
" Kenapa Ayah suka sekali minum kopi, kopi itu pahit ya yah?", Hilmi yang tengah bermain mobil-mobilan di lantai memperhatikan ketika Arjuna meminum kopi sambil sedikit matanya merem.
" Enggak kok Hilmi mau coba?", Arjuna menyodorkan cangkir kopi itu kepada sang putra yang kemudian diseruput.
" Behhhh ... berrtttt.... Asiiinnnn", seru bocah itu dengan lantang seraya menjulurkan lidahnya.
Mutia yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua lelaki beda usia yang berada di hadapannya itu pun langsung terkejut seakan tidak percaya sekaligus merasa malu.
" Ah .. masa sih kok asin???", Mutia mendekat pada Hilmi.
" Cobain aja sama Bunda jika tidak percaya, kopi itu rasanya asin sekali, Hilmi pikir pahit soalnya warnanya hitam", celetuk bocah itu yang memang penasaran dengan rasa kopi dan kenangan pertama meminumnya terasa asin di lidahnya.
" Ah masa sih?", Mutiah airnya meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit.
" Beehhhh beehhhh berrtttt.... kenapa Bapak tidak bilang, Maaf aku rupanya salah memasukkan garam", ujar Mutia tersipu.
" Oh kopi itu dicampur garam ya Bunda?", tanya bocah itu yang memang di benaknya penuh rasa penasaran.
" Kukan sayang kopi itu dicampur dengan gula supaya rasanya sedikit pahit dan juga manis nah Bunda salah mengira garam dikiranya gula jadinya asin", terang Arjuna dengan jelas kepada putranya agar tidak salah sangka kembali.
" Oh begitu, kan tempatnya beda Bunda kenapa bisa salah?", tentu saja Hilmi tidak akan percaya begitu saja, usia Hilmi memang usia bocah yang ingin tahu segala.
" Ya maaf.... entahlah mungkin pikiran bunda sedang tidak fokus tadi", ucap Mutia sungguh merasa sangat malu.
__ADS_1
" Maaf ya Pak sungguh saya tidak sengaja saya bikinkan kembali saja yang baru", Mutia ingin segera mengganti kopi itu membuat yang baru di dapur.
Namun saat ndang prenjak harjuna langsung memegang tangannya untuk menahan.
" Tidak perlu sudah cukup itu saja, Maaf mungkin tidak akan saya habiskan saja, sepertinya itu tadi garamnya satu sendok penuh", ujar Arjuna seraya menatap Mutia dengan tangan yang masih menahan tangan Mutia supaya tidak beranjak.
" Kalau begitu saya ambilkan minuman yang lain saja untuk menghilangkan rasa Neg biar tidak mual", jawab Mutia dengan sedikit gugup.
" Baiklah saya cuma mau air putih yang sedikit panas saja", jawab Arjuna kemudian.
Tak berapa lama kemudian Mutia membawakan satu gelas air putih yang nampak sedikit mengepul asapnya.
" Ini Pak maaf tadi benar-benar tidak saya sengaja", Mutia sungguh tidak enak takut Arjuna berasumsi lain.
" Justru saya tidak berpikir ke sana Pak, tapi sungguh tadi mungkin tangan saya yang salah ambil kotak garam yang seharusnya kotak bulat", jawab Mutia jujur.
" Lalu bagaimana mengenai lamaranku, sudahkah kamu menyiapkan jawabannya?", tanya Arjuna dengan menatap serius pada Mutia.
Mutia kemudian menundukkan tidak mau membalas tatapan Arjuna seraya memainkan kupu-kupunya sesekali menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
" Bapak yakin mau melamar saya meskipun Bapak tidak cinta dengan saya?", akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Mutia.
" kamu salah Mutia, justru aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama matamu benar-benar menghipnotisku, hingga Aku tidak pernah bisa melupakanmu meskipun itu hanya sedetik saja, rasa bersalah dan penyesalan ku yang begitu dalam yang akhirnya membuat aku depresi, Aku menikah kembali bukan berarti aku mencintai Kania tidak sama sekali, awalnya aku berfikir melihat penderitaan Kania Aku ingin menolongnya karena aku mengingat penderitaanmu aku membayangkan perjuanganmu, meskipun saat itu aku tidak tahu jika kamu hamil dan memiliki anak, yang ada di benakku aku telah merenggut masa depanmu dan aku berfikir kamu pasti akan sulit untuk menerima seseorang dalam hidupmu karena kondisi dirimu yang telah aku campakkan", Arjuna bersuara dengan bergetar wajahnya tertunduk menatap lantai sejatinya ia takut jika air matanya sampai mengalir dia tidak ingin membuat Hilmi bertanya-tanya namun rasa sesak di dadanya yang menghimpit akan penyesalannya, ikut menekan matanya untuk mengeluarkan cairannya.
__ADS_1
" Aku bukan siapa-siapa Pak aku juga tidak memiliki apa-apa hanya Hilmi harta satu-satunya yang aku miliki Bapak tidak akan menyesal jika nanti menjadikan aku istrimu?", kontak mutiara lirih.
" Aku sangat mencintaimu Mutia tapi aku tahu betapa besar kesalahanku aku malu andai bisa aku ingin melihatmu bahagia bersama seseorang yang bisa kamu cintai sepenuh nya dan juga menerima dirimu apa adanya tapi aku tidak bisa Mutia, Aku tidak menginginkan hal itu karena yang aku inginkan dalam hidupku adalah hidup bersamamu", jawab Arjuna.
" Bapak melamarku bukan semata-mata karena Hilmi?", Mutia sungguh ingin tahu isi hati Arjuna yang sesungguhnya.
" Yah aku memang sangat menyayangi putra kita itu tapi jauh sebelum aku mengenal bahwa dia hadir ke dunia ini aku telah jatuh cinta padamu Aku menginginkanmu Mutia Aku kira dulu aku begitu mencintai Luna sehingga aku akan terpuruk jika pisah dengan Luna, nyatanya tidak sama sekali begitu Aku mentalaknya seakan kenangan dan bayangan bahwa aku pernah menjalin hubungan dengan Luna sirna semua dan sejak saat itu setiap malam yang hadir menghantuiku adalah bayangan dirimu Mutia, sungguh aku tidak berbohong", Arjuna bertekad untuk memulai hubungannya dengan Mutia melalui sebuah kejujuran tanpa ada yang ia tutupin sedikitpun tentang perasaannya.
" Jujur Pak Arjuna saat ini saya sedang mengikhtiarkan melalui doa untuk mencari jawaban yang paling tepat atas lamaran Pak Arjuna kepada saya", jawab Mutia.
" Aku pun begitu Mutia jauh sebelum aku melamar kamu kemaren setiap hari setiap malam setiap saat aku sudah memintanya kepada sang pemberi hidup, Aku ingin dijodohkan dengan mu Mutiah aku mengemis Aku merayu pada sang Khalik agar kita bisa hidup bersama dan aku bisa membayar segala penyesalanku kepadamu", mendengar pengakuan seperti itu dari Arjuna hatimu dia langsung bergetar.
" Aku sangat berharap kamu mau membuka hati untukku Mutia, percayalah aku tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu Bahkan aku tidak pernah menyentuh wanita manapun selain dirimu", ungkap Arjuna kembali.
Mutia kemudian mendongak menatap Arjuna ia ingin meyakinkan atas semua perkataan Arjuna melalui tatapan matanya.
" Please... beri aku kesempatan, buka hatimu, Terima aku Mutia", suara Arjuna bergetar memohon kepada Mutia.
" Kalian pada bicara apa sih Ayah Bunda kok mata kalian merah ayah nangis ya?", Hilmi mendekat dengan berkata-kata dengan polosnya hingga membuyarkan konsentrasi 2 orang tersebut.
" Iya sayang Ayah sama bunda sedang berbicara", ujar Mutia lembut.
" Hilmi Ayah mau tanya, jika ayah sama Bunda menikah dan kita hidup bersama apakah Hilmi mau??", Arjuna meraih sang putra dan mendekapnya di pangkuan seraya menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
Bersambung.....