PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
kemarahan Pak Abdul2


__ADS_3

Malam ini Mutia seperti tak bisa memejamkan mata, sepanjang malam pikirannya gelisah. Setelah pembicaraannya dengan pak Abdul hati Mutia merasa bingung sendiri. Mau marah tapi tidak bisa, hidupnya yang pahit dan direndahnya orang dari kecil, membuat Mutia akhirnya hanya bisa diam tidak bisa membela dirinya dengan maksimal, sadar akan siapa dirinya, dan biasanya akan berakhir menangis sendiri sepanjang malam.


Merasa dirinya hanya serpihan debu sehingga setiap kejadian pahit di hidupnya hanya bisa ditelan sendiri.


Namun tanpa Mutia sadari kondisinya yang seperti itu pada akhirnya membentuk pribadi Mutia yang mandiri dan bisa mengambil keputusan setiap masalah yang dihadapinya.


Namun kali ini keputusan dari pembicaraan dengan pak Abdul sesungguhnya tidak begitu sreg dihatinya, tetapi merasa tidak kuat untuk melawan, Mutia lebih memilih menerima dengan alurnya. Mutia akan memastikan setiap kata di surat perjanjian nanti tidak merugikan dirinya dan Hilmy, itu saja.


" Seperti ini jika berhadapan dengan orang yang berduit, hufff... Semoga bunda bisa selalu bersama mu nak... ", Mutia membelai rambut putranA dengan penuh kasih sayang dan hati yang terasa sesak.


Karena susah untuk memejam mata meski sudah sangat larut malam, Mutia akhirnya melafalkan bacaan yang ia bisa agar dirinya lekas terlelap, Namun terasa sangat susah hingga akhirnya menjelang subuh barulah Mutia bisa memejamkan mata.


Pagi harinya jelas semangat Mutia berkurang, karena kurang tidur semalam.


Sementara itu di tempat lain


Pagi hari ini nampak Arjuna sudah berada di rumah kedua orang tuanya setelah tadi malam memaksa untuk pulang dari rumah sakit.


Setelah menikmati sarapan pagi hari itu nampak Pak Abdul membuka pembicaraan terhadap anak dan istrinya.

__ADS_1


" kamu ternyata sudah bertemu dengan Mutia 3 bulan yang lalu, kenapa tidak bercerita pada bapak?", tanya Pak Abdul pada Arjuna dengan menatapnya tajam.


" Ya, awalnya aku tidak yakin jika Mutia itu Aini karena aku cuma melihat foto yang diambil oleh Tristan dan itu hanya terlihat matanya saja karena dia memakai masker", jawab Arjuna jujur.


" kapan kamu tahu jika Aini telah memiliki seorang putra?".


" Setelah pertemuan itu Arjuna menjadi penasaran dan ingin bertemu langsung orangnya dan ternyata benar tetapi sekali lagi Arjuna tidak bisa langsung mendekatinya takut Mutia malah tidak jadi bergabung dengan perusahaan kita akhirnya aku menyuruh Tristan untuk menyelidiki secara diam-diam tentang Mutia, dan saat Kania pulang dari luar negeri kami jalan-jalan ke mall dan aku melihatnya dia tengah menuntun anak aku pikir dia sudah menikah dan itu anak dari hasil pernikahannya, otakku masih buntu pah belum memikirkan jika itu anakku karena aku benar-benar berpikir jika Mutia memang tidak hamil saat itu".


" Kapan kamu mengetahui jika anak muda itu adalah anakmu?".


" Sebetulnya Arjuna tidak tahu persisnya kapan, cuma dari hasil penyelidikan itu Tristan mendapatkan tanggal lahir Hilmi disitulah aku yakin jika itu anakku pah", Arjuna tertunduk.


" Kemarin lusa pak Maaf jika Mama belum sempat cerita sama bapak", Bu Aryanti pun tertunduk.


" Hari ini rencananya Bapak mau bertemu dengan pengacara, Bapak dan Mutia sepakat untuk membuat surat perjanjian jika baik kamu Arjuna, Mama ataupun bapak atau keluarga kita yang lain, tidak akan pernah menuntut hak asuh Hilmi, kita bisa menemuinya dengan izin Aini tapi kita tidak boleh merebut Hilmi dari tangan Aini, camkan itu ya!!!, Dosa kita sudah terlalu banyak pada Aini jangan ditambah susah lagi hidupnya, jika mamah sama kamu Juna masih punya hati nurani cukup lindungi Aini dan Hilmi dari jauh saja, doakan supaya mereka hidup tenang dan bahagia jangan usik kehidupan nya, terutama kamu Arjuna!!!", Pak Abdul berkata dengan sangat tegas untuk bisa dimengerti oleh anak serta istrinya.


" Tapi pa!!, Hilmi itu cucu kita hanya dia yang kita punya sebagai penerus pa lihatlah anak kita cuma satu dan itu lemah seperti ini", Bu Aryanti berkata dengan nada yang cukup tinggi membuat ArJuna dan Pak Abdul menatapnya tajam pada sang istri.


" Maksudnya mamah apa? Mama mau merebut Hilmi dari Aini? kenapa? seharusnya bukan itu yang mamah lakukan tapi yang harusnya mamah lakukan adalah 5 tahun kebelakang mamah memaksa putramu ini untuk menikahi Aini harusnya Mama tahu perasaan sebagai sesama perempuan, bukan malah mau merebut! buktinya apa jika Hilmi cucu kita, di Akta lahirnya jelas tertulis nama Aldiano sebagai bapaknya, mau tes DNA? apa mamah enggak malu, Aini yang selama 5 tahun ini berjuang sendiri mengandung, melahirkan, membesarkan Hilmy sendiri, tiba tiba saja mama mau menguasai anaknya hati nuranimu di mana Ma? Hah!!! Papa kecewa sama pemikiran mama", Pak Abdul mengepal tangannya dengan sangat kuat jelas terlihat kemarahan yang meluap-luap di dadanya menatap istrinya dengan menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan ucapan istrinya barusan.

__ADS_1


" Pa.... Sabar pa, jangan marah-marah Pak ingat darah tinggi papa", Arjuna mengusap lengan bapaknya dengan lembut untuk memberikan kekuatan supaya bapaknya tenang.


" Maaf Pak maaf mama kilaf....", Bu Aryanti langsung terisak mendengar kata-kata dari suaminya selain rasa takut dia juga langsung menyadari bahwa gejolak hatinya yang tiba-tiba saja ingin memiliki Hilmi adalah kesalahan yang sangat besar.


" ingat Arjuna jangan pernah ganggu Aini, biarkan dia hidup tenang jika kamu menyayangi Hilmi dan juga Aini cukup lindungi dia dan doakan, kamu sudah memiliki keluarga, jangan lakukan kesalahan kembali, jaga keluargamu dengan baik-baik dan lanjutkan hidupmu sesuai rencana yang kamu rancang dengan Kania", Ujar pak Abdul dengsn menatap Arjuna tajam.


Arjuna langsung menunduk lesu, Dia kemudian menarik nafas dalam dan membuangnya, satu lagi kesalahan terbesar yang dilakukan dalam hidupnya selain telah menyakiti ini dia juga menyakiti Kania.


Mungkin jika ditelusuri lebih lagi kan ia bahkan lebih tersakiti daripada Aini. Tapi tidak, Arjuna berniat menolong Kania, dan dalam pernikahan itu ada perjanjian yang tertulis secara sah dimata hukum jika arjuna hanya akan memberikan status Ayah di akta lahir anak dari Kania dan memberikan perlindungan serta mencukupi kebutuhan hidupnya dan itu sudah Arjuna lakukan sesuai janjinya.


Namun berbeda kasus dengan Aini, di awal menyadari kesalahannya Arjuna tidak mau berusaha untuk bertanggung jawab karena ini hanyalah gadis kecil yang tidak punya keluarga dan hanya berstatus sebagai asisten rumah tangga di keluarga sahabatnya.


Terlalu naif memang pikiran Arjuna saat itu, demi gengsi nya karena bertahun-tahun berpacaran dengan Luna yang seorang primadona di sekolahnya juga putri dari pengusaha yang saat itu cukup ternama saat itu, Iya lepaskan untuk sahabatnya Aldiano, masa iya penggantinya hanya seorang asisten rumah tangga, begitulah pemikiran Arjuna saat itu dan itu menjadi dilema penyesalan terdalam selama 5 tahun ini.


-


-


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2