PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Tidak menjenguk


__ADS_3

" Kamu hanya memikirkan perasaan kamu sendiri, kamu manjaan hatimu hingga depresi, terus apa kabar Aini yang hamil dan melahirkan dengan keadaan yang serba terbatas??", Suara Aldi memenuhi ruangan itu karena bernada tinggi, rasa kecewa pada sahabatnya itu membuat Aldi yang baik pada akhirnya tidak bisa menahan kemarahannya.


" Aldi...", Bu Aryanti tidak terima jika Aldi memarahi putranya, apa lagi kondisi Arjuna yang sedang tidak baik baik saja.


" Maaa..... ", Arjuna berusah menahan mamanya supaya tidak marah pada sahabatnya itu.


" Tante.... maaf...", Aldi akhirnya sabar jika emosinya ini sudah tidak terkendali.


" Maa...... selain mama Aldi adalah orang yang paling tahu betul sifatku mah, Aku tahu aku salah dan aku tahu semua perkataanmu betul Al, akan kuturuti semua nasehat mu", ucap Arjuna kemudian.


" kalau begitu kamu harus bangkit, jika kamu sakit dan lemah seperti ini maka kamu akan lebih menyesalinya, karena begitu kamu bangun semuanya sudah terlambat, bisa jadi Mutia sudah menambatkan hatinya pada orang lain, dan jika hal itu terjadi maka orang yang paling rugi adalah kamu Jun", Aldi memang tidak bisa berbahasa basi jika dengan Arjuna, sedari dulu temannya itu hanya memanjakan dirinya sendiri, jika dulu dia sangat maklum karena Arjuna adalah anak tunggal tetapi jika itu mengenai Mutia Aldi akan sangat marah.


" Lalu menurutmu apa yang harus dilakukan Arjuna, hampir 5 tahun Tante mendampingi dia dalam kondisi emosi yang tidak stabil Al, bahkan sekarang dia tengah ditangani oleh seorang dokter psikiater yang merangkap juga hipnoterapis agar Arjuna lekas pulih".


" Ya bangkit, lawan penyakit hati mu Jun, jika kamu seperti ini kamu yang rugi, karena waktu tidak bisa diulang... lebih baik berpikir sebelum bertindak jangan bicara yang tidak perlu dulu jika tidak bisa berkomitmen", Aldi menatap Arjuna yang masih tergolek lemah.


" Jika Aini menolak ku dan dia bersama orang lain Al?", Ucap Arjuna penuh kekhawatiran.


" IKHLAS ", Jawab Aldi singkat membuat ruangan itu langsung lengang seketika.


🌹


Semenjak hari itu Luna kembali bekerja seperti biasa bahkan dah sudah dua kali bertemu Tristan dalam pembahasan mengenai proyek hotel yang akan segera dimulai 2 hari lagi.


Tristan berusaha untuk bicara pada Mutia namun sebisa mungkin Mutia menghindar tidak mau mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.

__ADS_1


" Hubungan kita sebatas hubungan kerja Pak Tristan, Saya harap anda tidak melebihi batasan itu", ujar Mutia tegas.


" 5 menit saja Bu izinkan saya untuk berbicara mengenai kondisi Pak Arjuna", Tristan masih mencoba untuk bernegosiasi.


" Saya harap beliau segera bisa bergabung dengan kita dua hari lagi peletakan batu pertama sudah akan dimulai, untuk kondisi bakar Juna sampai dengan hari ini saya hanya bisa mendoakan semoga lekas sehat dan baik-baik saja, itu saja kiranya Pak Tristan", sebelum Tristan membuka pembicaraan mengenai kondisi Arjuna Mutia sudah menolak tegas dengan memberikan doa terbaik untuk Arjuna.


" Bu Mutia please Saya minta waktu 5 menit saja untuk pembicaraan yang sedikit pribadi ini di luar pekerjaan kita", Tristan memohon dengan menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.


" jika itu mengenai hubungan saya dengan bapak Arjuna sebaiknya Anda urungkan, dia sudah sangat tahu apa yang sudah saya rencanakan jika beliau terus maju untuk memaksakan kehendaknya", lagi-lagi Mutia menekan kata-kata dengan sangat tegas.


" Anda rupanya seorang wanita yang sangat keras Bu Mutia, hati-hati jika pada akhirnya kekeras kepalaan anda itu membuat anda menyesal seumur hidup", Tristan akhirnya mengeluarkan kata-kata yang bernada ancaman karena frustasi tidak bisa membujuk Mutia.


" Anda mengancam saya Pak Tristan? jika ada orang yang menyesal di antara saya dan pak Juna itu yang jelas bukan saya, pasti Anda paham!", kali ini ucapan Mutia sangat dingin dan datar.


Tristan terkesiap tidak menyangka jika wanita lemah lembut yang berada di depannya ini bahkan wanita ini sangat irit bicara ternyata bisa juga berkata dengan tegas dan bernada sangat sinis.


" Lantas?! apa peduli saya? pak Arjuna itu orang yang kaya dan banyak uang kalau dia sakit bisa berobat di manapun yang dia mau, namun saya menangkap dari ucapan Anda pak Tristan bahwa sakit yang diderita Pak Arjuna itu disebabkan oleh saya, asal anda tahu pak Tristan jikapun saya penyebabnya Saya tidak peduli, tolong sampaikan ucapan saya ini kepada bos anda!", Mutia bahkan sampai menunjukkan jari telunjuknya ke dada Tristan.


Mutia langsung bergegas meninggalkan Tristan dan bergabung dengan pak Jodi dan yang lainnya.


" Hemm.... maaf bu Mutia jika saya terus berbuat begini, serba salah memang jadi bawahan, harus mengurusi masalah bos bahkan hingga masalah pribadi dan tidak bisa menyalahkan lagi, padahal aku tahu disini yang salah ya si bos dan keluarganya, sudah semena mena sama orang biasa... tahu kan akibatnya, sibos sok sok an sih", Gumam Tristan yang masih mengamati Mutia dari tempatnya berdiri sekarang.


" Bu Mutia, kita semua berencana sepulang dari sini kita akan menjenguk pak Arjuna di rumah sakit apakah anda bersedia ikut?", tanya Pak Jodi memastikan pada Mutia.


" Maaf pak saya tidak bisa ikut karena saya akan menjemput putra saya", jawab Mutia dengan tegas dan Pak Jodi pun langsung tahu dan memakluminya.

__ADS_1


" Tidak apaapa mbak Mutia, saya tahu kok, sudah cukup kehadiran saya mewakili perusahaan, tapi tolong carikan kue atau sesuatu dulu ya sebelum kami kesana, maaf saya minta tolong", Ujar pak Jodi merasa tidak enak.


" Tidak masalah pak, akan saya bantu mencarikan cake dan juga buah", Mutia menyetujui permohonan pak Jodi.


" Terima kasih mbak ".


" Sama sama pak, jika begitusaya siapkan dari sekarang pak, saya permisi", Mutia segera meninggalkan ak Jodi dan juga rekan yang lain.


" Pak tolong antarkan saya ketoko kue dan toko buah ya", Mutia mengajak sopur kantor untuk mengantarkannya ke toko kue.


" Baik bu!".


Setelah perjalan 10 menit merdka berhenti di toko buah, Mutia memilih beberapa macam buah untuk dijadikan parcel.


" Mas tolong timbang ya terus hitung semua dan dibungkus parcel ", Mutia menyerahkan keranhang yang sudah berisi bermacammacam buah untuk isian parcel.


" Baik bu", Pegawai toko langsung membuat parcel sesuai keinginan Mutia dan Mutia langsung membayarnya tidak lupa di parcel itu juga di tuliskan sebait kata supaya lekas sembuh.


Kemudian Mutia menuju toko kue disana secara acak Mutia memilih kue yang sama persis dengan pilihan Luna kemarin namun Mutia juga mengambil kue kering berupa kue bagelen, kue sagu dan juga aneka keripik.


" Mbak tolong kue keringnya di masukkan box seperti parcel ya", Ujar Mutia, berfikir jika biar terlihat lebih indah karena akan diberikan oleh pemilik proyek terbesar tematnya bekerja.


-


-

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2