
Semua sudah berlalu, Hasil test positif, surat perjanjianpun sudah ditandatangi kedua belah pihak.
Arjuna dengan keinginan sendiri memberikan tabungan untuk Hilmy, namun juga boleh dipergunakan Mutia tanpa batas.
Meskipun begitu tidak serta merta Mutia menggunakan Uang yang bagi Mutia bukan haknya
Waktupun terus berlalu pembukaan pembangunan Hotel juga sudah terlaksana, dan Mutia masih menangani proyek Hotel dan juga sekolah bersama dengan pak Jodi.
Namun Mutia jarang sekali terjun kelapangan, hanya sesekali saja. Dan Irfanpun makin gencar mendekati Mutia.
Sementara Jihan makin dekat dengan duda beranak dua yakni meneger pemasaran pak Andre.
Meskipun awalnya ogah ogah, malu-malu tetapi kesabaran dan kegigihan pak Andre bisa menaklukkan kekerasan hati Jihan.
" Bu Mumut.... buuu ..", Pak Andre menempel dipintu depan ruangan kerja Mutia.
" iyaaaa.... Ada apaaaa aaa ???", Mutia menjawab dengan nada menirukan sang prnyapa.
" Dimanakah adindakuh?", pak Andre menanyakan Jihan.
" Owh... Bu Jihan sedang menghadap dengan pak Dwi pak, ada apa ya? Masak sudah kangen lagi?", Ujar Mutia dengan nada candaan.
" Aisshhh..... ", Jawab pak Andre. berdecak.
" Mau diapelin kok malah sedang ngapel sih!", Gerutu pak Andre membuat Mutia tersenyum sambil menunduk dan menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak mengeluarkan suara yang keras.
" Pagi-pagi sudah apel, apel pagi berarti ya pak?", gurau Mutia.
" Seperti pak Satpam yang jaga di kantor ini saja!".
" Haiissttt..... yang ini beda apelnya dong! Apel rasa manis, yang ono asem".
" Hahaaa.... Bisa aja deh, pak duren mepet sang gadis pujaan", Mutia terkekeh kembali.
" Alamaaakkk ... kirain tuh bu Mumut ini jaim ga tahu bisa juga ya ramai kayak kripik kaca hee", Ujar pak Andre yang sekarang duduk dikursi kerja bu Jihan.
" Hah! Bukan kripik pak tapi krupuk... krupuk bantat, keras tapi gurih", Jawab Mutia serai memanyunkan bibirnya.
" Pakai dijelasin lagi, bantat .... Bantat ayam".
__ADS_1
" Haduuhh.... pagi-pagi membahas pantat ayam disini, ada apa pak sampean duduk dikursi kerjaku?", Bu Jihan yang saja datang sehabis menghadap pak Dwi langsung menatap tajamkerah pak Andre.
" Dindaku jangan ngambek gitu dong! Mas kesini mau mengantar ini", Pak Andre mengeluarkan sebuah map yang berada didalam tas slempangnya yang beliau pakai sedari tadi.
" Owh... Sudah lengkap semua?", Tanya Jihan melurik Mutia, namun yang dilirik sedang asyik menatap layar komputer kerjanya.
" Sudah dong!, Untuk urusan yang satu ini sebaiknya disegerakan, iya to?!", Pak Andre tersenyum pada Jihan yang berjalan mendekat kearah meja kerjanya seraya meraih map yang diberikan pak Andre dan segera memeriksanya.
" Oke! Terima kasih", Ucap bu Jihan senang ketika sudah memeriksa isi map yang diberikan oleh pak Andre.
" Mas permisi ya, selamat bekerja".Ucap pak Andre pada bu Jihan dengan mesra.
" Bu Mumut... Saya permisi ya, titip ayang bebebku ya .. tolong", Pak Andre berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
Mutiara yang masih fokus pada layar komputernya akhirnya mendongak menatap Andre yang sudah berada di ambang pintu dengan tertawa kocak dan menyedapkan tangannya di dada.
" Oh, iya pak.... Tenang... Aman kok bersama saya", Mutia membalas senyum pak Andre dengan ramah.
" Titip titip.... Ga perlu! yang ada aku disini yang jagain bu Mumut dari tatapan kadal kantor", ketus bu Jihan.
" Hemmm.... Haisstttt... Ga ada kadal kantor bu, kadalnya sudah bu Jihan takhlukin... noh pak Andre", Jawab Mutia terkekeh.
" Hemm....".
" Kok hemmm aja, gimana kelanjutan hubungan kalian?", Tanya bu Jihan kepo.
" Belum tahu bu", Jawab Mutia santai.
" Udah ga usah galau galau.... Terima dan serius, insyaAlloh lancar", Ujar bu Jihan.
Mendengar ucapan Jihan mutiara mendongak dan tersenyum hambar.
" Aamiin ", Akhirnya ucapan itu yang keluar dari bibir Mutia karena merasa tidak tahu harus memberikan komentar apa pada Jihan.
Mutia kembali meneruskan pekerjaannya pun demikian dengan Jihan beda waktu makan siang pun tiba dan mereka memutuskan untuk pergi makan ke kantin berdua.
" Mau makan apa mbak?", panitia setelah mereka duduk.
" Gado-gado aja", Jawab Jihan.
__ADS_1
" Oke aku pesenin sekalian".
" Lha kamu sendiri mau makan apa Mut?", Tanya bu Jihan saat Mutia beranjak berdiri.
" Hemm.... Saya lagi pingin yang berkuah bu, mau nasi rawon saja".jawab Mutia seraya beranjak untuk memesan menu makan siang mereka.
" Mut.... ", Ujar bu Jihan ketika pesanan makan siang mereka sudah siap untuk dinikmati.
" Iya bu", Mutia mendongak menatap Jihan yang sepertinya hendak berbicara serius.
" Hemm ... mau tak hindari seperti apapun sepertinya memang Tuhan mengirimkan Pak Andre sebagai jodohku Mut, gengsi pasti menunggu sampai sosial aku saat ini ujung-ujungnya ketemuannya duda, tetapi dengan pilihlah hati saya merasa nyaman dan bahagia insya Allah", Jihan berkata dengan penuh kehati-hatian pada Mutia.
" Iya itulah rahasia jodoh Bu", jawab Mutia.
" Ya ... kami sudah sama-sama sangat dewasa dia sudah memiliki dua orang anak tolong doakan kami ya maut semoga rencana kami dilancarkan dan kami menjadi pasangan yang selalu bahagia hingga maut memisahkan kita", ucapku Jihan setelah menelan makanan yang sudah dikunyah nya.
" Pasti, lebih dari itu Bu doaku untuk ibu dan Pak Andre tidak apa-apa lebih baik terlambat bu tapi Bu akhirnya bahagia selamanya daripada saya.... ", Mutia tidak jadi meneruskan kata-katanya karena tenggorokannya langsung terasa panas dan bu Jihan pun sudah tahu ceritanya tidak perlu juga bercerita berulang dengan cerita yang samakan karena hidup harus terus berlanjut.
" Sudah jangan dilanjut.... itu namanya takdir Mut, jika kamu pernah merasa bersyukur karena di usia mudamu sudah dipertemukan jodoh namun jodohmu tidak panjang dan kamu tetap tidak rugi karena diusiamu saat ini kamu sudah memiliki Hilmi yang begitu luar biasa Dan aku dengan segala keegoisanku pilih sana pilih sini memilih-memilih dan dapatnya duda itu namanya takdir jodohku aku ya harus bisa menerima dengan ikhlas toh aku mau bahagia aku ingin jadi wanita yang sempurna aku harap kamu pun dalam waktu dekat ini di pertemukan jodoh kembali", Bu Jihan meraih lengan Mutia dan mengusapnya lembut seraya berkata kata.
" Aamiin insya Allah Bu", Mutia pun tersenyum malu-malu.
" Rencananya kapan Bu? Ibu dan Pak Andre menikah?", tanya Mutia yang sedari tadi sebenarnya sudah penasaran dengan hubungan sahabat karibnya ini sudah sejauh mana dengan Pak Andre.
" Bulan depan Mut, kamu harus datang menjadi saksi pernikahanku dan doa terbaik MU berikan sebagai kado terindah untuk pernikahan kami", ucap Jihan dengan mantap.
Mutia tersenyum dan mengangguk.
-
-
Bersambung.....
**Assalamualaikum riders ku.... Apa kabar semuanya, Maaf ya lama sekali aku baru Up hari ini.... selama dua minggu ini ada pekerjaan yang harus saya kerjakan dan benar-benar tidak bisa membagi waktu untuk menulis....
Semoga besok dan seterusnya akan up yang lebih banyak lagi ya....
kritik dan saran selalu aku tunggu.... sampaikan dengan jujur karena itu pasti akan membangun tulisanku untuk lebih baik lagi....
__ADS_1
Semoga kalian semua selalu dalam lindungan-Nya, sehat terus dan bahagia Aamiin yra**...