
Satu Minggu sudah sejak pembicaraan Arjuna dengan Mutia, namun sejak saat itu Mutia menghindari jika hendak bertemu Arjuna tetapi masih bekerja untuk proyek pembangunan sekolah tersebut.
" Selamat pagi Bu Mutia, nanti siang kita akan mengadakan rapat untuk membahas tentang proyek pembangunan hotel yang akan segera dimulai minggu depan ini saya harap Ibu Mutia ikut hadir bersama dengan Bapak Jodi", pesan yang Mutia baca pagi ini dari Tristan.
Setelah selesai membaca pesan tersebut Mutia menarik nafas panjang ada rasa yang tak menentu di hatinya, namun tekadnya untuk bekerja secara profesional mengalahkan rasa kegundahan hatinya.
" Baik, saya usahakan akan mengikuti rapat tersebut bersama dengan Bapak Jodi", jawab Mutia melalui pesan kembali pada Tristan.
Berharap sangat untuk tidak bertemu Arjuna tapi Mutia merasa itu sangatlah tidak mungkin apalagi proyek hotel ini benar-benar ditangani oleh Arjuna secara keseluruhan tidak lagi melibatkan bapaknya Yakni Pak Abdul Muis.
" Apa yang harus saya khawatirkan dia tidak mungkin menggangguku jika berani di harus melangkahi mayat ku dulu untuk menyentuh putraku", gumam Mutia saat memikirkan akan bertemu dengan Arjuna siang ini.
Namun sejenak kemudian Mutia tersenyum miring menertawakan dirinya sendiri, dirinya merasa sangat angkuh dengan gumaman nya barusan, betapa tidak meskipun dirinya merasa mengandung melahirkan dan membesarkan Hilmy seorang diri dengan penuh perjuangan nyatanya darah yang mengalir pada tubuh anaknya adalah darah seorang Muis bahkan Mutia memberikan bukti dengan memberikan nama itu dalam nama panjang anaknya.
" Semoga uang tidak menjadi alasan untuk mengalahkan ku karena jika uang yang maju saya kalah tentunya sebelum bertanding, biarkan hati dan nurani yang berbicara untuk melindungi hakku sepenuhnya", Gumam Mutia kembali.
" Pak Jodi, bisa tidak sekiranya saya mundur dari proyek hotel ini?", tanya Mutia tiba-tiba pada lelakibijak partner kerjanya itu.
" Memangnya Mbak Mutia mau ke mana?", Tanya Pak Jodi.
" Mau minta pindah proyek aja Pak yang tidak bekerjasama dengan PT AMM", jawab Mutia jujur.
" Tidak ada lagi pegawai yang bisa diandalkan Mbak, selain Mbak Mutia, memangnya kenapa dengan PT AMM?", tanya Pak Jodi.
" Tidak!, Saya ingin ganti suasana saja Pak", jawab Mutia terkesan sangat ragu dan Pak Jodi mengetahui itu.
__ADS_1
" Atau karena Tristan yang sedang PDKT dengan ibu? maaf!", gak jadi sebenarnya tidak enak tapi dia butuh kejujuran di sini.
" Hah!", Mutia terkejut matanya sedikit terbuka lebar karena pertanyaan Pak jadi barusan.
" Tidak Pak, Pak Tristan sama sekali tidak PDKT dengan saya".
" Sungguh? tapi dia beberapa kali menelpon saya dan menanyakan tentang Mbak Mutia, Maaf jika saya tidak bilang sebelumnya".
" Ah iya, tapi masalahnya bukan Pak Tristan pak, sungguh".
" lah terus, kenapa pengen pindah proyek?".
" ya tadi pengen ganti suasana", jawab Mutia masih gagah dengan pendiriannya.
" Wah ... jangan dong Mbak nanti saya keteteran, saya sudah merasa sangat cocok dibantu dengan mbak Mutia, jujur nih selama ini Bapak sudah menangani ratusan proyek semenjak kerja di sini udah 15 tahun lebih Mbak, Dan saya merasa paling klik bekerjasama ya dengan mbak Mutia, jangan dong seandainya bos yang mengusulkan pun saya akan menolaknya, saya tidak setuju apa lagi jika Mbak Mutia yang mengusulkan, Maaf ya", tolak Pak Jodi tegas atas permintaan Mutia barusan.
" Tidak!", jawab Pak Jodi tegas.
" Mbak begini saja, apapun alasan Mbak Mutia kenapa ingin berhenti di proyek hotel PT AMM, tetapi memang bener-bener tidak bisa mbak selain tidak ada yang bisa menggantikan Mbak Mutia saya sudah merasa klop saat bekerja dengan mbak Mutia itu yang pertama yang keduanya ini proyek terbesar perusahaan kita Mbak jika Mbak Mutia pindah ke proyek lain misalnya yang sekarang dipegang pak Irfan itu beda Mbak baik dari bonus yang mungkin akan Mbak Mutia dapatkan semuanya berbeda karena Pak Irfan ini hanya menangani proyek-proyek kecil sedang Mbak Mutia dipercaya oleh perusahaan untuk memegang proyek-proyek besar harusnya Mbak bersyukur, jarang lho mbak kesempatan seperti ini, bahkan yang sudah senior pun belum ada yang mendapat kepercayaan sebesar ini biasanya proyek yang besar gini akan ditangani langsung oleh sekretaris bos", ujar pak Jodi panjang lebar.
Mutia hanya manggut-manggut mendengar kan setiap perkataan Pak Jodi memang benar semua yang dikatakan oleh Pak Jodi.
Perusahaan tempat Mutia berkerja ini bukanlah perusahaan yang besar hanya menengah saja biasanya hanya proyek-proyek kecil yang didapat dan baru kali ini mendapat proyek yang lumayan sangat besar yakni hotel yang sangat mewah dan besar.
" Semangat mbak jangan menyerah selagi Mbak tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaan ini lanjut terus apa pun permasalahan yang ada di sekitar mbak, abaikan jika masih bisa, siapa tahu nanti bonusnya bisa buat beli rumah, itu harapan saya pada Mbak Mutia".
__ADS_1
" Aamiin pak, terima kasih ya, kalau begitu kita mulai saja... Bismillah .. ", Ucap Mutia kemudian.
" Nah begitu dong, mari.... Bismillah... untuk Hilmy", Jawab pak Jodi tersenyum senang pada Mutia.
Matahari sudah semakin naik jam 9 lebih Pak Jodi dan Mutia berangkat menuju perusahaan PT AMM, untuk mengadakan rapat besar bersama para pemegang saham untuk pembangunan hotel tersebut.
Di sebuah ruangan rapat yang cukup besar ternyata beberapa peserta rapat sudah hadir terutama para pemegang saham Mereka tampak sudah berada di ruangan tersebut menunggu sang pimpinan rapat yakni Pak Arjuna.
Setelah menyapa Dengan hormat beberapa yang sudah ada di ruangan Pak Jodi dan Mutia pun mengambil tempat duduk dan menunggu seperti yang lainnya.
Tak butuh waktu lama ternyata sekretaris Tristan membuka pintu dan mempersilahkan bosnya untuk memasukkan ruangan tersebut.
" Selamat datang para peserta rapat selamat pagi menjelang siang", sama Arjuna ramah kepada semua yang sudah berada di ruangan tersebut.
" Selamat pagi Pak terima kasih", jawab semua yang berada di ruangan itu.
Arjuna kemudian membuka rapat tersebut yang diwakili oleh Tristan sang sekretaris kemudian menjelaskan tentang rencana pembangunan hotel yang cukup megah dan mewah serta luas dan besar termasuk dengan anggaran biaya yang diperlukan jangka waktu pembangunan.
Sesekali Arjuna melirik pada Mutia perempuan itu hari ini mengenakan hijab berwarna krem dan masker wajah yang senada.
Mutia memang membiasakan diri jika hendak bertemu dengan Arjuna selalu memakai masker agar lelaki itu tak banyak menatapnya karena Mutia merasa jika Arjuna sering mencuri pandang terhadapnya dan itu Mutia tidak suka karena Arjuna adalah suami orang Mutia tidak mau dianggap sebagai pelakor dan memang diantara mereka tidak ada hubungan apa pun kecuali Hilmi.
-
-
__ADS_1
Bersambung.....