
Pagi hari setelah sarapan di restoran Hotel Mutia dan Arjuna kemudian berkemas untuk segera pulang menuju ke rumah orang tuanya.
" Mampir rumah kontrakkan dulu ya mas, Aku mau ambil beberaapa baju ganti", Ucap Mutia ketika mobil merdka keluar dari parkiran hotel.
" Ya, sekalian suruh siapa gitu, mungkin tetangga barang kali ada yang biasa disuruh suruh, untuk membereskan barang barang kalian, mungkin dua minggu lagi rumah kita sudah bisa ditempati", ucap Arjuna.
" Hemmm.... Nanti aku tanya sama tetangga dulu, karena aku juga kurang tahu mas".
" Oh ya Mas maaf banget nih ya aku masih penasaran jawab jujur ya maaf jangan tersinggung", Mutia hendak mengutarakan sesuatu yang masih mengganjal di hatinya pada Arjuna.
" Hmm.... bilang saja Mas akan baik-baik saja kok".
" Kenapa rumah yang mau kita tempati harus atas namaku, sedangkan emas yang kamu berikan itu sudah sangat besar nilainya bagiku, belum lagi ditambah mobil kok rasanya aku seperti orang yang kaya mendadak Mas",
" Rumah itu Mas berikan atas nama kamu karena akan kita tempati, Mas sangat berharap hingga ajal Mas menjemput kamu adalah rumah tempat Mas pulang, rumah dan dirimu adalah 1 jadi ketika Mas pulang,.,. ya di situ ada kamu di rumah kita, jika emas batangan itu mas berikan sebagai hadiah karena kamu sudah mau menerima Mas kembali, sedangkan mobil Mas ingin jika kamu keluar rumah dalam keadaan nyaman jadi jangan diungkit lagi kalau bisa lebih masakan berikan lebih tapi maaf saat ini baru itu yang bisa mas berikan untukmu, semoga nanti kedepannya rezeki mah semakin lancar".
" Aamiin".
Sampailah mereka di rumah kontrakan Mutia, setelah memasuki rumah itu Mutia membuatkan minum untuk Arjuna dan kemudian termaksud memilih beberapa baju yang hendak dibawa ke rumah mertuanya.
" Maaf Mas boleh minta tolong, tolong masukkan ke koper baju-baju Hilmi yang mau dibawa ke sana, hanya sebagian saja kok karena sebagian lagi sepertinya sudah kekecilan".
" Iya benar enggak usah banyak-banyak, nanti biar aku yang membelikan baju untuk putra kita".
" Dan juga perabot apa kamu Ridho jika ditinggalkan di sini saja?", tanya Arjuna pelan-pelan takut istrinya tersinggung bagaimanapun Arjuna yakin jika semua barang-barang yang berada di rumah Muthia ini adalah hasil kerja keras istrinya selama ini.
" Oh iya Mas, nanti biar aku tawarkan pada pipi yang di rumah Bu Meri, Iya seperti itu saja daripada kita mencari tetangga yang belum tentu kita kenal".
__ADS_1
" Oh ya Mas setuju, bukankah pipi yang bekerja di tante Mary itu saudara mu sayang?", tanya Arjuna karena saat itu Aldi pernah bercerita jika calon istrinya adalah gadis yatim piatu merupakan saudara dari bibi yang bekerja di tante Mary.
" Maaf Mas bibiku itu sudah tiada ketika Hilmi masih kecil, dan sekarang sudah digantikan dengan bibi yang lain, masih tetangga bibiku di kampung juga".
" Oh maaf, mas baru tahu".
" Enggak apa-apa mas, memang bibi aku kan sudah sepuh juga".
" Berarti kamu sudah tidak ada siapa-siapa sama sekali yank?", tanya Arjuna dengan wajah sedih.
" Seharusnya masih ada, bibi kan punya anak mas cuma dia sudah menikah dan dibawa suaminya ke luar pulau".
" oh bibi cuma punya anak satu?".
" iya, bibi itu dulu waktu muda pernah menikah tapi karena 7 tahun pernikahannya bibi nggak punya anak terus suaminya meninggalkannya menikah dengan tetanggaku juga terus kemudian Entah kenapa bibi pulang-pulang membawa anak perempuan kemudian bibi tidak kerja hingga anak itu lulus SMP, katanya sih anak temannya yang diserahkan sama bibi aku kurang tahu juga Karena waktu itu aku juga masih kecil".
" Iya ya kok aku tak pernah kepikiran".Jawab Mutia.
Mutia memandangiseluruh perabot rumahnya, ada senyum getir disana dengan mata berkaca kaca.
" Hemmm.... semua aku beli dengan uang tabungan dari mas Aldi dan juga dari hasil keringat ku, kerja peras keringat dengan menyambi mengasuh baby Hilmy", Lirih Mutia sangat pelan agar suaminya tidak. mendengarnya.
Mutia mengusap satu satu barang yang sekiranya dulu saat mau mendapatkannya berfikir puluhan kali karena harus menghemat kebutuhan yang lain.
Dan kini Mutia harus merelakannya untuk berpindahtangan.
" Semoga barang barang ini bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan seperti halnya aku dulu", Doa Mutia pelan namun penuh keikhlasan.
__ADS_1
" Kenapa? Sedih? Ingat historinya saat mau membelinya ya?", Pertanyaan Arjuna sangat tepat saat Mutia tengah mengusap dan memandang kulkas miliknya.
Mutia menoleh dan tersenyum pada Arjuna seraya mengangguk dan tersenyum tipis.
" Aku dulu membelinya karena butuh untuk menyimpan ASI ketika Hilmi masih bayi dan harus aku tinggal bekerja dan menyesaikan kuliah ku, dan ini itu aku beli dari uang kiriman Mas Aldi", jawab Mutia jujur namun terlihat sendu di wajahnya membuat Arjuna kemudian terdiam.
Di benaknya ada rasa tidak suka karena Mutia menyebutkan uang dari Aldi, itu yang artinya saat mereka masih berstatus suami istri dan Aldi kerap mengirimkan uang jatah bulanan untuk Mutia.
" Di rumah sana sudah ada kulkas, dan maaf jika bunda harus merelakan kulkas ini untuk diberikan pada orang lain, ikhlas ya?".
" Semuanya aku iklaskan Mas, termasuk meja makan, tempat tidur, lemari, rak rak tempat menyimpan barang-barang, sofa, TV, dispenser, kompor, dan semua perabot lainnya yang ada di rumah ini, semoga bermanfaat bagi orang lain, Terima kasih karena suamiku telah menggantikan barang-barang ini yang insya Allah lebih bagus", jawab Mutia tersenyum kearah Arjuna dan arjunaku menanggapinya dengan tersenyum senang.
" iya, mas akan berusaha untuk menggantikan semua bukan hanya perabot rumah tetapi semua hal yang seharusnya aku berikan sejak 6 tahun yang lalu, tapi sudah ya jangan pernah kamu sebut sebut nama Aldi lagi".
" Oh maaf, aku hanya berusaha untuk jujur mas, bukan bermaksud untuk mengingat mas Aldi".
" Mas maafkan asal jangan keseringan, Ok!".
" Hmm".
" Mas masukin dulu koper koper ini ya ke mobil, kamu cek lagi barang barang yang sekiranya historynya begitu susah untuk dilupakan atau sesuatu yang menurutmu sangat berharga".
Mutia kembali meneliti satu persatu lemari, rak, dan laci laci, benar yang dikata Arjuna tidak boleh ada yang tertinggal barang barang kenangan dirinya dan Hilmy.
" Album foto Hilmy mas, saat saat dulu baru lahir hingga kemarin usia 5 tahun".
Arjuna meraih dengan antusias dan membukanya, " ini buku apa, kok fotonya ga jelas, hitam putih begini?", Tanya Arjuna terheran melihat buku pemeriksaan waktu Mutia hamil Hilmy yang ia masih simpan dengan apik bersama Album Foto sang putra.
__ADS_1
Bersambung ..