
keesokan harinya Tristan berusaha untuk menghubungi Mutia melalui kiriman pesan dan juga telepon nama Mutia tidak sama sekali menanggapi hanya membalas beberapa pesan yang Tristan kirimkan.
" Bu Mutia *bisakah menyisihkan waktu saya ingin bicara".
" Maaf bu saya pengen bertemu di cafe xx".
" Bu Mutia minta waktunya Saya ingin bicara dengan ibu di cafe xx jam12.00 saat istirahat makan".
" Bu tolong balas pesan Saya Bu please*".
itulah beberapa pesan yang dikirim oleh Tristan dan hanya dibaca oleh Mutia. saat ini hatinya gelisah sepertinya Mutia punya insting tidak enak mengenai pesan-pesan tersebut ada maksud tersembunyi.
Rasanya Mutia malas sekali untuk menanggapi ataupun menjawab pesan pesan dari Tristan tersebut.
" Maaf Pak saya sedang tidak ada waktu senggang lain kali atau tidak sama sekali pak jika mengenai pekerjaan bisa dibicarakan langsung dengan Pak Jodi saja", akhirnya Mutia menjawab pesan itu setelah beberapa kali Tristan mengirimkan dananya dibalas sekali saja oleh Mutia.
" Huuufffff", Tristan membuang napas kasarnya setelah membaca balasan dari Mutia tersebut sebetulnya hal ini sudah diduga Tristan sebelumnya.
Setelah kehadiran Arjuna ke rumah kost Mutia pasti kedepannya wanita itu akan sangat sulit untuk ditemui.
hal itu wajar mengingat kesalahan dari Arjuna cukup fatal dan bahkan Tristan bisa melihat jika usaha dari Arjuna dan kedua orang tuanya pun kurang maksimal padahal pak Abdul Muis adalah pengusaha yang cukup lama sudah sukses namun Entah mengapa saat itu bisa melepaskan Mutia begitu saja tanpa memberikan kompensasi apapun.
Tristan juga berfikir jika berada di posisi Mutia pastilah apapun kebaikan yang akan dilakukan oleh Arjuna dan keluarganya akan sulit Mutia terima.
karena sesungguhnya bagi seseorang yang memang sudah terpinggirkan ditambah lagi sendiri tidak punya siapa-siapa dan mengalami hal seperti Mutia itu adalah seperti Sudah jatuh tertimpa tangga dan terhimpit batu sekaligus tentu akan sulit untuk kembali pulih seperti semula Karena perjalanan untuk bisa berdiri itu membutuhkan perjuangan yang teramat sangat berat dari merasakan sakit jatuhnya belum tertimpa tangga nya kemudian dihimpit batu itunya itu luar biasa berat.
__ADS_1
Tristan hanya bisa menggelengkan kepala dilema berada di antaranya, namun dalam hatinya berdoa semoga Mutia bisa memaafkan kesalahan Arjuna dan keluarganya, setidaknya itu akan sedikit mengurangi beban pikirannya selama ini.
" Seseorang yang sangat merasa bersalah kepada bu Mutia ingin bertemu dengan anda, jika anda bersedia tolong kabari saya ya Bu Terima kasih ".
Sebetulnya ada rasa tidak enak ketika Tristan mengetik kata-kata tersebut tetapi apa boleh buat untuk menyeret Arjuna dan bertemu di depan Mutia itu juga tidak mungkin mengingat kondisi Arjuna yang lemah seperti itu lagian kalau hanya kata-katamu Maaf Arjuna pun udah sering mengucapkannya pada Mutia.
Sementara itu di tempat lain Mutia bersama Hilmi tengah bersiap-siap untuk ke rumah Bu Meri untuk bertemu dengan Aldiano dan keluarga kecilnya di suatu tempat.
" Papa pulang ya Bun dengan mama Luna dan juga adik-adik Hilmi", bocah itu pun bersorak gembira seperti hendak bertemu dengan papanya yang sesungguhnya.
" kenapa Bunda tidak ikut papa ke luar negeri seperti mama Luna?", tanya bocah itu polos.
Deg
Mutia terkejut dengan pertanyaan yang selama ini tidak pernah dirinya duga namun dengan cepat mati ya harus bisa menguasai keadaan maka dari itu dia pun menjawab dengan lembut agar anaknya itu tidak semakin bertanya dengan pertanyaan yang lain lagi.
" Nanti Hilmi jika sudah besar juga mau pergi ke luar negeri bunda harus berani naik pesawat lama ya biar kita bisa menyusul papa", ternyata bocah itu belum mau menyerah dengan asumsi nya.
" Iya Bunda mau tetapi jika Hilmi sudah besar jadi di pesawat nanti ada yang jagain, mungkin Bunda tidak akan takut lagi naik pesawat lama", jawab Mutia kemudian dengan menggelengkan kepala namun hatinya juga khawatir takut anaknya itu kembali bertanya dengan hal yang lebih aneh dan dirinya sulit untuk menjawabnya.
" Tetapi karena bundanya nggak berani naik pesawat nama Hilmi jadi nggak punya papa, papa Hilmi jauh bahkan belum pernah ketemu hanya lewat ponsel Bunda kalau Hilmi kangen", Hilmi berbicara dengan raut wajah sedih.
" Hei anak bunda tidak boleh sedih seperti itu kan kita mau bertemu sekarang bersama papa dan juga mama Luna dan juga adik adik, jangan sedih ya tunjukkan pada papa kalau Hilmi anak yang hebat ok!", Mutia mencoba menghibur sang putra.
Disinilah kadang hati seorang ibu itu harus bisa bermain sandiwara meskipun hatinya tengah menjerit dan menangis tapi bibirnya tetap harus tersenyum untuk menghibur anaknya ini masih 4 tahun masih bisa diolah kata agar anak itu bisa mengerti secara sederhana tapi hari, Minggu dan bulan serta tahun akan terus berjalan dan pastinya lambat-laun nanti ini juga akan mengetahui keberadaan dirinya yang sesungguhnya.
__ADS_1
Dada Mutia terasa sesak, hatinya menangis pilu kenyataan bahwa putranya tidak memiliki seorang ayah itu hal yang menyakitkan padahal dirinya bukanlah wanita yang seperti itu tapi takdir hidupnya yang membuat menjadi kan seorang yang berstatus janda.
" Kok bunda dian saja, kenapa?", Hilmi mengguncang tangan Mutia karena melihat bundanya hanya diam menatap kosong .
" Owh, bunda hanya sedang berfikir sudah segede siapa ya kira kira putri mama Luna?", Jawab Mutia asal.
" Ya segede Hilmi bun, kan lahirnya kita hampir bersamaan, kalau adiknya pasti masih kecil", Jawab Hilmy dengan melompat lompat lucu.
" Oh iya ya kok bunda bisa lupa ya".
" Bunda sih suka diem, begong gitu... jadi aja gampang lupa", HILMY masih melompat lompat kesana kemari.
" Ah, kata siapa begong bikin lupa? ", Mutia mengelak ucapan putranya.
" Kata Hilmi", Bocah itu tertawa lebar.
" Ayo cepat bunda kita ke rumah oma, Hilmy mau ketemu Kenzo", Hilmy mengguncang lengan Mutia dengan tidak sabar.
" Pakai jaketnya yang betul, baru kita berangkat", Mutia membetulkan jaket yang sudah membungkus tubuh putranya.
" Berdoa dulu sebelum naik motor", Mutia mengunci pintu kamar kostnya dan segera bersiap dengsn membawa sedikit baju ganti dan kue buatannya untuk ibu angkatnya tersebut.
Hilmy pun menuruti setiap perkataannya bundanya dengan senang hati".
-
__ADS_1
-
Bersambung ...