
Sudah 3 hari semenjak kejadian lamaran itu, Mutia sedang berada di ruangan kerjanya bersama dengan Jihan.
" Murung aja neng, dua hari kemarin juga tidak ke kantin Ada apakah gerangan?", ucap Jihan yang tiga hari ini memperhatikan Mutia seperti ada yang berbeda menurut penglihatannya.
" Hee hee... tidak juga Mbak, Aku biasa saja kok, mungkin perasaan Mbak Jihan aja, insya Allah aku lagi sedang ingin berpuasa nih jadi tidak makan siang dulu", jawab Mutia terkekeh.
" Oh, kirain deh!", ujar Jihan.
" Kirain apa hayo .... Mbak Jihan suka menebak-nebak deh!", Mutia kembali terkekeh.
" Kirain lagi ada masalah berat, secara kan kamu habis putus dengan Irfan, kirain belum bisa move on", jawab Jihan mengutarakan pikirannya tadi.
" Enggak lah mbak, kenapa aku harus terpuruk Mbak, Mas Irfan aja sekarang lagi sibuk kencan dengan calon istrinya, aku juga harus bahagia dong!", jawab Mutia.
" Kamu beneran sudah ikhlas?", Jihan memicingkan matanya ingin mencari tahu jawaban lebih dalam dari Mutia.
" Bohong kalau aku nggak kecewa Mbak, saat kemarin orang tuanya Mas Irfan menolak mentah-mentah Jujur aku sedih Mbak, aku merasa hina sekali, aku merasa statusku ini adalah sampah, tapi nggak mungkin lah Mbak aku menangis untuk Mas Irfan buat apa? sekalipun mas Irfan mau menerima aku apa adanya tapi jika orang tuanya tidak ya sudahlah goodbye", ujar Mutia sendu.
" Semoga kali ini kamu bisa mendapatkan lelaki yang orang tuanya itu sayang banget sama kamu Mutia juga sama Hilmi, doa aku tulus untuk mu Mutiah", ujar Jihan mendekati Mutia kemudian meraih punggung tangannya dan membelainya lembut.
" Aamiin, Terima kasih Mbak".
__ADS_1
" kamu harus yakin jika suatu hari nanti Allah akan kirimkan seorang lelaki yang penuh kasih sayang bertanggung jawab dan mau menerima kamu apa adanya serta memiliki orang tua yang sayang banget sama kamu dan juga Hilmi", Jihan memang sahabat Mutia yang paling baik sehingga kata-kata Jihan itu mampu menyemangati Mutia kembali.
" Aku masih bingung Mbak, dan sejujurnya aku sebetulnya belum mau menjalin hubungan kembali dengan siapapun setelah kemarin gagal dengan Mas Irfan, tapi ya sudahlah apapun yang terjadi nanti aku serahkan saja pada yang maha kuasa", ujar mutiara pasrah.
" Kemarin kamu sempat berharap banyak pada Irfan ya Mut?", tanya Jihan.
" Ya, apalagi aku lihat kedekatan antara Hilmi dan mas Irfan yang begitu akrab dan seakan mereka saling menyayangi dengan tulus, itu yang pada akhirnya membuat aku lebih sedih ketika hubungan kami berakhir Mbak", Mutia tertunduk dan menarik nafas dalam untuk menetralkan perasaannya.
" Kenapa sih orang tuanya Irfan enggak ada toleransinya hanya karena kamu seorang single parent", Jihan pun akhirnya mengutarakan kekecewaannya pada orang tua Irfan yang menurut Jihan mereka terlalu egois untuk menerima Mutia sebagai menantu yang sangat baik.
" Yah mungkin orang tua Mas Irfan malu jika nanti jadi bahan pembicaraan saudara dan tetangga nya Mbak Mas Irfan yang bekerja keras dengan jabatan yang lumayan di perusahaan ini malah menikahi seorang janda beranak satu", Mutia kemudian tersenyum dengan mirisnya.
" Mbak cuma berharap kamu ikhlas, mbak yakin kamu akan mendapatkan seseorang yang tulus menerimamu, Mbak juga akan mendoakan Irfan yang terbaik, semoga nanti calonnya Irfan sesuai dengan harapan orang tuanya dan juga Irfan dan dia juga bahagia dengan pilihan orang tuanya, doa-doa yang sangat baik terlebih buat Mutia Mbak sangat berharap kamu menikah dengan orang yang tepat", Jihan mendekat kearah Mutia kemudian mengusap halus punggung mutiara untuk memberikan dukungan karena Jihan tahu sejatinya Mutia masih bersedih dengan putusnya hubungannya dengan Irfan.
" Heh! enggak boleh ngomong seperti itu, Di mataku kamu itu selama ini adalah wanita yang kuat wanita super wanita yang pintar mandiri juga ya wanita yang luar biasa, jangan sampai kamu mengeluh yang akan membuat penilaian ku terhadapmu berkurang, cukuplah kamu bersyukur setiap apapun yang menghampiri hidupmu, baik itu suka maupun duka tetap syukuri saja biar kamu lebih kuat biar kamu lebih tangguh", Jihan memang benar-benar sahabat sejati untuk Mutia nyatanya nya perkataannya memang tulus ada Mutia.
" Astaghfirullahaladzim... ampuni hamba ya rob, betapa aku selama ini hanya banyak mengeluh tanpa banyak orang syukur nikmat terhadapmu ampuni hamba ya Allah", Mutia langsung tersadar akan keluh kesahnya itu setelah mendengarkan peringatan dari Jihan.
" Nah lebih baik kamu banyak istighfar saja ikhlas kan semuanya, jangan Ra tapi yang telah berlalu tatap masa depanmu bersama Hilmi dengan optimis".
" Terima kasih Mbak, Terima kasih karena Allah telah mengirim sahabat, saudara sepertimu yang mengerti sekali tentang aku dan selalu mengingatkan tentang kesalahan ku.. terima kasih mbak", Mutia kemudian memeluk Jihan dengan sangat erat.
__ADS_1
" Sudah ya jangan sedih sedih terus, jangan nangis juga entar puasanya batal", Jihan pun kemudian terkekeh seraya mengusap air mata dipipi Mutia.
" Selain partner kerja kita di sini seperti saudara, aku membutuhkan kamu dan sebaliknya kamu pun membutuhkan aku, dalam segala hal dalam pekerjaan, dalam keseharian kita saling mengingatkan, dan juga partner bercanda dong!", Jihan pun kemudian terkekeh lebar diikuti dengan Mutia yang kemudian ikut tertawa juga.
" Sudah ah aku mau ke kantin dulu laper banget nih, mau makan gado-gado nya mak Tika, kok rasanya niler banget pengen makan gado-gado pedas punya mak Tika", Jihan kemudian berkemas untuk menuju ke kantin sementara Mutia juga mempersiapkan diri untuk ke mushola.
" kamu beneran nggak makan siang nih?", Jihan meyakinkan pada Mutia.
" insya Allah sudah niat Mbak, Maaf ya enggak aku temanin makan gado-gadonya".
" ya sudah kita pisah jalan kalau gitu", Jihan segera bergegas menuju kantin sementara Mutia menuju masalah mereka berpisah setelah keluar dari pintu lift.
Hingga sore hari saat mereka selesai dari jam kerja Jihan dan Mutia keluar dari ruangan bersama kemudian mereka menuju ke tempat parkir bersama-sama.
" Lho! mba Jihan sendiri nggak bareng dengan mas suami? ", tanya Mutia yang melihat Jihan mengendarai mobil seorang diri tanpa Pak Andre yang menunggu disana seperti biasanya setelah mereka menikah.
" Kan dia lagi keluar kota 2 hari terpaksa aku sendirian", jawab Jihan.
" Ya sudah hati-hati ya mbak", Mutia dan Jihan pun melambaikan tangan perpisahan.
" Mutia ".
__ADS_1
Bersambung....