
" Hilmi Ayah mau tanya, jika ayah sama Bunda menikah dan kita hidup bersama apakah Hilmi mau??", Arjuna meraih sang putra dan mendekapnya di pangkuan seraya menanyakan hal tersebut.
Mutia langsung melotot memandang Arjuna merasa terkejut dengan pertanyaan tersebut yang dilontarkan kepada Hilmi.
" Ck", Decak Mutia dengan wajah yang menunjukkan tidak suka.
Sementara itu Hilmi manggut-manggut antusias dengan wajah sumringah serta senyum lebarnya.
" Mau?", tanya Arjuna kembali.
" Iya Ayah, Hilmi mau tapi.....", Hilmi menjawab dengan wajah yang sumringah namun sesaat kemudian dia melihat raut wajah bundanya yang nampak tengah menahan kesal sehingga senyum lebar di bibir Hilmi pun hilang dan berubah menjadi sendu kemudian menundukkan wajahnya.
" Bunda, Anak itu biasanya jujur lho, apa bunda tega memupuskan harapan putra kita?!", Arjuna kemudian menangani dan berkata kepada Mutia dengan kerlingan mata genit pada Mutia.
" Ckk.... mau maksa? jika Iya maka jawabannya tidak untuk selama-lamanya!!?", jawab Mutia dengan wajah jengah.
" Oh!!!... Ampun Bunda, bukan begitu, maaf-maaf jika pernyataan ku salah, Oke aku nggak maksa tapi aku mohon Bunda!", Ujar Arjuna mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah.
" Hilmy... Bunda harap Hilmi harus banyak berdoa ya, jika ingin memiliki seorang ayah dan kita bisa hidup bersama-sama ", ujar Mutia lembut kepada putranya.
" Ini ayah Hilmi", tunjuk Hilmi pada Arjuna.
" Maksud bunda, jika Hilmi mengijinkan Bunda menikah sebaiknya Hilmi berdoa sama Allah biar Bunda dikasih jodoh, jodoh Bunda belum tentu ayah nak", ucap Mutia kembali kepada putranya.
Mendengar perkataan Mutia seperti itu kepada Hilmi Arjuna langsung memasang wajah dingin dan melebarkan matanya pada Mutia.
" Maksud bunda apa? jodoh Bunda belum tentu ayah, jadi bunda menolak lamaranku, Bunda sudah punya kekasih?", meskipun pertanyaan itu terdengar bertubi-tubi dari bibir Arjuna namun wajah Arjuna tampak lesu dan frustasi.
" Tidak juga, tadikan bapak bilang tidak memaksa aku untuk menerima lamaran bapak, bebas dong aku mau menolak atau menerima ataupun Aku berharap orang lain yang menjadi jodohku, harus konsekuensi dong sama ucapannya sendiri", pacar Mutia Ketus.
" Ya Allah semoga ayah dan bunda bisa menjadi pengantin", Hilmi tiba-tiba merentangkan tangannya ke atas dan berdoa memohon agar ayah dan ibunya dijodohkan.
__ADS_1
Arjuna langsung tersenyum lebar mendengar anaknya berdoa seperti itu, "Aamiin ", jawab Arjuna dengan cepat mengaminkan doa sang putra.
Mutia hanya mendengus kesal tidak mengaminkan doa putarannya namun tidak juga menolak.
" Hilmi doanya tidak seperti itu nak, berikanlah Bunda jodoh yang terbaik menurut Allah yang sayang sama Bunda yang mau menerima bunda apa adanya yang sayang juga sama Hilmi, begitu!", ucap Mutia kemudian.
" Oh berarti Ayah tidak sayang sama Bunda tidak mau menerima bunda apa adanya tapi ayah sayang sama Hilmi!", jawab bocah itu dengan wajah cemberut.
" Tidak!, Ayah tidak seperti itu nak! Ayah bahkan sangat sayang sama Bunda, tapi bundanya masih sayang sama Om Irfan", sahut Arjuna kemudian tidak terima jika mau dia mengajarkan anaknya doa seperti itu.
" Betul yang dibilang Bunda Ayah, Om Irfan sayang bunda dan juga sayang Hilmi", sahut Hilmi.
" Ck .. tapi om Irfan nya dimarahin sama ayah ibunya, jadi Om Irfan nya sedih dan Bunda nangis", celoteh ini kemudian.
Mendengar ungkapan putranya seperti itu Arjuna menatap Mutia dengan intens dan sangat tajam seakan-akan menunggu klarifikasi dari Mutia tentang kebenaran cerita yang di ungkapkan oleh Hilmi.
" Apa betul cerita Hilmi barusan?", pertanyaan itu lolos dari bibir Arjuna ditujukan pada Mutia dengan tatapan tajam bahkan seperti tak berkedip.
Arjuna mengusap kasar wajahnya nafas panjang terdengar dihempas kasar dari rongga hidungnya, dirinya benar-benar frustasi bagaimana caranya menaklukan kerasnya hati Mutia.
" Nak, bisakah kamu ceritakan kejadian saat bunda menangis ketika ayah dan ibu Om Irfan marah?", tanya Arjuna mencoba mengorek kejelasan berita itu dari mulut bocah kecil di hadapannya.
" Iya Ayah waktu itu tante Jihan jadi pengantin sama Om Andre, terus Bunda Hilmi sama Om Irfan datang pulangnya om Irfan ngajak ke rumahnya orang tua Om Irfan katanya biar Hilmi kenal sama mereka Kata Om Irfan ayah sama ibu nya om Irfan itu baik tapi tidak, waktu Mereka bicara bicara begitu tahu tahu Bunda nangis terus ibunya Om Irfan bilang katanya om Irfan sama Bunda nggak boleh menikah, Karena Om Irfan udah dicariin pacar sama ibunya", cerita filme dengan menundukkan wajah dan kadang-kadang keningnya mengkerut karena mengingat-ingat kejadian waktu itu.
" Astaghfirullahaladzim, kasihan sekali Bunda, tunjukin bunda dong biar mau menikahnya sama Ayah aja jangan sama Om Irfan atau yang lainnya", Arjuna membelai lembut kepala putranya dan Hilmi yang mendengar perkataan seperti itu dari ayahnya ia pun manggut-manggut dan kemudian tersenyum lebar.
" Memangnya Ayah sayang sama Bunda? karena Bunda maunya yang jadi pengantinnya itu yang sayang sama Bunda yang sayang sama Hilmi yang mau menerima Bunda, iya kan?", celoteh bocah itu mengingat perkataan Mutia tadi.
" Ayah sayang banget sama Bunda sama Hilmi juga mau menerima bunda apa adanya Bahkan bukan cuma ayah tapi Oma sama opah juga sayang sama Bunda mau menerima Bunda tidak pakai marah-marah", ujar harjuna dengan menatap mata putranya kemudian mengedip-ngedipkan matanya tersebut agar mendapat persetujuan dari putranya.
" Tapi benar ya Ayah harus sayang sama Bunda ayah juga harus sayang sama Hilmi dan juga oma opa nggak boleh marah", sahut bocah itu kembali seakan ingin meyakinkan jika nanti opa rumahnya tidak akan marah.
__ADS_1
" Janji ", Arjuna pun mengacungkan jari kelingkingnya pada Hilmi yang disambut bocah itu dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Arjuna kemudian mereka berdua tersenyum lebar.
" Iya Hilmy mau". Bocah itu tersenyum lebar.
" Kalau begitu bujukin bunda fong suruh keluar, jangan dikamar aja", Bisik Arjuna pada Hilmy
Hilmy manggut manggut setuju kemudian menuju ke kamar bundanya
" Bun.... Bunda, bukain pintunya", Panggil Hilmy didepan pintu kamar Mutia.
" Bun...".
" Bunda kenapa didalam?", Bocah itu berbicara dengan menenpelkan badannya di pintu kamar sang bunda yang urung dibuka buka.
" Bundaaa.... ".
Ceklek
Pintu pun terbuka, menampakkan wajah Mutia yang masih cemberut.
" Bunda kenapa?", Tanya Hilmy dengan wajah takut.
" Tidak!", Jawab Mutia singkat.
" Ayo", Hilmy menarik tangan Mutia untuk menuju ruang tamu kembali.
Sesampainya di sana Mutia langsung menatap tajam Arjuna dengan sangat galak.
Sementara Arjuna menjadi salah tingkah, mau bicara takut salah.
" Bun, Maafkan Aku ya", Akhirnya kata itu yang dipilih Arjuna untuk melunakkan wajah Mutia.
__ADS_1
Bersambung.....