PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Malam penuh bayangan


__ADS_3

Semenjak acara itu Mutia merasa enggan melanjutkan proyeknya padahal sebelumnya Dia sangat menggebu-gebu ingin sekali berada dan terlibat dengan pembangunan sekolah yang diperuntukkan untuk kaum disabilitas tersebut.


Ada rasa takut yang luar biasa yang membebani hati dan pikirannya. sesekali Mutia menatap putranya yang terlihat begitu tampan yang memiliki mata indah nya itu.


Mutia tak sanggup jika kelak suatu hari anak itu lepas dari pandangannya, dari dekapan nya, dari perhatiannya.


Mutia tidak ingin bocah itu selangkah pun meninggalkan dirinya, apapun akan ia lakukan meskipun hidupnya hanya pas-pasan hidup berdua dengan sang putra adalah suatu anugerah.


Dia pernah membenci, namun keadaan yang tidak berpihak hingga sebenci apapun rasa dalam hatinya hanya bisa ia pendam dalam-dalam kemudian dihempaskan dibuang jauh dari dasar hatinya, mungkin itu manusiawi bagi sebagian orang tapi saat itu memang benar-benar menghancurkan perasaan Mutia bagai kan kehilangan semuanya dalam hidup.


Anugerah terindah bagi Mutia saat itu, ketika keluarga Bu Meri melalui putrinya Winda yang seorang dokter kandungan tempat pemeriksaan waktu itu yang menyembunyikan kehamilannya atas permintaan dari Tante Mary.


Saat itu adalah saat-saat terpahit dalam hidup Mutia, Untung saja ada tante Mery yang sangat baik hati, yang membantunya dari hal kecil hingga biaya kuliah dan yang lebih membuatnya haru dan Temari melindungi dirinya mencarikan tempat kos sehingga Mutia masih bisa melanjutkan kuliah tanpa berhenti sama sekali meskipun dalam kondisi hamil dan bahkan sampai melahirkan.


" Nak, kamulah harta satu-satunya yang Bunda miliki, lihat dalam hidup Bunda tak ada saudara tak ada orang tua, tad ada warisan apapun, hidup kita mengontrak di rumah petak seperti ini Tapi Bunda sangat bahagia karena memilikimu", Bisik Mutia pada putranya yang tengah terlelap.


" ya Allah.... jaga kami jangan sampai Pak Arjuna mengetahui jati diri kami, tolong lindungi kami Ya Tuhan Ya Allah... cukupkan kebahagiaan hamba seperti ini saja dengan anak hamba, hamba tidak sanggup jika keluarga kaya raya itu mengetahui jati diri kami dan mengambil Hilmi dari genggaman tangan hamba subuh hamba tak sanggup ya Allah...", isakan lirih Mutia seakan menyayat hati paling dalam, rasa takutnya melebihi ketakutannya hari itu saat dinyatakan hamil dan tidak ada seorang lelaki yang bisa melindunginya, bahkan melebihi harus melahirkan seorang diri.


Mutia benar-benar ketakutan, khawatir Arjun akan mengetahui semuanya dan akan mengambil buah hatinya.

__ADS_1


" jika perlu nyawa Bunda akan pertaruhkan sampai titik darah penghabisan demi mempertahankan mu Nak, Bunda tidak peduli jika mereka yang punya uang banyak memakai segala cara untuk merebutmu dari tangan Bunda, Bunda rela mati karenamu, hiks!", dengan lembut Mutia mengusap rambut tebal yang sedikit berwarna kemerahan dan terasa lembut, rambut sangputra yang begitu halus dan mengkilap.


" Yah besok Bunda akan mengajukan pengunduran diri dari proyek itu, jika tidak diijinkan Bunda mau resign saja, lebih baik kita kembali menjauh dari.....", Mutia tidak melanjutkan ucapannya, bingung akan menyebut Arjuna itu siapa bagi Hilmi.


Hingga malam kian larut Mutia masih saja berjaga-jaga kan matanya tidak mau dipejamkan kepalanya pun hingga terasa pusing karena rasa takutnya yang berlebihan jika kehilangan sang putra satu-satunya.


" Awas aja jika Pak Arjuna berani mengambil Hilmi dari tanganku, maka aku akan bunuh diri di depan matanya dan nanti arwahku akan menghantui nya", ujar Mutia dengan serigala seakan menemukan ide licik agar Arjuna mengurungkan niatnya jika suatu hari nanti bermaksud merebut putranya, meskipun ucapannya tadi bernada ancaman tapi sungguh itu hanya untuk menenangkan hatinya agar segera terlelap karena sejatinya Mutia bukan orang seperti itu.


Sementara itu di tempat lain, di atas pembaringan Megah, kasur yang besar dan luas serta empuk, dengan aroma kamar yang wangi, bersih serta rapih di sanalah Arjuna berbaring seorang diri matanya menerawang menatap langit-langit, bagi Arjuna sudah biasa semenjak kejadian itu malam-malam panjang tanpa mata terpejam itu hal yang lumrah dia alami.


Namun kali ini, berbeda hal yang menjadi pikirannya jika kemarin Arjuna merasakan rasa bersalah yang teramat sangat hingga membuatnya susah tidur badan panas serta gatal-gatal karena efek dari stres tinggi membuatnya susah untuk tidur, dan bukan hanya itu saja jika matanya terpejam di tengah malam Arjuna selalu membayangkan hal yang sangat buruk


Hingga Bu Yanti dan Pak Abdul Muis mencarikan dokter-dokter terbaik untuk menenangkan sang putra hingga dua tahun berlalu keadaan Arjuna saat itu seperti itu parahnya.


Namun kemudian dia dipertemukan dengan Kania, kondisikan ingat persis seperti saat Arjuna memejamkan mata dan membayangkan Aini.


Saat itu Kania tengah menangis histeris di pinggir jembatan, niat Arjuna hanya menolong tidak sedikitpun ataupun mengenali jika wanita yang tengah menangis di pinggir jembatan itu adalah temannya semasa SLTA dulu.


Bahkan hingga Arjuna membawakannya ke rumah sakit Arjuna pun tetap tidak mengenali Kania, sebenarnya saat itu dia seperti sedang menyelamatkan Aini, bayangan yang selalu mampir di sepanjang malam nya ketika dia menutup mata.

__ADS_1


Barulah setelah 2 hari dan kondisi Kania saat itu sudah mulai membaik bisa diajak bicara Arjuna baru ingat sesuatu seperti pernah mengenali wanita yang dia tolong ini.


Begitupun dengan Kania sendiri dia sempat ragu apakah lelaki yang menolong dirinya adalah teman SMA nya yang dulu begitu lengket dengan adik kelasnya Luna.


Dan ternyata benar setelah Kania bisa diajak komunikasi barulah Arjuna sadar jika wanita yang ia tolong adalah sahabatnya ketika di bangku SLTA.


Meskipun satu kelas tapi Arjuna melupakannya Karena saat itu Arjuna tidak pernah melihat secara intens pada teman-teman perempuannya karena bagi Arjuna perhatiannya 100% hanya untuk Luna.


Dan dari sanalah Arjuna tahu apa yang tengah terjadi pada sahabatnya itu, teman satu kelas yang lumayan dia kenal namun perpisahannya yang lebih dari 9 tahun ternyata tidak menyisakan ingatan tentang wajah mereka masing-masing.


Di mata Arjuna saat bertemu Kanya itu kusut kurus pucat sedikit kucel dan acak-acakan terlihat jelas jika kondisi kejiwaan Kania sedang berada di level terbawah saat itu.


Dan di mata Kania saat ini Arjuna jauh lebih tampan dari saat dulu dia mengenalnya di SMA. Arjuna saat ini ini ini terlihat lebih dewasa, badannya lebih berisi sedikit namun terlihat rajin berolahraga, dimata Kania Arjuna saat ini sangat-sangat tampan dengan badan yang tinggi bertubuh atletis rambut berwarna emas kecoklatan yang lurus dan rapi menambah kesan perlente yang paripurna.


-


-


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2