PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Keresahan hati Mutia


__ADS_3

Setelah mengantar Hilmi ke tempat penitipan anak, Mutia masih termenung di atas sepeda motornya yang terparkir di tempat bangunan daycare tersebut.


" jika aku berhenti dari proyek itu lantas Apa alasan yang tepat, Aku tidak mau Pak Jodi menjadi curiga ataupun tahu lebih jauh tentang masa laluku, itu sungguh memalukan dan terlalu menyakitkan untuk dikenang, Duh ... apa ya alasan yang tepat atau Aku bertahan dulu minimal sampai 3 bulan ini... Ya Allah lindungi hamba jangan sampai tahu pak Arjuna tentang siapa diri ini apalagi sampai tahu jika ada Hilmi di antara kita", guman Mutia memikirkan rasa takutnya jika arjuna mengetahui tentang kebenaran dirinya.


Mutia pun mengusap kasar wajahnya dengan menarik nafas dalam untuk sedikit melegakan rasa sesak di dadanya.


" Bismillah Ya Allah, lancarkanlah pekerjaan hamba hari ini", ucap Mutia kemudian starter motornya melaju menuju tempat kerjanya.


Sementara itu dari kemarin Tristan menghubungi pak Jodi untuk tahu lebih banyak mengenai Mutia. sebetulnya Pak Jodi sudah menjawab apa adanya bahwa dirinya pun belum begitu mengenal banyak mengenai Mutia, selain Mutia masih boleh dibilang karyawan baru mereka juga berada di divisi berbeda sehingga tidak pernah berinteraksi setiap harinya.


Sementara itu Mutia yang sudah sampai kantor, langsung menuju ruangannya dan mempersiapkan segala hal sebelum dia berangkat ke proyek.


" Mut.... hari ini kamu ke proyek lagi?", Tanya Jihan yang melihat Mutia sedang berkemas.


" Iya mbak Jihan, bersama dengan Pak Jodi", jawab Mutia masih sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.


" Wah... asik partner kerjanya Pak Jodi", Jihan rupanya juga menyukai jika bekerja sama dengan Pak Jodi


" iya lho Mbak, Pak jadi itu orangnya ngomong banget, mau mengajari kita mengarahkan tidak senewen sendiri ternyata kata pepatah jangan lihat buku dari sampulnya itu benar Mbak, contohnya jika kita melihat Pak Jodi tampangnya itu garang pendek gemuk hitam berkumis seperti susah berbicara begitu tapi ternyata orangnya punya kharisma dan juga orangnya sabar sekali Mbak", beberapa hari bekerja dengan Pak Jodi membuat Mutia sedikit banyak mengenal kepribadian dari partnernya itu.


" Jangan salah orangnya juga humoris, dan dia itu orangnya itu rendah diri banget sopan lagi semoga sukses lah proyek kamu bersama Pak Jodi ini".


" Aamiin Mbak makasih".


" Sudah mau berangkat?", tanya Jihan kembali


" Pokoknya saya santai dulu di ruangan Pak Jodi Mbak, nggak enak jika beliau harus menunggu aku, sebaiknya aku yang bersiap lebih dulu... Oke Mbak aku berangkat dulu ya maaf aku tinggal dulu", pamit Mutia kepada Jihan sahabatnya.


" Iya bagus itu, sebaiknya memang kamu yang menunggu kesiapan Pak Jodi... sukses terus ya hati-hati semoga lancar", Jihan pun kemudian menjawab salam perpisahan dengan sahabatnya itu.


" Pagi Pak Jodi!", siapa Mutia kepada partner kerjanya itu setelah mengintip ruangan Pak Jodi dengan pintu yang terbuka setengah.

__ADS_1


" Pagi Mbak Mutia, wah rupanya Anda semangat sekali ya, sudah bersiap aja... mohon tunggu sebentar bapak masih ada berkas yang harus disiapkan", ujar Pak Jodi sopan mempersilahkan Mutia untuk duduk di sofa ruang kerjanya.


" Terima kasih Pak".


" Mbak Mutia sudah sarapan?", tanya Pak Jodi seraya mengangkat cangkirnya untuk menyeruput kopi.


" ah iya pak saya sudah sarapan tadi di rumah", jawab Mutia.


" mau Saya pesankan kopi atau teh pada objek yang bertugas di sini?".


" Terima kasih Pak tidak usah, saya sudah minum tadi", jawab Mutia sopan.


" Mohon maaf nih, seraya menghabiskan kopi saya akan menyiapkan berkas dulu yang akan kita bawa hari ini mbak, mohon maaf Mbak Mutia harus menunggu!", Pak jadi merasa tidak enak tidak biasanya dia membiarkan orang lain menunggu seperti saat ini namun karena berkas-berkas yang belum siap semua terpaksa Pak Jo dilakukan hal ini pada Mutia.


" Santai saja Pak, lagian ini juga masih cukup pagi".


" Iya mbak, Terima kasih atas pengertiannya, biasanya saya juga tidak seperti ini, tetapi berhubung yang membantu saya kerja di ruangan ini sedang sakit sudah dua hari ini jadi ya begini Mbak semuanya terbengkalai karena harus saya sendiri yang menangani", jawab Pak Jodi memberikan alasan kenapa beliau bisa terlambat untuk berangkat ke proyek.


" Ya begitulah".


" kalau begitu daripada saya duduk begini mendingan saya bantu bapak, mohon maaf Pak sekiranya butuh bantuan Saya bersedia", Mutia sedikit merasa tidak enak pada Pak Jodi namun juga kasihan melihat pekerjaan yang menumpuk di atas mejanya.


" Boleh Mbak, Chika Mbak Mutia tidak keberatan, silakan bantu saya untuk mempersiapkan berkas-berkas yang mau kita bawa ke proyek hari ini".


" Naik Bapak tinggal memberikan mapnya biar sayang periksa".


" Boleh silakan, Maaf sudah merepotkan ya mbak".


" Tidak pak, ini juga untuk keperluan saya juga Karena di proyek ini kita akan partner".


" Oke jika begitu, ini tinggal mengecek saja semuanya pasti anda tahu kok".

__ADS_1


" Baik Pak!".


Setelah hampir 1 jam mereka berdua memeriksa berkas berkas dan menyiapkan untuk dibawa ke lapangan maka kemudian mereka pun dengan sigap segera melaju menuju ke lokasi.


Di sepanjang perjalanan itu, pikiran Pak Jodi teringat ketika Tristan menghubungi dan menanyakan tentang Mutia, Pak Jodi maju mundur mau cerita tentang itu kepada Mutia.


Pak Jodi berfikir jika sampai Mutia tahu takutnya mengganggu kinerja Mutia atau malah bisa jadi Mutia mundur dari proyek ini jika tahu kliennya ada hati dengannya.


Pak Jodi menebak jika Tristan menaruh hati kepada Mutia, namun juga berfikir jika sampai hal itu terjadi biarlah mereka dekat secara alami saja, pikir Pak Jodi.


" Mbak Mutia ini sudah menikah? Maaf jika saya lancang bertanya tentang pribadi mba Mutia", Pak Jodi merasa tak enak hati sendiri mengenai pertanyaannya.


" Tidak masalah Pak, papa memang belum mengenal saya, saya ini single parent dengan 1 anak laki-laki saat ini berusia 4 tahun", jawab Mutia jujur tak ingin menutupinya dari Pak Jodi.


" Oh maaf".


" Tidak apa-apa".


" Mantan nggak sendiri, Maaf cerai atau meninggal Mbak?", tanya Pak Jodi kembali berhati-hati Saya ingin menyinggung perasaan Mutia.


" Pisah Pak, ada sesuatu hal yang terjadi, namun kami berdua masih berhubungan sangat baik, karena tidak ada yang saling menyakiti diantara kami, belum takdir Pak!", jawab Mutia tanpa merasa tersinggung sedikitpun, dan Mutia memang ingin berterus terang kepada Pak Jodi yang dirasa usianya jauh lebih ih senior darinya bermaksud agar Pak jadi bisa lebih bisa memimpin dirinya.


" Iya mbak, memang jika urusan jodoh itu adalah rahasia ilahi, sekuat apa kita pertahankan jika belum takdirnya yang nggak jodoh, yang sabar mbak Anda orang yang baik dan kuat, semoga anaknya jadi anak yang sholeh dan Mbak Mutia sekarang mendapatkan gantinya", Ucap pak Jodi bijak.


" iya pak terima kasih, Sudah sampai pak kiranya kita", dan merekapun kemudian turun dari mobil dan menuju bangunan yang dibangun sementara untuk para pengawas melihat pekerjaan anak buahnya.


-


-


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2