
Setelah selesai acara seluruh keluarga yang sudah dipesankan kamar oleh Arjuna Mereka pun menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Begitupun dengan sepasang pengantin namun Mutia terlebih dahulu mendekat kearah Bu Meri yang hendak menuju kamarnya.
" ibu, terima kasih, Terima kasih untuk hari ini untuk hari hari sebelumnya untuk semuanya ", ujar Mutia dengan sedikit duduk bersimpuh di depan kursi roda Bu Meri.
" Mutia, tidak ada seorang ibu yang tidak berkurban untuk anaknya, sedangkan ibu tidak berkorban apapun untukmu, Ibu menyayangimu dari pertama kita kenal karena kamu berhak disayangi, Ibu hanya berharap mudah-mudahan kamu selalu bahagia bersama keluargamu, semoga Allah selalu melindungi keluargamu dan meridhoi semuanya", Bu Meri membelai lembut kepala Mutia.
" Sudah Mas Arjuna sana bawa istrinya ke kamar biar istirahat kalian pasti capek, Ibu juga sangat capek mau istirahat dulu", kemudian Rosemary dan suaminya pun bergegas menuju kamarnya.
" Selamat istirahat ibu bapak", ujar Mutia melambaikan tangan kepada pemerintah dan suaminya.
" Jangan risau, kamu tahu omanya Hilmi itu terlihat hari ini orang yang paling bahagia melihat pernikahan kita, mungkin dia sangat tenang ketika menyerahkan dirimu kepadaku", ujar Arjuna seraya merengkuh punggung istrinya menuntunnya menuju ke kamar.
" Apa Ayah saya yakin itu? karena dulu Ibu adalah orang yang paling menudung aku supaya menghindar dari mu ketika ayah menolakku", Mutia mengenang waktu awal-awal perpisahannya dulu dengan Aldi dan Arjuna sangat-sangat tidak menginginkan dirinya.
Mendengar ucapan Mutia Arjuna hanya diam dan mempercepat langkahnya untuk membuka pintu kamar mereka.
Kini mereka sudah sama-sama berada di dalam kamar, rasa canggung langsung menghampiri Mutia.
" Aku mau cari Hilmi dulu, tadi lupa belum aku pamitin", konser Mutia ki ku ketika ia hendak mau ganti bajunya namun ada rasa risih pada Arjuna, lagi terlihat pintu kamar mandi mereka terbuat dari kaca yang sangat transparan.
" Hilmi udah gede Bun, dia udah mengerti, apalagi saat ini dia ada bersama Opa dan omanya pastilah udah dikasih pengertian, sini ganti baju dulu aku bantu", ujar Arjuna mendekat kearah Mutiah dan membantu melepaskan jarum-jarum yang ada di hijab.
" Aku bisa sendiri", ucap Mutia canggung namun Arjuna tak mengindahkan sama sekali dia tetap menarik satu persatu jarum yang tertancap di hijab Mutia.
__ADS_1
" Bunda nggak akan lihat ini susah sekali di belakang kepala Bunda jika diraba raba nanti malah kena dengan tangan Bunda", ucap Arjuna terus melanjutkan aktivitasnya hingga hijab itu terlepas dari kepala Mutia.
Reflek Mutia pun langsung memakai hijab itu kembali tanpa jarum jarum untuk menutup kepalanya.
" Kenapa dipakai kembali?", tanya Arjuna heran karena Mutia begitu buru-buru menyambar hijab yang mudah terlepas tersebut.
" Bunda lupa dengan apa yang sudah Ayah lakukan tadi pagi, Ayah sudah membuat perjanjian suci untuk menjadikan Bunda mahram ku, jadi halal aku melihat rambut mu bun", ujar Arjuna seraya menarik pelan kerudung yang sudah Mutia tetapkan di atas kepalanya.
" Maaf, hanya saja rasanya masih sedikit risih, belum terbiasa", jawaban itu yang Mutia berikan merasa tidak enak hati dengan Juna.
Arjuna malah mendekat kearah Mutia dan menatap Mutia intens, Mutiapun membalas tatapan Arjuna namun akhirnya menyerah karena tatapan Arjuna terasa menusuk dan menakutkan, Mutia mencoba berpaling menatap kearah lain.
Arjuna meraih rahang Mutia pelan dan kembali mengarahkan tatapan Mutia padanya.
Mutia menjadi berdebar sangat hebat bahkan kakinya hampir lemas rasanya.
Tangan Arjuna terulur untuk merangkul bahu Mutia menyadari jika istrinya itu bergetar dipastikan lututnya lemas karena perbuatannya tersebut.
Nafas Mutia tersengal-sengal hutan tersebut Arjuna sama sekali tidak memberikan jeda dan terus semakin dalam.
Hingga akhirnya melepaskannya dan dia menatap kembali wajah sang istri yang nampak memerah diusapnya dengan lembut bibir Mutia yang kini lipstiknya sudah beleber kemana-mana.
" Maaf! Ayah nggak tahan Bun!", Bisik lirih Arjuna tepat ditelinga Mutia, membuat Mutia hanya tersenyum tipis menahan malu sekaligus meremang geli.
" Tolong tanyakan putra kita dimana saat ini", Ujar Mutia merasa belum tenang karena belum pamit pada putranya jika dirinya berada di kamar itu sekarang, apalagi selama ini Mutia belum pernah pisah dengan Hilmi membuat hatinya tak tenang jika tak bersama putranya.
__ADS_1
" Oke, Ayah telpon saja Ibu atau papa saja, jika Hilmy tak ada bersama mereka berarti bunda telpon mbak Winda ya, siapa tahu bersama Kenzo", Arjuna langsung menghubungi orang tuanya.
Tidak menunggu Arjuna selesai menelpon mertuanya, Mutia pun langsung berinisiatif menelpon Winda.
Dan ternyata benar, menurut penuturan Winda saat ini Hilmy tengah tertidur bersama kenzo dan dua orang lagi keponakan mereka.
" Tenang.... Nikmati hari mu bersama Arjuna mu Mutia, Hilmy aman bersama kita, dia berada dikamar bersama sepupu yang lain yang sudah lebih besar untuk menjaganya bersama Kenzo dan saat ini dia sedang boci ( bobo ciang ) ", Ujar Winda seraya mengarahkan kamera ponselnya pada Kenzo dan Hilmy yang berada diatas tempat tidur hotel tertidur sangat pulas.
" Mereka berada dikamar ini selepas kenyang menikmati hidangan tidak menunggu acara hingga selesai", Terang Winda lagi.
" Ada bersama Kenzo kan? ".
" Iya ", Jawab Mutia ketika sudah mematikan sambungan telponnya.
" Cepatlah ganti baju karena kita ditunggu papa dan ibu di cafetaria karena ada kerabat jauh yang baru datang untuk mengucapkan selamat pada kita namun terlambat ", Ujar Arjuna.
Mendengar ucapan Arjuna mutiara sedikit bimbang, pasalnya tempat untuk berganti pakaian di kamar ini tidak ada karena pintu kamar mandi yang transparan tentu membuat Mutia yang masih merasa canggung dengan ke beradaan Arjuna merasa risih.
" Oke, Ayah tahu bunda belum terbiasa dengan keberadaan ku satu kamar dengan Bunda, silahkan ganti baju di kamar mandi ayah mau tiduran di sebelah sana sehingga tidak bisa melihat langsung ke kamar mandi, tenang saja ayah tidak akan mengintip bunda", Arjuna terkekeh karena melihat wajah Mutia yang nampak panik.
" Hemm...", Mutia benar benar cangging bahkan ada rasa sedikit takut namun harus segera berganti baju dan itu membuatnya bingung saat ini.
" Ya sudah ayah keluar dulu jika bunda tidak percaya dengan ayah", Ujar Arjuna kembali karena melihat istrinya yang tidak nyaman.
Arjuna melepas jasnya dan kini hanya tinggal menyisakan kemeja dengan lengan yang langsung di gulung olehnya.
__ADS_1
" Jangan keluar, aku takut dikamar ini sendiri, ya sudah ayah tunggu disana tapi jangan ngintip, maaf aku belum terbiasa berdua dengan lelaki apalagi dikamar seperti ini", Ujar Mutia ketika Juna hendak meninggalkan kamar.
Bersambung.....