
8 hari sudah mereka berada di negara kincir angin tersebut dan hari ini mereka sudah bersiap di bandara untuk kembali pulang.
" Ingin cepat sampai sudah enggak kuat pengen ketemu dengan Hilmy", Lirih Mutia saat mereka sudah berada di dalam pesawat.
" Sabar, kita butuh penerbangan yang cukup lama belum nanti harus translate, sudah pasti ada delay nya, Sabar ya", Arjuna membelai lembut kepala sang istri yang dibungkus dengan hijab berwarna abu-abu.
" Tidur dulu saja, nanti aku bangunin jika bertemu dengan bintang", ujar Arjuna terkekeh lebar menggoda sang istri.
" Hem, Iya deh titip salam aja buat bintang, sekalian buat bulan nya juga", Mutia pun ikut terkekeh riang.
" Pulang dari sini langsung resign ya, terus nanti kita pindah rumah, Mas ingin tahu rasanya berumah tangga yang sesungguhnya tidak rumpang pada bapak-ibu", sejarah Arjuna yang masih setia membelai kepala sang istri.
" Mereka kasihan tidak Mas jika kita tinggalkan pindah rumah?", Mutia sebenarnya tidak tega meninggalkan kedua mertuanya tersebut.
" Ya .. tidak tega itu pasti, Mereka senang jika ada kita berada di tengah-tengah rumah itu memohon sekali lagi masih ingin merasakan berumah tangga yang sesungguhnya bersama denganmu dan anak-anak kita".
" Kasihan mereka, pasti kesepian", Ucap Mutia sendu.
" Semoga tidak, apalagi sudah ada Hilmi, mereka pasti akan selalu memonopoli anak kita itu", Arjuna tersenyum lebar raya membayangkan meskipun dirinya dan Mutia pindah rumah pasti orang tuanya yang akan selalu mengurus Hilmi.
Seperti halnya saat ini mereka diusir suruh berbulan madu sementara sang putra ditahan tidak boleh ikut dan lebih memilih mengajaknya berlibur sendiri.
Mutia tersenyum, tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan berakhir seperti saat ini dalam hatinya pun selalu bersyukur dan berdoa agar apa yang telah dirasakan saat ini diberkahi dan diridhoi.
" Aku kira hidupku selamanya akan menjadi seorang babu, menumpang di rumah orang kaya berkutat di dapur menyiapkan makanan sang Tuhan tapi Allah memberiku nikmat yang luar biasa seperti saat ini", Mutia bergumam dalam hati seraya menatap gumpalan awan awan yang nampak putih terlihat dari jendela pesawat.
" Kenapa lagi? kok malah diam dan bengong, sudah jangan dipikirkan putra kita, Mas yakin dia akan lebih berbahagia berlibur bersama oma opa nya".
" Ya semoga ya Mas, aku benar-benar merindukannya", ujar mutias raya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
" Yang nyaman duduknya, kalau bisa tidur lah karena kita akan berada di dalam pesawat ini sangat lama", Arjuna pun membelai lembut tangan sang istri.
" Ya ", Mutia mengangguk dan perlahan memejamkan matanya meskipun rasa kantuk belum menghampiri namun tidak ingin suaminya menyarankan untuk tidur hingga berulang kali akhirnya menurut saja.
__ADS_1
Hingga hari berganti dan setelah melewati transit di sebuah negara sampailah mereka di tempat tujuan yakni rumah keluarga Muiz.
" Bundaaaa.... ", suara Hilmi melengking kegirangan menyambut kedatangan kedua orang tuanya, dia langsung merangkul erat sang Bunda.
" Sayangnya bunda, kangeennn... ", Mutia pun membalas pelukan jagoannya dengan sangat erat penuh kerinduan.
" Aduhhh ya, yang ketemu bundanya, yang bundanya sudah pulang langsung lupa sama oma", Bu Aryanti hanya terkekeh melihat tingkah cucu kesayangannya.
" Assalamualaikum semuanya", Arjuna yang kini sudah menyusul sang istri dengan membawa beberapa koper mengucap salam kepada semuanya.
" Waalaikum salam... lihat yang kangen sama bundanya, bundanya baru turun masih di halaman sudah disambut dan dipeluk-peluk omanya dilupakan", kembali bu Aryanti tersenyum dengan terkekeh memandangi aksi sang cucu.
" Iya ini Oma, ayahnya udah nggak kelihatan, yang kelihatan cuma bundanya doang, payah nih jagoan ayah, ayahnya dicuekin nggak disambut", Arjuna sengaja menyindir sang putra.
" Ayah!, Hilmy juga kangen kok, tapi sama bundaa kangen sekali", Hilmi kini akhirnya berganti memeluk ayahnya.
" Oh gitu ya, sama ayah tidak kangen?", Arjuna membalas pelukan sang putra seraya memberikan protesnya.
" Kangen tapi.... dikit", jawab Hilmi terkekeh seraya menunjukkan jari-jarinya memberikan isyarat kata sedikit.
" Sayang sih! sedikit!", jawab Hilmi seraya terkekeh lebar.
" anak kecil Jun, tidak usah diambil hati, biasanya dia berkata jujur maka terimalah, berbesar hatilah, resiko tidak mengandung dan tidak melahirkan dapat sedikit juga bersyukur", ujar Bu Aryanti terkekeh lebar seraya mendekati mereka.
" Alhamdulillah kalian sudah pulang kembali dengan selamat, kirain masih mau seminggu lagi", Aryanti merengkuh Mutia dengan penuh kasih.
" Mana bisa lama Bu, dia tuh keingetan sama jagoannya terus", jawab Arjuna.
" Tenang, putra kalian itu salah sekali sama sekali tidak merepotkan bahkan memberikan banyak hiburan kepada kami, karena kehadirannya Omanya ini terasa muda kembali, pada akhirnya banyak gerak dan merasa lebih fit ibu", jawab Bu Aryanti merasa sangat senang hampir dua minggu mengasuh sang cucu ternyata membuat badannya terasa semakin sehat karena banyak bergerak dan mengurangi sedikit kemalasannya.
" Terima kasih ya Ibu, terus terang aku kepikiran terus takutnya dia banyak tingkah dan membuat Ibu kecapekan", ujar Mutia merasa tidak enak hati karena telah merepotkan mertuanya.
" Haiii ... nggak boleh bicara begitu Ibu itu senang sekali ada anak kamu di sini Mutia, sekalian nanti jika ingin pindah tinggalkan putra kalian di sini biar kami yang mengasuh, kalian bikin lagi", ujar Bu Aryanti merasa senang dititipin Hilmi Di rumahnya bukan suatu beban ataupun sesuatu yang membuatnya merasa kecapekan namun sebaliknya Hilmi memberikan kebahagiaan tersendiri bagi ibu Ariyanti dan Pak Abdul.
__ADS_1
" Bapak mana Bu?", Arjuna celingak-celinguk mencari keberadaan bapaknya yang sedari tadi tidak menyambut kedatangan mereka.
" Pakai tanya, ya Bapak mu di kantor orang yang punya kantor sedang Honey moon, ya Bapak lah yang terjun selama kamu tidak ada, sebentar lagi juga pulang kok", jawab Bu Aryanti seraya mencetak pelan kepala sang putra.
" ya maaf Bu, ini kan sudah hampir jam 5 kok Bapak belum pulang?!", jawab Arjuna santai.
" bapakmu tadi berangkatnya setelah makan siang karena ada klien yang ingin bertemu jam 2 siang katanya, pastilah sebentar lagi papa nyampe rumah", jawab Bu Aryanti.
" Mas aku ke kamar dulu ya, gerah nih pengen cepat bersih-bersih", Mutia menggeret koper nya memasuki ke kamar.
" Oh ya, sini koper biar aku yang bawa yank", Arjuna langsung beranjak menyusul Mutia.
" Hilmy sudah mandi?", Tanya Arjuna serayamenyusul istrinya.
" Sudah ayah", Jawab bocah itu.
" Sudah, cucu oma ini sholeh sekali segala sesuatu lebih tepat waktu dan tidak usah di suruh suruh dia sudah paham", Jawab bu Aryanti penuh bangga pada sang cucu.
" Sip, jagoan ayah!", Arjuna pun tak kalah bangga, seakan mereka lupa jika Hily begitu itu karenadidikan dari Mutia, dan keadaan yang membuat dewasa diatas usianya.
Bersambung.....
πΉπΉπΉ **Maaf baru uploud ya....
Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir bathin, semoga puasa kalian dilancarkan....
Aamiin Aamiin Aamiin ya robal'alamin.
Bagi pembacaku....
Di sini boleh kalian komen apa saja, protes dan menuliskan isi hati kalian jika ada tulisannku yg tdk berkenan....
Insya Alloh othor tdk akan tersinggung asal dgn kata2 yg baik ...
__ADS_1
Karena othor percaya saran, kritik dan komen kalian itu sangat membangun utk lebih baik lagiπππ**