
" Hiks hiks.... Maaa... Hiks .... jika aku mati saja... apakah Aini bisa memaafkan ku, apa Tuhan juga mengampuniku maaa... Apakah Hilmy bisa menyebutku Ayah?", Arjuna tiba tiba saja kejang dan merasakan dadanya sesak setelah mengucap demikian, saking frustasinya.
" Tolong panggilkan dokter Lun".
" Nak, tenangkan dirimu.... Mama akan berdoa supaya Aini mau memaafkan dan menerima kamu, jangan seperti ini... tenang lah... hiks hiks... Arjuna... Ayo lah nak .. kita sama sama berjuang agar supaya Aini dan Hilmy menjadi milikmu", Bu Aryanti tergugu dan panik mrlihat Arjuna yang mengalami kondisi seperti itu.
Luna memencet tombol dan juga ikutan panik, dalam kondisi kesehatan Arjuna yang seperti ini seharusnya dirinya tidak mengajak bicara yang berat berat, tetapi Luna tidak bisa menahan kekecewaannya yang sudah lama terpendam dihatinya.
" Arjuna... tenang ya .. tenangkan dirimu... nanti Luna bantu untuk membujuk Aini untuk bisa memaafkan mu", Luna mengusap lengan Arjuna lembut.
" Selamat sore!, Pak Arjuna kenapa lagi?", Dokter dan suster masuk kedalam ruang inap Arjuna dengan tergopoh.
" Pak Arjuna... Pak!", Dokter memanggil Arjuna dengan mengguncang badannya.
" Pak ... bapak bisa dengar duara saya?", Tanya dokter. Arjuna mengangguk.
" Kalau begitu bapak tenangkan hati dan perasaan bapak ya, tidak boleh panik atau gelisah, percaya semua akan baik baik saja, Ok!", Arjuna mengangguk mendengar ucapan dokter.
" Tarik nafas buang pelan-pelan pak..., ", dokter mengarahkan Arjuna hingga beberapa kali dan membahas Arjuna benar-benar tenang dan boleh bahkan saat ini kondisinya terlihat lebih fresh dari pertama saat Luna datang.
" Mas, maafkan kehadiranku jika membuat kondisimu seperti saat ini", Ujar Luna tak enak hati.
" Tidak Lun, kehadiranmu justru membantuku untuk lebih kuat menghadapi semua kesalahanku", Arjuna tersenyum tipis pada Luna.
" kalau gitu aku pamit dulu ya itu aku bawain cake kesukaan kamu, gantian biar Mas Aldi yang ke sini aku nunggu anak-anak di mobil", Ujar Luna.
__ADS_1
" Oh ya".
" Luna pamit dulu ya ma".
" Ya, terima kasih sudah menjenguk Arjuna".
" iya ma sama sama, Assalamualaikum".Luna kemudian pergi meninggalkan kamar inap tersebut.
" Mas gantian dirimu yang menjenguk Mas Arjuna", Ujar Luna ketika sudah sampai di mana suami dan kedua anaknya menunggu.
" Memang nggak boleh masuk bawa anak-anak ya mah?", tanya apa yang tidak tega meninggalkan kedua anaknya beserta istrinya di lobby tempat menunggu.
" Demi keamanan dan kesehatan sebaiknya memang anak-anak menunggu di sini saja pa", jawab Luna, nanti pun kemudian bergegas menuju kamar inap Arjuna.
" Assalamualaikum", siapa Aldi ketika memasuki ruang inap Arjuna.
" Alhamdulillah sehat tante, Apa kabar tante dan om?", siapa balik Aldi ramah padaku Aryanti.
" Alhamdulillah kami semua juga sehat kecuali Arjuna nih, semoga dia juga lekas sembuh dijenguk Luna lihat deh sekarang sudah jauh lebih baik", ujarku Aryanti seraya terkekeh.
" jadi ceritanya sakitnya Arjuna karena rindu sama Luna istriku Tan?", tanya Aldi bernada candaan.
" Sedikit nggak banyak-banyak kok tenang aja", jawab Bu Aryanti kembali terkekeh sementara itu Arjuna yang tengahmemejamkan mata perlahan membuka mata karena mendengar suara yang sangat pemelihara di telinganya.
" Haiii.... Bro! apa kabar, sakit ya", siapa arti dengan menggoda Arjuna yang tengah terbaring lemas di atas tempat tidur.
__ADS_1
" Sudah tahu nanya kabar gue sakit makanya lu ke sini buat jenguk gue kan? Wah kamu makin terlihat tampan saja dan gagah setelah menikah dengan kekasihku", artinya terkekeh lebar begitupun dengan abu dan Bu Aryanti.
" Kekasihmu itu sekarang menjadi ibu dari anak-anakku bro, Aku kira kamu sudah nambah anak, eehh nggak tahunya malah terbaring kayak begini jangan dianggurin tuh Kania", Aldi kembali melontarkan sindiran bernada candaan.
" Hemmm..... sepertinya jodoh kita tertukar bro seharusnya aku menyadari hal itu semenjak hari itu seperti halnya dirimu", cara Arjuna dengan tertawa kecut.
" kamu salah! jika bukan takdir seharusnya saat ini aku bahagia bersama istriku yang aku pilih sendiri Jun", hari ini Aldi yang tersenyum kecut.
" Jadi benar yang diperkirakan Luna bahwa kamu sebenarnya mencintai Aini?", Arjuna melotot padah Aldi.
" Siapa juga yang nggak jatuh cinta sama gadis lugu, sederhana, pintar, baik hati, lemah lembut, cantik, tidak neko-neko, solehah lagi, cuma kamu yang menolaknya Jun".
" hahaha..... kamu nggak tahu saja Di, dia lebih jatuh dari kamu, karena gadis baik itu dia sampai depresi selama 5 tahun ini, tapi ya begitulah akibat kesombongan nya dia harus membayar mahal sekarang, seorang Kania yang baik dan juga cantik tidak bisa menggantikan nama Aini di hati Arjuna", Bu Aryanti pun terkekeh namun bukan senyuman bahagia melainkan sebuah senyuman syarat akan keprihatinan.
Aldi yang Mendengar pun akhirnya terdiam ditatapnya lekat-lekat sahabatnya itu.
" Gimana rasanya mencintai tapi tidak memiliki? dan kamu katanya dulu tidak akan pernah menikah lagi kecuali dengan Luna, salah sendiri mengingkari ucapan dan sumpah serapahmu sendiri Jun, kamu malah menikahi Kania, kalau aku boleh saran mending kamu pisah aja sama Kania maaf maaf ya dosa sih sebenarnya menyarankan untuk berpisah tapi apakah kamu bisa menjadi suami seutuhnya pada Kania jika kamu masih punya ganjalan dengan Aini?", Aldi memang selalu menyampaikan segala sesuatu dengan terbuka pada Arjuna, tidak pernah bertele tele.
" Apakah kamu masih berhubungan dengannya Di?", tanya Bu Aryanti dengan suara lirih berharap Aldi bisa menjawab sesuai harapannya.
" Saya menikahi dia selama 1 tahun tan, karena saya tahu dia menyembunyikan kehamilannya dari Arjuna, sebenarnya Luna tidak pernah meminta ku untuk menceraikan Aini, tetapi Aini setelah bayi itu lahir dia memintaku untuk menceraikannya, jujur saat itu aku sempat dilema, tetapi Luna adalah ibu dari anakku meskipun pada kenyataannya Aku mencintai Aini Jun, tapi aku harus memilih Karena tidak mau menyakiti hati keduanya Aku sempet down rasanya separuhnya jiwaku hilang, tetapi aku tidak boleh egois Aku harus memupuk cintaku untuk Luna, Ibu dari anakku dan aku berharap Aini dapat pengganti aku laki laki yang baik dan bertanggung jawab, tapi aku sedih, Jujur aku tadi sempat bertemu dengannya dan nyatanya dia belum menemukan pengganti diriku rasanya aku mau menjerit Jun, Aku ingin merengkuhnya aku tidak tega Jun, kamu tahu dia hamil sendirian sementara aku jauh dia melahirkan sendirian dan keadaannya serba kekurangan, kesombonganmu benar benar menghancurkan hidupnya Jun ", Aldi tergugu, bukan hanya Aldi bahkan tante dan Arjuna juga ikut terisak.
" Kamu hanya memikirkan perasaan kamu sendiri, kamu manjaan hatimu hingga depresi, terus apa kabar Aini yang hamil dan melahirkan dengan keadaan yang serba terbatas??", Suara Aldi memenuhi ruangan itu karena bernada tinggi, rasa kecewa pada sahabatnya itu membuat Aldi yang baik pada akhirnya tidak bisa menahan kemarahannya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.....