ketika pulang honey moon.
" ya parfum kek, atau apa begitu jam tangan juga tidak masalah, pasti saya terima dengan senang hati bos", jawab Tristan dengan fokus menyetir.
" Wah, dasar sekretaris gila, ngelunjak lo minta oleh-oleh kok jam tangan, jam tangan mah kalau kamu ulang tahun hadiah itu namanya!", Arjuna melirik sinis pada sang asisten.
" Dasar bos pelit!", Tristan pun membalas ucapan sang bos dengan sinis.
" Bener bener ya!", Tangan Arjuna terangkat keatas dengan polpen yang siap meluncur pada kepala Tristan.
Tristan pun gerak reflek untuk melindungi kepalanya agar selamat dari timpukan bos nya tersebut.
" Yah marah, ampun bos... ampunnn", Tristan pun menundukan kepala dengan tangan yang masih melindingi.
__ADS_1
" Tadi ditanya mau nya apa? Udah di jawab malah marah, terserah bos saja deh,mau kasih apa aja, pasrah mau bunga bank juga ga apa apa deh biar bisa buat nyusul bos... kawin", Ujar Tristan dengan mendengus.
" Nikah!", Seru Arjuna.
" Iya bos! Nah itu maksud saya, Nikah baru kawin he he he iya kan bos", Jawab Tristan cengengesan.
" Hem...!".
" Apa?!, Kamu mau mengolok aku, Iya? Dasar ya!", Arjuna melotot marah pada Tristan.
" Bukan bos, bukan... kok malah tersinggung sih, ya Maaf bos.... loh kan bos juga nikah dulu kan? kenapa marah?".
" Karena kamu brisik!".
" Aowww.... Bos, sakit bos", Tristan menjerit kaget karena pada akhirnya pulpen yang sedari tadi dalam genggaman artinya akhirnya melayang dan tepat mengenai jidatnya dengan kencang.
" Biar nggak berisik pagi-pagi, bikin mood hari ini kurang enak saja, sebentar lagi sampai!", Ujar Aejuna sambil menatap kesamping kaca mobil yang membawanya.
" Iya bos saya tahu, dan selama bos tinggal honeymoon proyek kita berjalan dengan aman dan lancar".
" Ya".
" Parkirnya jangan jauh-jauh Pak cari tempat yang teduh saja, sepertinya saya tidak akan lama di sini hanya mungkin satu jam lebih saja jangan kemana-mana, oke!", ucap Arjuna sebelum turun dari mobil kepada sang driver.
" Iya pak".
" Kita percepat saja tinjauan project hari ini Tris", Arjuna melangkah cepat setelah salah satu mandor menyambutnya dan memberikan helm pelindung dengan segera Arjuna memakainya dan melangkahkan kakinya melihat pada titik-titik yang sedang berlangsung dalam proses pembangunan.
" Wah progresnya lumayan cepat juga ya ini, bagus bagus.... ", Arjuna manggut-manggut puas dengan hasil perkembangan pembangunan hotelnya selama beberapa minggu dia tinggal berlibur.
__ADS_1
Bersambung.....
LAMBAT YA UPDATE NYA.... MAAF, SUSAH BAGI WAKTU... SMG HABIS PUASA BISA LANCAR LAGI UPDATE TIAP HARI...