PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Kesempatan bertemu kembali


__ADS_3

Saat mereka sampai di tempat itu ternyata Arjuna Pak Fajar dan Tristan sudah berada di sana lebih dulu datang.


" Selamat pagi, mohon maaf kami terlambat", Pak Jodi membungkuk hormat kepada mereka bertiga karena merasa sangat tidak enak atas keterlambatan ini.


" Tidak masalah Pak kami juga baru saja datang sekitar 10 menit yang lalu", kali ini yang menjawab Arjuna, Karena sejujurnya di hati Arjuna melihat Mutia kembali datang ke tempat itu sudah merupakan sebuah keberuntungan tersendiri jadi tidak akan mempermasalahkan keterlambatan kedatangan Pak Jodi dan Mutia pagi ini.


" Terima kasih Pak".


" Silakan Pak Jodi dan Bu Mutia, meskipun di tempat seperti ini semoga apa yang kita bahas pagi ini berhasil dengan baik", ujar Pak Fajar merasa tidak enak karena memang tempat pertemuan mereka hanya di sebuah bedeng bangunan sementara di proyek tersebut, mengingat proyek tersebut baru saja akan dimulai.


" Terima kasih Pak Fajar, tidak masalah... yang penting kita fokus dalam pembicaraan ini semoga hasilnya memuaskan dan proyek kedepannya berjalan dengan lancar", jawab Pak Jodi.


" Aamiin ", jawab semuanya serentak.


" Silakan Bu Mutia Maaf kondisi kita sekarang seperti ini", kali ini Tristan yang berbasa-basi pada Mutia.


" Terima kasih tidak masalah".


Sejatinya semenjak kedatangan Pak Jodi dan Mutia fokus Arjuna hanya pada Mutia seorang meskipun pandangan matanya itu hanya sesekali saja melirik pada Mutia, tetapi sejatinya seluruh perhatiannya pagi itu tertumpah semua untuk Mutia, rasa penasarannya siapa Mutia sebenarnya dan juga rasa ingin tahunya yang sudah menggebu seperti tak tertahankan terasa menyesakkan dada Arjuna, namun Arjuna berusaha sekuat tenaga untuk bisa menguasai kondisi jantungnya yang terus berdetak kencang bertalu-talu hingga rasanya membuat kakinya gemetar.


" Mutia, aini... mutia, Aini ... Mutia, Aini", hati otak pikiran serta mata Arjuna terus menyebut nama Mutia dan Aini Arjuna mencari kesamaan atas dua nama tersebut.


" Oke pagi ini pembicaraan kita sebaiknya segera dimulai sebelum matahari meninggi karena Saya rasa tempat ini akan semakin panas udaranya Pak mengingat bangunan ini atapnya terbuat dari seng dindingnya juga dari seng maklumlah ini hanya tempat menyimpan logistik sementara serta tempat istirahat para pegawai yang mengerjakan sekolah ini", Pak Fajar segera memulai pembicaraan mereka.


Namun fokus Arjuna tidak pada pembicaraan itu sepenuhnya mata perempuan yang kini duduk tidak jauh darinya itu benar-benar seperti tombak panah yang akan menancap ke dalam otaknya dan bisa saja memecahkan kepalanya.

__ADS_1


Dan pembicaraan pun terus berlangsung dengan sangat serius, bahkan Mutia beberapa kali menumpahkan ide-idenya, yang membuat Arjuna semakin terkejut dengan wanita yang ada dihadapannya itu saat ini.


" Saya kira untuk menekan biaya kita tidak perlu mengurangi kualitas dari bahan ataupun takarannya Pak itu akan sangat berbahaya sekali, namun kita harus mengerjakan yang pokok-pokok dulu yang sangat penting atau yang bisa disebut yang paling utama dari bangunan ini, selebihnya untuk menekan biaya kita bisa mengurangi dari interiornya nanti yang sekiranya hanya aksesoris sebaiknya kita tekan agar tidak menjadikan pemborosan, namun sekali lagi untuk bahan-bahannya kita tetap harus memilih kualitas yang terbaik", ujar Mutia.


" saya setuju dengan ibu Mutia, meskipun masih baru beberapa kali terjun langsung ke proyek rupanya sudah mengerti, berbeda dengan Pak Jodi yang sudah puluhan tahun bergelut di tempat seperti ini bahkan kita beberapa kali pernah bekerjasama ya Pak Jodi", ungkap Pak Fajar.


" Iya betul, dan bekerjasama dengan anda itu sangat menyenangkan terkadang saya juga merindukan dan alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa bekerjasama kembali Pak Fajar", Ucap pak Jodi penuh rendah diri.


" Rasanya sangat menyesal Pak jika dalam mengerjakan proyek Saya tidak melibatkan anda", rupanya Pak Fajar ini adalah pribadi yang pintar untuk menghargai keahlian seseorang sehingga ucapannya barusan bermakna sangat dalam terutama bagi Mutia yang memang masih baru dalam dunia seperti ini.


" Jangan berlebihan Pak Fajar, saya bisa karena pengalaman saja bukan berarti karena saya benar-benar bisa saya bukan orang yang pintar, Saya hanya berusaha memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin", jar Pak Jodi merasa memang dirinya hanya bisa benar benar hanya dari pengalaman.


" Justru pengalaman itulah yang membuat kita pintar Pak, orang yang pintar sebenarnya jika tidak punya pengalaman dia tidak tahu apa-apa", jawab Pak Fajar.


Selesai obrolan panjang kemudian mereka pun meninjau langsung ke lokasi pembangunan, sesuai rencana yang didirikan untuk pertama kali adalah bangunan yang diperuntukan untuk kantor sekolah.


Mutia mengikuti langkah keempat pria tersebut di posisi paling belakang dengan langkah perlahan sesekali matanya mengedar ke sekeliling.


Arjuna pun secara diam-diam sering mencuri pandang ke arah Mutia, mutiara sadar jika arjuna sebenarnya selalu memperhatikannya, itu yang membuat Mutia semakin takut jika nantinya jati dirinya akan terbongkar dan Arjuna akan merebut Hilmi dari tangannya.


" Tris... Yang kemarin aku minta sudah dapat belum info nya yang akurat?", Bisik Arjuna pada Tristan.


Setiap kali melihat Mutia,Arjuna rasanya ingin lebih dekat mengenalnya, apa lagi jika melihat mata Indah milik Mutia, membuat hati Arjuna seperti ingin mengungkapkan rasa penyesalannya dan meminta maaf dengan tulus.


" Tuhan, jika tahu rasaku akan seperti ini, selama tahun lima tahun ini hidup dalam penyesalan dan rasa berdosa yang begitu dalam begini, dulu pasti aku akan menjadi Aini sebagai pengganti Luna, huufff", Arjuna menghela nafas dalam diam dan pikiran yang hanyatertuju pada Mutia.

__ADS_1


" Sudah bos, dia itu single perent, Sarjana akuntansi, saat ini dia hidup berdua dengan putranya yang masih balita disebuah kontrakan sederhana", Ujar Tristan sangat yakin, membuat Arjuna merasa sangat puas dengan informasi tersebut, Ada sedikit


" Tapi bos tidak boleh macam macam lho! Ingat mbak Kania dan Shaila", Tristan mengedipkan mata nakalnya.


" Ngga usah diingatkan, aku tahu jika aku adalah seorang suami dan juga seorang ayah yang bertanggung jawab!".


" Pak Arjuna bagaimana jika siang ini kita makan bareng dengan bu Mutia dan pak Jodi?", Tiba tiba pak Fajar mendekat kearah Arjuna dengan suara yang cukup keras.


" Oke, boleh....pilih lestorang yang nyaman pak", Jawab Arjuna.


Dan mereka pun akhirnya menuju restoran yang langsung di reservasi oleh pak Fajar melalui ponselnya.


" Bu Mutia bareng saya saja ya", Ajak Tristan.


Mutia langsung melihat pak Jodi dan pak Jodipun mengangguk.


" Maaf tapi saya dengan pak Jodi saja, terima kasih pak Tristan", Jawab Mutia sopan.


Pak Jodi mengangguk karena mengira Tristan sedang PDKT dengan Mutia.


-


-


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2