PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Makan malam yang mengejutkan


__ADS_3

Sebetulnya rasa kecewa itu akan selalu mengingatkan kita tentang rasa sakit itu setiap saat. Apalagi jika itu menyangkut tentang hati dan perasaan yang terdalam tentu akan lebih menyakitkan dari apapun, pasti kenangan sebuah peristiwa yang membuat kecewa itu akan terus tersimpan disanubari terdalam begitupun yang dirasakan Mutiara Aini.


Kecewa, sakit dan malu tetapi tidak bisa bicara untuk mencurahkan rasa, tidak bisa membagi perasaan itu dengan siapapun, selain hanya diam dan menangis sendiri dalam hening dan sepi.


Usianya yang masih 19 tahun, tak ada sanak saudara atau teman yang bisa memberikan suport saat dirinya terpuruk sedemikian dalam membuat trauma tersendiri jauh di dalam hatinya.


Seperti saat ini ketika sebuah undangan makan malam yang mengatas namakan PT AMM denga dirinya disebuah kafe mewah dan di dirinya diperbolehkan datang dengan membawa sang putra semata wayangnya Hilmy.


Ada rasa senang yang membucah namun ada juga rasa takut yang begitu dalam namun entah mengapa Mutia nekat untuk datang meskipun terbersit tanya tanya besar sebelumnya.


" kok sepi?", Mutia melangkahkan kakinya dengan pelan seraya menggandeng sang putra.


" Selamat malam Bu", siapa seorang pelayan yang melihat Mutia celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


" Malam Mbak, Maaf saya mau tanya untuk meeting PT AMM gimana ya Mbak tempatnya?", tanya Mutia masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang yang berada di restoran tersebut.


" Oh itu, atas nama bapak Tristan yang sudah mereservasi ruangan untuk makan malam bersama dengan ibu Mutia ada di lantai atas", jawab seorang pelayan restoran tersebut.


" Terima kasih Mbak saya menuju kesana", jawab Mutia seraya tersenyum ramah.


" iya sama-sama mari silakan Bu".


sesaat kemudian Mutia sampailah di sebuah ruangan yang dimaksud namun masih sepi belum ada siapapun, Mutia pun kembali teringat " sebuah ruangan yang dipesan atas nama bapak Tristan dengan ibu Mutia" maksudnya apa coba perkataan pelayan tadi batin Mutia.


" Mungkinkah Hanya kami berdua? eh bertiga, kan ada Hilmi jagoanku", Mutia pun mempersilahkan sangputra untuk duduk dan kemudian dia pun duduk di kursi sebelahnya.


" Bun kok sepi ya, kita berdua saja di sini makannya Bun?", Tanya bocah itu, sebenarnya pertanyaan itu pun sama dengan yang di benak Mutia.


" Kita tunggu beberapa saat iya nak, nanti akan ada teman kerja Bunda yang makan di sini", jawab mutiara tidak ingin membuat anaknya bertanya-tanya.


" Oo".

__ADS_1


" Duduk yang anteng dulu ya", bocah itu pun manggut mendengarkan kata bundanya.


Hingga waktu 10 menit berlalu kemudian masuklah seseorang yang tidak pernah disangka oleh Mutia akan datang seorang diri ke tempat itu.


" Selamat malam Maaf lama sudah menunggu", suara khas seorang pria membuat Mutia hampir copot jantungnya dan berhenti berdetak.


Dug


Dug


Dug


Dug


" Hah!!.... Ma... malam", suara Mutia tercekat dan sangat gugup meskipun hati Mutia berdetak tidak karuan namun sebisa mungkin dia berusaha menguasai emosinya.


" Ma... maaf, bukannya Bapak Tristan yang membuat janji dengan saya dan pak Jodi?", tanya Mutia pada akhirnya takut salah orang karena merasa nggak ada janji dengan Arjuna.


Sontak saja Mutia langsung terduduk lemas, rasanya ia ingin membawa lari Hilmi dan bersembunyi di lobang semut sekalipun agar Arjuna tidak bisa menatap putranya seperti itu.


" loh memangnya Bapak ada urusan apa dengan saya dan putra saya?, Saya rasa Bapak sudah salah jika ingin membicarakan pekerjaan dengan saya, yang tahu jelas proyek dengan perusahaan Bapak itu adalah Bapak Jodi Sementara saya hanya mengatur keuangan saja Pak, Maaf... Bapak sudah salah mengajak saya untuk membicarakan tentang proyek tersebut, sebaiknya makan malam ini kita batalkan saja Pak dan saya permisi", dengan sikap Mutia langsung meraih tangan Hilmi untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


" Tunggu!!", Arjuna langsung meraih tangan kiri Mutia dan memegangnya cukup erat.


" Maaf silakan duduk dulu Bu", Arjuna kemudian melepaskan pegangannya pada tangan Mutia dan mempersilahkan mutiara untuk duduk kembali.


" Maaf jika saya telah menyakiti anda, dan memegang tangan bu Mutia dengan cepat dan kencang, saya tidak bermaksud untuk menyakiti Ibu maaf tadi gerakan refleks", Arjuna menatap Mutia yang masih diam terpaku sementara Hilmi hanya melihat interaksi kedua orang dewasa tersebut dengan wajah yang sedikit ketakutan karena teriakan Arjuna tadi saat menyuruh ibunya menunggu.


" Bunda", Hilmi menatap sang Bunda dengan mata berkaca-kaca dan wajah ketakutannya.


" Maaf Pak saya tidak bisa, anak saya sepertinya tidak nyaman", Mutia kembali berdiri dan segera merain sang putra.

__ADS_1


Arjuna reflek bersimpuh didepan Hilmy dan menatap bocah itu seraya tersenyum lembut.


" Maaf, Anak ganteng ketakutan dengan suara Oom yang keras ya? Maafka Oom ya... Anajk ganteng mau kan kita makan malam bareng Oom dan bunda, nanti anak ganteng boleh pesan apa saja, iya, mau ya", Arjuna menatap bocah itu yang juga menatap Arjuna dengan intens.


Hati Mutia makin berdetak tidak karuan, apalagi melihat kedua mata itu saling bertatapan, Mutia bahkan sampai memejamkan matanya sangat dalam, tidak ingin melihat momen ketika dua pria dihadapannya ini saling bertemu mata hingga sedalam itu.


" Om napa teriakke bunda aku? Oom ga boleh nakalin bunda aku", jawab Ilmi dengan Ketus dan memanyunkan bibirnya.


" Maaf Om tadi tidak sengaja, maafin Om ya dengan kita makan bareng-bareng ok!", ujar Arjuna yang membuat Hilmi kemudian manggut-manggut setuju.


Mutia langsung mendesah yang sedikit keras kemudian membuang muka dadanya terasa panas dan sesak seakan terhimpit batu besar.


" Bunda kita makan di sini saja", Hilmi mengguncang tangan Mutia yang masih menggenggam lengan kecilnya tersebut.


" Kenapa tidak di tempat lain saja Nak, kita makan sate nya Mang oyo aja yuk", rayu Mutia kepada putranya.


" di sini Hilmi boleh pesan apa saja yang Hilmi mau, Hilmi suka pizza, atau mau sate spesial di sini juga ada", sela Arjuna membujuk Hilmi agar mau tinggal dan makan bersama dengan dirinya.


" Bunda di sini saja, Kata Om Hilmi boleh pesan apa aja, Hilmi mau es krim Om, sama mau pasta boleh tidak?", Tanya bocah itu hati-hati seraya menatap Mutia dan Arjuna bergantian.


Mendengar pertanyaan seperti itu Arjuna menatap Mutia, sorot matanya seakan mengisyaratkan untuk Mutia menuruti permintaan Hilmi.


-


-


Bersambung.....


Mohon maaf krn terlambat up ya.... πŸ™πŸ™


Dua hari berturut2 kami kehilangan dua kk yang satu kk sepupu dan yg satu lagi kk kami tertua... jadi outhornya ikut bantu2 krn byk saudara dan tamu yg masih berdatangan dan tdk sempat pegang ponselπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2